Edisi 24-04-2017
Membangun Impian Anak Bangsa


Masa-masa Sekolah Dasar (SD) menjadi momen para siswa sering kali mulai memiliki cita-cita. Namun, bayangan mengenai seperti apa persisnya profesi yang dicita-citakan itu dan bagaimana mewujudkannya, masih samar-samar dan belum jelas.

Sering kali pula, cita-cita berubah dari yang awalnya ingin menjadi dokter, lalu suatu hari ingin menjadi pilot. Ada juga yang dulu bercita-cita menjadi guru, kemudian ingin menjadi arsitek.

Di sisi lain, banyak juga anak bingung saat ditanya mengenai cita-citanya. Sebagian siswa bahkan tidak punya citacita dan tidak berani bermimpi karena kondisi keluarga dan lingkungan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan ternyata tidak cukup untuk mendorong anak berani bermimpi. Lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting karena cita-cita sering kali muncul karena terinspirasi pada kisah hidup orang-orang di lingkungan atau dari berbagai media. Masalahnya, tidak semua anak berkesempatan mendapatkan inspirasi itu.

Beruntunglah ada Kelas Inspirasi , yang sudah berjalan di Indonesia, termasuk di Kota Medan. Kelas Inspirasi “mengantarkan” inspirasi itu kepada para siswa-siswa SD sehingga mereka berani bermimpi, bercita-cita, sampai setinggi langit. Kelas ini bermula dari gerakan di bidang pendidikan, Indonesia Mengajar. Lewat gerakan yang dimulai tahun 2010 ini, lulusan terbaik berbagai perguruan tinggi di Indonesia direkrut, dilatih, dan dikirimkan untuk mengajar di SD di daerah pelosok Indonesia selama satu tahun. Gerakan Indonesia Mengajar tidak berhenti di situ saja. Para peserta berkeinginan untuk berkontribusi lebih besar untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun, mereka ingin melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat umum. Inilah yang selanjutnya membuahkan gerakan baru, Kelas Inspirasi. Menariknya, Kelas Inspirasi mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Para profesional pengajar dari berbagai latar belakang harus cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar di SD, pada Hari Inspirasi. Kegiatan Kelas Inspirasi yang pertama diadakan pada 25 April 2012 di 25 lokasi SD di Jakarta.

Tujuan awal dari Kelas Inspirasi adalah menjadi gerbang keterlibatan para profesional dengan realita dunia pendidikan dasar di lingkungannya, serta Indonesia pada umumnya. Para sukarelawan pengajar ini berinteraksi di kelas, berbagi cerita dan pengalaman kerja dan memberi motivasi untuk meraih cita-cita bagi para siswa. “Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Tentu ini bagian dari cita-cita untuk mencerdaskan bangsa,” kata Koordinator Kelas Inspirasi Medan, Doni Swandana, ketika berbincang dengan KORAN SINDO MEDAN , baru ini.

Kelas Inspirasi juga merupakan solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini akan membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan sekolah tempat dia berpartisipasi. Partisipasi para profesional tersebut untuk mengambil cuti sehari dan berbagi pengalamannya bersama anak-anak SD, merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan institusi. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi. Dalam Kelas Inspirasi yang digelar untuk kedua kalinya di Kota Medan pada Kamis (13/4) lalu, sedikitnya ada 160 relawan dari berbagai profesi turut berpartisipasi. Mereka menjadi “guru” selama sehari di 15 SD di Kota Medan.

Profesi mereka beragam, mulai dari seniman, pengusaha, anggota TNI, polisi, dan pengacara. Ada juga, dokter, arsitek, insinyur, dosen, jurnalis, fotografer, presenter, penyiar radio akuntan, penulis, advokat, pegawai negeri sipil (PNS), dan beragam profesi lain. Selama satu hari, para sukarelawan tersebut berbagi cerita tentang profesi mereka kepada para siswa SD. Dengan caranya masing-masing, mereka menceritakan profesi yang dijalani saat ini dan bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menduduki profesi tersebut. Kisah-kisah para sukarelawan ini diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada para siswa dari 15 SD sehingga berani merangkai mimpi dan cita-citanya.

Kehadiran langsung para profesional di kegiatan Kelas Inspirasi Medan diharapkan dapat menanamkan kesan membekas kepada para siswa SD. Kelas Inspirasi juga ditargetkan mampu membangun empat nilai luhur yang kelak akan menjadi pegangan utama anak-anak tersebut dalam mencapai cita-cita mereka. “Keempat nilai luhur yang diharapkan itu, yaitu Kejujuran, Pantang Menyerah, Kerja Keras dan Kemandirian,” paparnya. Doni mengatakan, sebelum mengajar di Kelas Inspirasi, para profesional yang menjadi sukarelawan juga dibekali dasardasar mengajar di sekolah, manajemen kelas dan penyusunan lesson plan .

Kelas Inspirasi dilaksanakan dengan memegang teguh tujuh prinsip dasar, yakni suka rela, bebas kepentingan, bebas biaya, terlibat langsung, siap belajar, siap bersilaturahmi, dan tulus. Diharapkan dengan kegiatan ini menjadi gerbang awal yang mengantarkan para profesional bersama pemerintah daerah terlibat langsung dalam mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan di Kota Medan. Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Medan (Unimed) Mutsyuhito Solin mengatakan, Kelas Inspirasi merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi murid SD dengan cara mengundang profesional berbagi cerita tentang profesi.

Menurutnya, kehadiran para profesional ini di sekolah akan membuat anakanak termotivasi untuk bercita-cita lebih tinggi dan meningkatkan semangat mereka agar tetap bersekolah. “Apalagi profesional di sini menggunakan atribut yang menandakan profesinya dalam mengajar. Lalu dengan bahasa persuasif yang mudah dipahami anak-anak, pengajar membagikan pengalamannya menjadi profesi tersebut agar anak-anak tertarik untuk memiliki cita-cita. Ini sangat baik untuk membangun impian anak bangsa,” paparnya.

Namun, kegiatan sosial seperti ini perlu memiliki dampak pada pelaku maupun objek sosialnya. Objek sosial tidak hanya siswa, tetapi juga khalayak umum. Refleksi ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dari fenomena yang ditemukan di SD. Sebagai bagian dari usaha memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, Kelas Inspirasi mencoba untuk mendapatkan gambaran nyata di lapangan, kondisi pendidikan, dan tanggapannya dari relawan.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan terbuka pandangan lain tentang pendidikan di daerah. Sukarelawan pengajar tidak hanya menjadi pengamat di luar garis lapangan, tetapi mengambil sekecil apapun peran dalam perubahan. Bersama-sama satu visi untuk mengembangkan pendidikan Indonesia lebih baik lagi,” paparnya. Orang tua siswa yang mengikuti Kelas Inspirasi, Saiful Umar, 37, mengatakan, Kelas Inspirasi sangat berguna bagi siswa-siswa SD. Anakanak tersebut bisa melihat langsung orang-orang yang telah sukses dalam kariernya mengajar di depan mereka. Secara langsung, mereka akan menjadi inspirator bagi para siswa untuk bisa menggapai mimpi.

“Anak saya sendiri sudah ikut program ini. Dia banyak cerita soal guru inspiratornya yang seorang pengacara. Jadi dia sekarang terinspirasi untuk menjadi pengacara,” katanya. Siswa kelas enam SD Adhyaksa Jalan HM Said Medan, Ardi Arya, mengaku sangat senang mendapat kesempatan diajari tenaga pengajar dari Kelas Inspirasi, selain wali kelasnya. Dia dan teman-temannya terkadang merasa jenuh dengan kegiatan belajar-mengajar di kelas. “Kadang-kadang bosan juga om. Tapi sejak ada tenaga pengajar lain (inspirator), saya senang karena lebih banyak ketawa dan humornya. Cuma sampai saat ini belum ada inspirator yang masuk ke kelas dari wartawan. Katanya kerja wartawan itu enak dan seru. Saya maunya ada inspirator dari wartawan yang masuk ke kelas,” tutur Arya didampingi orang tuanya, kemarin.

Siswi kelas 6 SD Negeri 060834 di Jalan Ayahanda Medan Petisah, Sekar Erlangga, sangat menikmati kegiatan Kelas Inspirasi. Menurut dia, cara inspirator mengajar ternyata asyik. Mereka berbagi cerita dan pengalaman tentang profesinya. Karena itu, dia berharap Kelas Inspirasi bisa dilakukan sepekan sekali. “Mendengar cerita para inspirator ternyata mengasyikkan. Mungkin suatu saat saya bisa berprofesi seperti mereka. Pokoknya asyiklah kalau inspirator masuk ke kelas. Kalau wali kelas yang ngajar lama-lama jenuh juga. Kalau saya maunya sihsepekan sekali saja Kelas Inspirasi itu,” ungkap Sekar.

Panggabean hasibuan/ dody ferdiansyah