Edisi 21-04-2017
Akibat Pemberian ASI Tak Maksimal


Riset terkini dengan dukungan Alive & Thrive pada 2015 mengukur beban ekonomi pemberian ASI yang tidak optimal di tujuh negara Asia Tenggara, di antaranya Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Hasil studi menunjukkan, investasi dan program yang mendukung para ibu menyusui akan menyelamatkan jiwa dan memberikan hasil investasi yang tinggi. Berikut fakta lainnya:

1. Rentan Terserang Penyakit Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih mudah terserang diare dan pneumonia. Dengan menyusui, 50% kematian anak di bawah 2 tahun akibat kedua penyakit itu dapat dicegah. Bila 90% ibu menyusui bayinya selama 2 tahun, 10% dari kematian ibu akibat kanker payudara di ketujuh negara itu dapat dicegah setiap tahunnya.

2. Biaya Pengobatan Dapat Dipangkas Pemberian ASI optimal mencegah diare dan pneumonia sehingga negara dapat menghemat lebih dari USD293 juta dari biaya perawatan kesehatan tahunan di ketujuh negara tersebut. Di Indonesia, biaya yang dapat dihemat mencapai hampir USD256.420.000.

3. Kerugian Kognitif Hilangkan Pendapatan Menyusui tidak maksimal berdampak pada kemampuan anak untuk belajar karena berpengaruh terhadap potensi mereka untuk memperoleh penghasilan yang optimal pada masa depan. Lebih dari 80% kerugian ini terjadi di Indonesia, hampir USD1.343.700.000.

4. Produktivitas Menurun Saat anak terserang penyakit akibat tidak maksimalnya pemberian ASI, orang tua menanggung biaya berobat ke fasilitas kesehatan. Studi di Indonesia dan Timor Leste mengindikasikan kehilangan waktu kerja dan biaya transportasi yang ditanggung keluarga mencapai 25% dari biaya pengobatan diare dan pneumonia.

5. Biaya Pembelian Susu Formula Tinggi Biaya membeli susu formula bayi menyedot pendapatan keluarga. Di Indonesia, 13,8% dari penghasilan bulanan seseorang habis digunakan untuk membeli susu formula merek menengah untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan.

(sri noviarni)