Edisi 20-03-2017
Imunitas Menurun karena Kurang Tidur


PENELITIAN menemukan fakta bahwa tidur merupakan salah satu upaya terbaik dalam mencegah penyakit. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko terserang penyakit, sepertu flu.

Mungkin fakta tersebut telah kita ketahui sebelumnya. Namun, Nathaniel Watson, seorang neurologist dan sleep specialist dari University of Washington School of Medicine, menjelaskan alasannya. Kurang istirahat dapat menutup proses genetik yang spesifik dalam sel. Hal ini mengakibatkan sistem imunitas tubuh bertanggung jawab terhadap perlawanan infeksi dan penyakit, sebut saja flu hingga penyakit kronis. “Sistem imunitas (daya tahan tubuh) tidak berfungsi sebagaimana harusnya apabila waktu tidur berkurang,” ujar Watson dikutip dari laman Huffingtonpost.

Temuan ini pertama kali disadari Watson dan koleganya terhadap apa yang terjadi pada sistem imun DNA ketika tubuh tidak tercukupi kebutuhan tidurnya. “Ini adalah bukti lebih jauh bagaimana pentingnya tidur terhadap kesehatan dan fisiologi manusia,” ujar Watson. Peneliti melibatkan 11 pasang kembar identik untuk penelitian ini. Salah satu pasangan kembar itu melaporkan, setiap malam dapat tidur setidaknya tujuh jam. Sementara kembaran yang lain tidur hanya enam jam atau satu jam lebih pendek semalam.

Kembar identik memang responden terbaik untuk mendapatkan perbandingan. Pola tidur kembar identik ini membantu peneliti menemukan fakta bahwa kebutuhan tidur tiap orang berbeda. Setiap partisipan dalam penelitian ini memakai alat track untuk memonitor pergerakan dan tidur mereka. Salah satu kembaran diminta tidur satu jam lebih pendek daripada kembaran yang lain. Peneliti mengambil sampel darah responden pada akhir penelitian. Dari situ terungkap bahwa kembaran yang tidur lebih pendek ternyata sistem imunnya kurang aktif ketimbang kembaran yang dapat tidur cukup.

Mereka yang tidur lebih pendek juga memproduksi lebih sedikit protein, molekul yang diproses tubuh. “Untuk partisipan yang tidur lebih pendek, sistem imunitas tubuhnya lebih rendah, ini akan membuat mereka berisiko tinggi terserang penyakit,” ujar Watson. Untuk mengontrol faktor potensial lain yang dapat memengaruhi kebutuhan tidur dan kesehatan imunitas, peneliti tidak melibatkan orang yang terkena diabetes, depresi, atau kondisi kesehatan kejiwaan lainnya, termasuk orang yang mengalami gangguan tidur.

Partisipan juga bukan pekerja shift, perokok, juga bukan pengguna narkoba dan peminum alkohol. Tidur yang berkualitas dengan kuantitas yang cukup adalah elemen penting dalam kesehatan manusia. “Selain risiko terkena infeksi, ada banyak alasan lain kenapa tidak cukup tidur dapat merusak kesehatan,” katanya. Menurunkan performa sepanjang hari, depresi, hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan mudah marah merupakan beberapa isu terkait kurang tidur.

Penelitian lain juga menemukan, individu yang tidur lima jam, bahkan kurang setiap malamnya, 17% lebih berisiko terkena flu dan 51% terserang infeksi (seperti flu atau pneumonia) dibanding orang yang tidur tujuh jam dalam semalam. “Tidur memainkan peran penting dalam menjaga dan mengatur efisiensi sistem imunitas,” ujar ketua peneliti Aric Prather, yang juga asisten profesor psikiatri dan associate director di Center for Health and Community di University of California, San Francisco, AS.

Peneliti menggunakan data survei dari 22.726 orang dewasa yang berpartisipasi dalam The National Health and Nutrition Examination Surveys antara tahun 2005 dan 2012 untuk membandingkan partisipan yang melaporkan pribadi terkait durasi tidur mereka, terlepas dari apakah mereka menderita sakit kepala atau infeksi (seperti flu, pneumonia, atau infeksi telinga) dalam 30 hari belakangan. Data menunjukkan, individu yang melaporkan tidur hanya lima jam, bahkan kurang pada malam hari, 17% di antaranya mengalami keluhan di dada dan 51% melaporkan terkena infeksi, dibandingkan mereka yang tidur 7-8 jam pada malam hari.

Data juga menunjukkan, individu yang didiagnosis mengalami gangguan tidur 18% di antaranya menderita flu dalam 30 hari ke belakang dan 88% menderita infeksi dibandingkan individu yang tidak mengalami gangguan tidur. Individu yang punya gangguan tidur ini juga melaporkan lebih sering sakit. Kesimpulan dari penelitian ini, tidur haruslah menjadi bagian dari ukuran medis dalam kunjungan pasien ke dokter, sama halnya dengan tekanan darah dan berat badan.

“Tidur adalah sumber kesehatan. Kesehatan kita bergantung pada tidur,” pungkas Prather.

Sri noviarni