Edisi 11-01-2017
Bahaya Migrain pada Anak


Jika Anda pernah mengeluhkan sakit kepala sebelah atau migrain, pasti Anda tahu bagaimana penderitaannya dan rasa sakit yang tanpa henti, diselingi mual dan kepekaan terhadap cahaya dapat membu - at Anda merasa sangat menderita.

Sekarang bayangkan bagaimana rasanya jika seorang anak terkena migrain. Untuk anak-anak, migrain bisa begitu parah sehingga bisa memengaruhi kinerja belajar, kinerja atletik, gerak tubuh, dan memengaruhi kualitas persahabatan dengan teman-temannya. Sekarang para orang tua lebih baik mencari tahu apakah anak rentan terhadap migrain atau tidak, dengan mempelajari gejala dan berbagai petunjuk. Migrain bukanlah sakit kepala berdenyut biasa.

Dengan mempelajari berbagai gejala migrain, dengan begitu para orang tua akan membantu anakanaknya sehingga si anak merasa lebih baik dalam waktu singkat. Sekitar 10 persen anak-anak antara usia 5 dan 15 tahun menderita migrain. Sebelum pubertas, itu terlihat di sekitar jumlah yang sama dari anak laki-laki dan perempuan, tapi setelah itu lebih tinggi pada anak perempuan karena adanya faktor kenaikan estrogen.

Bahkan, sekitar 50 persen anak perempuan akan mengalami migrain beberapa hari sebelum atau pada hari pertama periode menstruasi mereka. Migrain juga telah ditemukan pada bayi yang baru berusia 18 bulan. Meskipun lebih sulit untuk mengidentifikasi, jika ada riwa - yat dalam keluarga atau orang tua adalah penderita migrain, mereka mungkin dapat mengenali tanda-tanda awal.

“Ada juga beberapa bukti bahwa jika bayi mengalami kolik, mereka lebih cenderung memiliki migrain ketika mereka semakin tua. Gejalagejala perut kolik sebenarnya manifestasi awal dari migrain,” kata Kepala Direktur Neurologi dan Pusat Sakit Kepala di Rumah Sakit Anak Cincinnati Medical Center Dr Andrew D Hershey, seperti dilansir Foxnews.com .

Ia juga mengungkapkan, meskipun ada link genetik yang kuat untuk migrain, faktor lingkungan seperti melewatkan makan atau perubahan pola tidur yang menekankan sistem saraf hipersensitif dapat berperan sehingga seseorang akhirnya terkena migrain. “Tidak seperti ketegangan sakit kepala yang dapat berkembang dari ringan sampai sedang, migrain maju dari sedang hingga berat.

Terlebih lagi, migrain pada anak-anak sering terlihat sangat berbeda dibandingkan saat mereka dewasa nantinya. Sebagai permulaan, anak-anak biasanya tidak memiliki sakit kepala berdebar, tetapi lebih dari rasa sakit yang stabil dan biasanya di kedua sisi kepala,” papar dr Hershey. Ia melanjutkan bahwa anak-anak dengan migrain cenderung mengeluhkan sensitivitas terhadap cahaya dan suara, pusing, mual, muntah, dan berkeringat.

Sekitar 10 sampai 25 persen juga akan mengalami aura, seperti pandangan kabur, lampu berkedip, dan bintik-bintik berwarna sebelum sakit kepala. Beberapa anak usia sekolah juga memiliki gejala migrain tanpa pernah memiliki sakit kepala sebelumnya. Ini adalah sindrom yang dikenal sebagai muntah siklik, yang ditandai dengan episode muntah parah tanpa alasan yang jelas.

Bisa dikatakan, gejala ini berpengaruh tidak hanya untuk anak-anak, namun sindrom muntah siklik terjadi pada semua kelompok umur. Penelitian menunjukkan bahwa sindrom muntah siklik dapat memengaruhi hampir 2 persen dari anak usia sekolah dan jumlah kasus didiagnosis pada orang dewasa cenderung meningkat.

“Dan itu ditandai dengan episode muntah selama beberapa jam yang sering memerlukan rawat inap, serta pusing dan sensitivitas terhadap cahaya. Anak-anak lain mungkin tidak terdiagnosis karena mereka memiliki ëmigrain perutí, yang menyebabkan sakit perut, biasanya tanpa demam, diare atau muntah tanpa pernah mengalami sakit kepala,” papar dr Hershey.

iman firmansyah