Edisi 20-02-2017
Kendalikan Penggunaan Antibiotik


MENURUT data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada 2014 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia yang mengakibatkan 700.000 kematian per tahun akibat bakteri resisten.

Data ini menunjukkan bahwa resistensi antimikroba memang telah menjadi masalah yang harus segera diselesaikan dan perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik. Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr Hari Paraton SpOG(K) mengatakan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi, jenis, dosis dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan penggunaan antibiotik merupakan penyebab timbulnya resistensi. Selain itu, penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik dipicu pula mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter di apotek atau warung.

“Seharusnya antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Menyimpan antibiotik cadangan di rumah, memberi antibiotik kepada keluarga, tetangga, atau teman merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. Ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik,” ujar dr Hari. Dia menuturkan bahwa tidak semua penyakit infeksi perlu ditangani dengan memberi antibiotik. Penggunaan antibiotik semata hanya untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri.

“Perlu disadari bahwa antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus,” ucap dr Hari. Sementara itu, Dokter Spesialis Konsultan Penyakit Tropis Infeksi dan Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam, RSUD dr Soetomo Prof dr Usman Hadi PhD SpPD-KPTI, menjelaskan, penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang dan beriklim tropis seperti di Indonesia.

“Antibiotik memiliki peran penting pada dunia kedokteran karena telah menyembuhkan banyak kasus infeksi. Namun, intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan, terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Selain berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga berdampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi,” papar Prof Usman. Dia menjelaskan, bakteri resisten terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan penerapan kewaspadaan standar yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. “Pada penelitian kualitas penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit di Indonesia, ditemukan 30%- 80% tidak didasarkan pada indikasi dan berdasarkan data penelitian WHO dan KPRA/PPRA tahun 2013 di enam rumah sakit pendidikan di Indonesia diidentifikasi bakteri penghasil ESBL (Extended-Spectrum Beta-Lactamase) ,” ucap Prof Usman.

Menurutnya, awalnya resistensi terjadi di tingkat rumah sakit, tetapi lambat laun juga berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (SP), Staphylococcus aureus , dan Escherichia coli. Dia juga menegaskan bahwa penggunaan antibiotik harus di bawah pengawasan dokter dan mengikuti anjuran yang tepat karena pengobatan dengan obat antibiotik harus sesuai kondisi resistensi antimikroba masingmasing pasien.

“Untuk itu, pemberian dosis yang tepat dan perlunya kepatuhan penggunaan antibiotik pada terapi pengobatan penyakit infeksi merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan agar proses penyembuhan penyakit ini tidak menyebabkan resistensi,” papar Prof Usman.

Iman firmansyah