Edisi 24-03-2017
Sekolah Gersang di Tanah Kersang


HUJAN sudah berbulan-bulan tak mengguyur Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tanah kering. Langit terang.

Hari itu tak tersiar kabar duka di Desa Lerek, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata. Tak juga berita tentang hilangnya ternak ayam atau babi. Hari yang lazim. Syukur kepada Ilahi. Namun, pada pagi dalam rangkaian hari nan cerah itu, hanya dua dari sepuluh murid kelas 2 yang hadir di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Lerek, Kecamatan Atadei. Keduanya laki-laki. Wali kelas berdiri menatap bangkubangku kecokelatan di depannya.

Tak kunjung marah. Hanya menelan ludah. Pada sela-sela tatapan maklum yang biasa diperlihatkan, ia berkata, “Mari, kalian berdua, angkat kursi masing-masing dan duduk di hadapan ibu.” Kedua murid kecil menurut. Mengangkat bangku, menaruh di satu sisi meja ibu guru. Duduk berimpitan. Bagi orang-orang yang hidup di perkotaan, seperti saya, perihal dua murid saja yang hadir dalam kelas—ditambah lagi duduk bertiga melingkari meja ibu guru—bukanlah sesuatu yang lumrah. Maka, ketika menceritakan kembali peristiwa itu ke teman-teman misalnya, bisa jadi saya akan memulai, justru dengan konjungsi pertentangan “namun”.

Seperti pembukaan pada beberapa paragraf sebelumnya. “Namun, pada pagi dalam rangkaian hari nan cerah itu ...”. Lain soal bila saya mempertanyakan kejadian di SDK Lerek itu, langsung kepada seseorang yang asli seputaran Kecamatan Atadei. Barangkali ia akan menyahut, “Ah, biasa itu.” Lantas, kenapa bisa “biasa”? Ada dua, tiga hal. Namun, lagi, marilah kita lebih dulu berangkat ke Lerek. Menumpang angkutan umum saja. Banyak belokan dan ruas jalan yang rusak. Cukup berisiko kalau tak betul-betul paham jalurnya.

Desa Lerek berada sekitar 33 kilometer dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Waktu tempuh menggunakan kendaraan umum sekitar dua jam perjalanan. Dalam sehari, tercatat cuma satu kendaraan umum yang melayani rute Lewoleba-Lerek dan sebaliknya. Kendaraan berupa bus yang tak seberapa besar itu mampu memuat hanya 30 orang. Ditambah kambing, berkarungkarung hasil bumi serta pelbagai perkakas rumah tangga di atapnya. Nyaris semua pelanggan bus menyimpan nomor telepon pengemudi bus.

Untuk berjaga-jaga bila ingin dijemput. Terlebih jika bawaan terlalu berat dipanggul sendirian hingga tepi jalan utama. Tak seperti desa-desa sekitar, sinyal telekomunikasi di Desa Lerek cenderung “kembang kempis”. Bahkan, lebih banyak kempisnya. Jadi, mau seberat apa pun bawaan, tetap harus diangkut sendiri ke jalan utama desa, atau pemberhentian terakhir bus. Di Desa Lerek, pasokan air bersih begitu tipis. Mata air terdekat, yang berada sekitar satu kilometer dari desa, pelanpelan mengering. Keadaan semakin parah saat hujan tak kunjung turun.

Di rumah Celestina Roma, seorang warga Desa Lerek, selalu saja ada tumpukan pakaian kotor. Bisa sampai seminggu tak dicuci. Termasuk seragam sekolah kedua anaknya. Seragam mereka gampang kotor lantaran sering dipakai memanjat pohon di kebun-kebun seusai jam bersekolah. Kadang-kadang kalau seragam masih tampak kotor karena belum dicuci, anak-anak jadi enggan bersekolah. Entah memang itu alasannya, atau sesungguhnya ingin bermain di kebun seharian.

Celestina tak punya kendaraan pribadi. Jika ingin - bukan harus - mencuci, ia akan meminta seorang anaknya mengemasi pakaian kotor, lalu menumpang sepeda motor tetangga hingga mata air yang debitnya masih memungkinkan. Berhubung menumpang, waktu-waktu mencuci, ya mengikuti kurun tetangga. Bisa akhir pekan, atau pagi saat hari-hari bersekolah. Jadilah anak-anaknya membolos. Demi mencuci, menjemur, menunggui pakaian, hingga mengemas kembali untuk kemudian pulang. Lalu malam datang. Para tetangga mulai berdatangan ke rumah Celestina.

Sebagian besar seumuran pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Mereka mengatur tempat duduk sedemikian rupa, hingga mirip bangkubangku dalam bioskop. Semua mata lekas berfokus pada televisi. Bersama-sama menyambut acara yang ditunggu-tunggu: sinetron. Di hadapan layar televisi, duduk pula anakanak Celestina. Anak yang bungsu masih berusia 10 tahun. Seperti para tetangga, ia pun tertawa menyaksikan percakapan antara dua aktor dewasa di layar. Entah sudah atau belum saatnya mengetahui.

Entah sudah atau belum mengerjakan tugas-tugas sekolah. Cahaya layar televisi sudah lenyap. Mari kita pulang. Menumpang satu-satunya bus itu. Saya duduk di bangku paling belakang. Hendak melamunkan anak-anak Desa Lerek. Mereka yang kadang-kadang tak mandi sebelum berangkat ke sekolah. Yang seragamnya kotor hingga berhari-hari. Yang putus sekolah karena tak punya biaya, lalu memungkas hari lewat mimpimimpi seperti dalam tayangan sinetron. Yang terakhir, semoga tidak terjadi.


Anastasia Ika
Penulis Lepas