Edisi 20-02-2017
Trotoar Dago Mirip di Barcelona


BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mempercantik diri dan memanjakan masyarakatnya tahun ini. Kemarin, revitalisasi jalur pejalan kaki atau pedestrian di sepanjang Jalan Ir H Djuanda (Dago) diresmikan dan bisa digunakan masyarakat.

Jalur pedestrian mulai dari Simpang Dago hingga simpang Jalan Merdeka itu bahkan digadang-gadang mirip dengan trotoar yang berada di Barcelona, Spanyol. Selain lebih panjang dan lebar, jalur ini juga sangat istimewa. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, keberadaan jalur pedestrian Dago semakin membuat Kota Bandung lebih berkarakter. Jalur pedestrian Dago dibuat lebih lebar dan memiliki ruang ekologi yang memadai sehingga menghidupkan kembali romantisme Kota Bandung.

Terutama saat sore hari menjelang malam. “Jalur pedestrian Dago ini mirip dengan salah satu pedestrian di salah satu ruas jalan di Barcelona yang memiliki standar pedestrian bagi kaum disabilitas,” kata Emil usai meresmikan trotoar Dago, kemarin. Dia berharap, dengan laiknya jalur pedestrian seperti di Dago bisa membiasakan warga Kota Bandung untuk memilih jalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor di kawasan Dago.

Selain itu, kawasan pedestrian ini juga bisa menjadi contoh untuk trotoar lain di wilayah Kota Bandung ataupun kota lain di Indoensia. “Ini mengingatkan masa kecil saya saat kehabisan ongkos pulang. Saya jalan kaki dari Jalan Merdeka ke Dago timur. Dan butuh 37 tahun untuk menjadikan trotoar lebih baik dan nyaman untuk anak kecil,” tegasnya.

Menurut dia, Pemkot Bandung akan terus melakukan penataan trotoar tahun ini. Targetnya sekitar 15 hingga 20 paket pekerjaan trotoar bisa selesai sehingga seluruh sarana pejalan kaki di Kota Bandung terlihat cantik dan semakin nyaman digunakan. Selain itu, Emil menjelaskan konsep pancatrotoar. Dimana trotoar yang baik menurut dia harus ada kursi karena trotoar bukan hanya untuk jalan kaki melainkan juga bisa digunakan untuk istirahat.

Lampu yang terinspirasi dari Barcelona, dipilih yang klasik termasuk di atasnya ada harimau sebagai tanda Persib Maung Bandung. Ada juga pot bunga untuk tanaman karena selain indah pemandangannya harus tetap alami. Adapun bola, terangnya, untuk melindungi pejalan kaki dari mobil atau kendaraan lain yang masuk trotoar. Terakhir papan informasi yang menerangkan ada dimana dan mau ke mana.

Hal ini untuk menyesuaikan standar kota modern karena Bandung sudah menjadi kota wisata. Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung Iskandar Zulkarnaen mengeaskan, revitalisasi trotoar Dago memang terinspirasi dari salah satu trotoar di negeri matador terutama pada pemilihan jenis lampu yang klasik. “Lampu-lampu yang vintage itu inspirasinya dari Barcelona. Lebar trotoar lebih luas, terdapat tempat duduk, serta parkir sepeda,” sebutnya.

Dia menyebutkan, pada 2016 telah memperbaiki 30.294 meter trotoar yang terdiri dari 19 titik. Lampu PJU klasik di 743 titik dengan 1.858 tiang. Tahun ini rencana akan memperbaiki 15-20 trotoar lagi dengan panjang sekitar 30.000 meter, 99 tiang lampu PJU dengan 202 titik. “Revitalisasi trotoar ini bagian dari rencana menyediakan pedestrian bagi pejalan kaki untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan. Kami berharap jadi pedestrian yang nyaman sehingga tumbuh minat untuk berjalan kaki,” tuturnya.

Kaum Disabilitas Terbantu

Menandai peresmian trotoar Dago, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ditemani sejumlah penyandang disabilitas netra berjalan kaki menyusuri trotoar yang didesain ramah disabilitas. Namun kaum kurang beruntung itu hanya menemani sekitar 50 meter. Mereka memperagakan bagaimana berjalan menyusuri jalur khusus di bagian tengah trotoar. Jalur dari granit bercat kuning bermotif timbul itu menyesuaikan jalur trotoar. Tapi dikondisikan sebisa mungkin tidak ada yang sampai menabrak tiang, pohon maupun lubang.

“Saya sering mengintruksikan kepada seluruh dinas terkait untuk berpikir seperti mereka yang menggunakan (disabilitas). Karena hak berjalan kami ialah hak semua masyarakat Kota Bandung,” kata Emil. Selepas 50 meter, wali kota ditemani penyandang disabilitas daksa menyusuri trotoar hingga Pendopo Kota Bandung. Rombongan melewati jalanjalan protokol Kota Bandung seperti Jalan Ir H. Juanda, Jalan Merdeka, Jalan Braga, Jalan Asia-Afrika dan berakhir di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum.

Salah satu penyandang disabilitas netra, Nono mengakui cukup terbantu dengan adanya jalur khusus disabilitas di sejumlah trotoar di Kota Bandung. Dia bersama kawan-kawannya sesama penyandang disabilitas netra bisa merasakan aktivitas layaknya masyarakat pada umumnya. “Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bandung dan Wali Kota Ridwan Kamil karena sudah memberikan fasilitas jalan yang diperuntukan bagi kami (penyandang disabilitas).

Sehingga kami tidak dibeda-bedakan dengan yang lainnya,” bebernya. Nono memiliki harapan besar kepada Pemerintah Kota Bandung dengan programprogramnya yang lain akan memberikan hak-hak penyandang disabilitas di Kota Bandung.

Trotoar yang lainnya juga diharapkan bisa ada jalur khusus kaum disabilitas. “Semoga ke depannya banyak lagi program sarana dan prasarana publik yang pro bagi penyandang disabilitas. Sehingga kami akan merasakan pembangunan sebuah kota yang ramah dan nyaman untuk dinikmati semua penyandang disabilitas,” harapnya.

fauzan