Edisi 11-01-2017
Medali dan Bonus Atlet Doping Dibekukan


SEMARANG– Masalah yang membelit tiga atlet Jateng peraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar karena positif menggunakan obat-obatan berbahaya (doping) menunjukkan ada ketidakberesan dalam pengelolaan manajemen cabang olahraga.

Kini prestasi yang ditorehkan atlet binaraga Mheni, peraihmedaliperakdinomor welter weight above 70-75; Mualipi, atlet binaraga peraih emas di nomor fly weight above under 60kg; danJendri Turangan, peraih emas di cabang olahraga berkuda nomor kelas A terbuka jarak1.300meter open, tercoreng.

Mereka termasuk di antara 13 atlet PON XIX dan satu atlet Peparnas XV yang medali serta bonusnya dicopot oleh PB PON dan Peparnas karena terbukti mencederai sportivitas dan nilai-nilai olahraga. Selain memalukan, kasus ini juga mencoreng citra Tim PON Jateng karena dalam penyelenggaraan PON sebelumnya, tidak ada atlet Jateng tersangkut masalah doping.

Wakil Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jateng M Nasution menyatakan, sisa kekurangan bonus tiga atlet yang dinyatakan doping tersebut akan ditunda sampai ada keputusan akhir. Saat ini Pemprov Jateng baru mencairkan anggaran untuk bonus atlet medali dalam PON XIX dan Peparnas di Jawa Barat mencapai 41% atau Rp8,189 miliar. “Kalau (bonus) diperintahkan ditarik, ya akan kami tarik.

Akan kami konsultasikan kepada Pemprov Jateng,” ujar Nasution. Selain itu seusai keputusan PB PON, ketiga atlet bakal mendapat sanksi berupa pencabutan medali karena mereka telah mencederai nilai-nilai keolahragaan dan melanggar pasal 2.1 peraturan antidoping Indonesia 2015. Nasuition menambahkan, KONI sudah melakukan pendidikan dan penataran kepada pelatih jauh hari sebelum digelar pemusatan latihan untuk persiapan PON XIX Jabar.

Dalam workshop tersebut sudah disampaikanzatmanayangbisa dikategorikan doping. “Pelatih, saya harap sudah menyampaikan kepada atlet,” tuturnya. Menindaklanjuti keputusan yang disampaikan Ketua Umum PB PON XIX dan Peparnas XV Jabar Ahmad Heryawan bahwa tiga atlet Jateng termasuk di antara 14 atlet positif doping, maka KONI Jateng akan memanggil tiga atlet yang namanya dirilis. “Hari Jumat (13/1) nanti atlet dan pengprov cabang olahraga (cabor) kami panggil untuk klarifikasi.

kan kami tanyakan obat apa yang diminum, misal sepekan sebelum pertandingan,” tutur Ketua KONI Jateng Hartono. Pihaknya akan melakukan pendampingan mulai dari melibatkan tim kesehatan sampai dalam menghadapi proses hukum. Tim kesehatan akan dihadirkan memastikan obat-obatan yang dikonsumsi atlet tersebut, apakah masih kategori doping atau tidak.

“Bagaimanapun patut kita hargai perjuangan atlet. Ini juga tidak bisa kita anggap remeh,” ucapnya. Sementara, Ketua Harian Pengprov Persatuan Angkat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Jateng Agus S Winarto, mengakui salah satu penyebab dua atlet binaraga asal Jateng positif doping karena edukasi tentang doping terhadap atletnya selama ini berjalan kurang optimal.

Pengurus memiliki berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa mengawasi aktivitas atlet setiap hari, meski bahaya dari zat-zat terlarang sudah pernah disampaikan. “Kami tidak bisa tunggui atlet setiap hari. Ini jadi momentum mengintensifkan edukasi agar tidak terulang seperti ini lagi,” ujarnya.

Menindaklanjuti keputusan yang disampaikan PB PON, pihaknya akan kembali mengklarifikasi tiga atlet bersangkutan terlebih dulu. Jika dalam diskusi itu nanti mengakui mengonsumsi, maka tidak akan banding. “Jika mengakui, selesai. Tapi jika menyangkal, kami akan buka sampel B. Saya pembina olahraga di PABBSI jelas, tidak main-main karena mengelola Klub Ryu Gym selama 17 tahun, bukan baru kemarin,” ucapnya.

Konsumsi Vitamin dan Glukosamin

Atlet binaraga senior Jateng, Mheni, 42, mengaku terkejut setelah dinyatakan oleh PB PON termasuk satu di antara tiga atlet Jateng yang positif menggunakan doping. Peraih medali perak cabang olahraga binaraga PON XIX Jabar ini mengaku tidak mengonsumsi obat yang aneh-aneh saat menjalani latihan persiapan.

Atlet dari Klub Ryu Gym di Jalan Majapahit, Kota Semarang, itu juga sudah mengikuti aturan dari Pengcab dan Pengprov PABBSI. Mheni kemarin masih tetap berlatih di Ryu Gym. Kendati menyangkal mengonsumsi obat yang mengandung zat 3-OH-Stanozolol dan 16b-OH-Stanozolol kategori doping, tetapi dia mengaku selama menjalani latihan banyak mengonsumsi vitamin dan obat untuk mengantisipasi cedera.

Vitamin yang dikonsumsinya beragam, seperti Vitacimin, BBCA, dan kemudian ada Tribulus, pada masa diet yang bisa berfungsi meningkatkan hormon testosteron. Agar tidak mengalami cedera, bapak satu anak itu juga mengonsumsi suplemen Glukosamin. “Ini supaya tidak mengalami cedera otot pada persendian.

Saya juga mengonsumsi whey protein,” tuturnya. Diamenyerahkankasusyang dialaminya kepada pengurus PABBSI Jateng. Jika Pengprov PABBSI Jateng melakukan banding, dirinya siap menjalani tes urine ulang. “Saya pasrah, dan siap dites urine lagi,” ujarnya.

arif purniawan