Edisi 20-03-2017
Proporsional Dalam Merestorasi Gambut


PALEMBANG - Memiliki luasan lahan gambut yang cukup besar di Pulau Sumatra, membuat pengelolaan kawasan gambut di Sumatra Selatan hendaknya dilakukan secara proporsional sesuai dengan kondisinya.

Hal ini disampaikan Direktur of Ex cel - lence Peatland Conservation and Pro - ductivity Improvement (CoE Place) Universitas Sriwijaya Prof Rujito A Suwignyo, akhir pekan lalu. Menurutnya, kawasan gambut Sumsel yang menjadi bagian dari 21 juta lahan gam - but di Indonesia memi li - ki ka - rak teristik beragam. Karena itu, upaya restorasi atau lebih tepatnya rehabilitasi hendaknya memandang pada tiga ele - men penting, yakni keberlangsungan eko logi, peningkatan produktivitas per - tanian (ekonomi) dan keterikatan sosial dalam menjaga gambut.

“Karhutla 2015, menjadi urgensi bagi semua pihak termasuk universitas agar makin berkontribusi pada pengelolaan gambut. CoE Place menjadi bagian bagai - mana gambut makin dikelola dengan proporsional,” ujarnya di sela workshop sekaligus focus group discussion (FGD) di Hotel Swarna Dwipa, Sabtu (18/3). Dikatakannya, gambut sangat penting bagi kehidupan masyarakat, terutama petani dengan lahan topografi gambut.

La - han gambut hadir dari proses sedimen tasi tanah, humus dan air dalam jangka waktu yang lama, hingga lebih dari puluh an ta - hun. Fungsigambutpunsangat erat se ba gai cadanganairdalamsiklushidrologi dibumi. Selain itu, gambut juga ber - fungsi menyekap CO2 agar tidak lepas ke udara hingga berefek ru - mah kaca hingga berimbas pada pemanasan global. “Karena itu, gambut dalam pro ses restorasi hendaknya pro - po rsional.

Gambut ada dua jenis, gambut yang masih belum rusak (alami), dan gambut yang sudah rusak. Untuk yang sudah rusak ini, karakternya juga beda, mi - salnya gambut berpotensi ter ba - kar sepanjang tahun atau hanya saat kemarau. Sehingga perla - kuannya juga disesuaikan,” te - rang profesor bidang budi daya pertanian ini. Lebih lanjut Rujito menerang - kan, fungsi gambut amat penting bagi Provinsi Sumsel. Menurut - nya, sudah sejak tahun 1970-an, kawasan gambut Sumsel berubah peruntukan.

Hal itu bukan sesua - tu yang salah, dengan syarat per - ubahan tersebut hendaknya men - jaga peran gambutnya. Saat gam but tidak terawat, ma - ka Sumsel akan terancam keke ri - ngan dan ke banjiran parah. Pe - manfaatan gam but hendaknya mempertimbangkan tiga aspek, seperti ling kungan (ekologi), pem - berdayaan ma sya rakat dan pro - duktivitasnya. “Unsri tergabung dalam kon - sorsium tujuh universitas berpe - nge tahuan hijau atau dikenal de - ngan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau (Petuah).

Dengan bekerja sama de ngan MCA, Unsri fokus mera - jut berbagai kemampuan yang ada di universitas guna pemba - ngunan berkelanjutan,” ujarnya. Setidaknya ada 11 poin yang coba ditawarkan CoE Place Unsri da lam pengelolaan kawasan gam - but di Sumsel. Di antaranya resto - rasi gambut berbasis socio-ekohidrologi, aplikasi pertanian biocyclo farming, implementasi sis - tem integrasi sapi dan kelapa sa - wit serta biogas Pome di lahan gam but, alternatif solusi pening - katan produktivitas melalui pa - ludikultur dan agroforestri, pe - ngelolaan buah mangrove, hingga strategi revegetasi dengan spe sies indigen dalam restorasi gambut.

“Pengelolaan gambut tidak sepenuhnya berbiaya besar. Cu - kup banyak cara mengombi nasi - kan berbagai pengetahuan (transfer knowlegde) yang dapat dilaku - kan universitas. Dalam waktu de - kat, CoE Place akan bertemu ber - ba gai pemangku kepentingan da - lam tawaran pengelolaan kawas - an gambut berkelanjutan di Sum - sel,” pungkasnya. Salah satu peneliti dalam pro - gram ini, Erizal Sodikin mengata - kan, jenis gambut di Sumsel ini su - dah berklasifikasi cukup bera - gam.

Terdapat gambut yang su - dah terolah menjadi tanah mine - ral, yang kemudian membutuh - kan penanganan pertanian ber - ke lanjutan, misalnya bagaimana menyikronkan gambut yang su - dah ditanami kelapa sawit. “Model proporsional gambut - nya dengan SISKA atau dikenal dengan fortifikasi sistem inte - grasi ternak sapi dan kelapa sawit efektif dalam mengoptimalkan pendapatan petani, dengan gam - but yang sudah terolah menjadi tanah mineral,” ungkapnya.

tasmalinda