Edisi 29-03-2017
Menemani Temaram Pesonna Malioboro Hotel


Tepat pukul 20.30 WIB, satu persatu cahaya lampu di beberapa titik area Hotel Pesonna Malioboro perlahan-lahan meredup, hingga akhirnya mati.

Temaram cahaya berganti dengan beberapa lilin. Di sebagian lain, cahaya lampu besar diganti lampu kecil dengan cahaya lebih syahdu. Di lobby hotel, nampak sesuatu yang mencolok ada di tengah-tengahnya. Aroma arang membakar bara di atas tungku dan di atasnya beberapa ceret nampak mulai mengeluarkan asap di ujungnya. Semerbak aroma jahe serta bau khusus kacang rebus menambah suasana angkringan pinggir jalan semakin kentara. Malam itu, tanggal 25 Maret 2017, memang menjadi moment spesial bagi Pesonna Malioboro Hotel.

Suasana temaram cahaya lampu mereka kombinasikan dengan sajian menu angkringan menjadi suguhan berharga bagi para tamu yang kebetulan menginap di hotel yang terletak hanya beberapa puluh meter dari Malioboro dan Titik Nol ini. Malam itu, bertepatan dengan peringatan Earth Hour, Pesonna Malioboro Hotel memang sengaja menghadirkan angkringan sebagai sajian khas tradisional mereka. Angkringan mereka pilih karena telah menjadi salah satu ikon wisata dari Yogyakarta. Sehingga Pesonna Malioboro Hotel ingin mengkombinasikan ciri khas Yogya ini dengan peringatan Earth Hour sedunia.

“Kita tahu, angkringan tidak bisa lepas dari Yogya. Makanya kami hadirkan di sini, spesial pada peringatan Earth Hour,”tutur Public Relations Pesonna Malioboro Hotel, Maya Kurnia. Bertajuk Angkringan Petengan, Pesonna Malioboro menawarkan sajian menu khas Angkringan. Selama pemadaman berlangsung, Angkringan Petengan dibandrol dengan harga yang terjangkau yaitu Rp25.000 net/pax, dan para tamu sudah dapat menikmati berbagai hidangan yang ada di Angkringan. Angkringan Petengan menyajikan wedang jahe, kopi, teh, aneka gorengan, aneka rebusan, aneka nasi kusing, dan sate.

Para tamu mengaku senang dengan Angkringan Petengan ini karena mereka merasa bernostalgia, wedangan di Angkringan sembari berkumpul dengan keluarga kerabat dengan penerangan yang terbatas. Maya mengungkapkan, dalam rangka berpartisipasi dalam kegiatan Earth Hour pada hari Sabtu 25 Maret 2017, Pesonna Malioboro Yogyakarta melakukan switch offdibeberapa titik di area hotel. Pesonna Malioboro memadamkan beberapa titik lampu di area lobby, Pesonna Café, dan Foyer Ballroom. Pemadaman dilakukan selama 60 menit dari pukul 20.30 hingga 21.30 WIB.

Earth Hourmerupakan salah satu kampanye WWF, organisasi konservasi terbesar di dunia, yang berupa inisiatif global untuk mengajak individu, komunitas, ptaktisi bisnis, dan pemerintah di seluruh dunia turut serta mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak terpakai selama 1 jam setiap hari Sabtu di minggu terakhir bulan Maret. Kegiatan Earth Hourmerupakan suatu bentuk kesadaran dan konsistensi akan kecintaan kita kepada bumi, yang menjadi tempat tinggal makhluk hidup.

Tujuan utama kampanye ini adalah mengajak publik melakukan perubahan gaya hidup yang sederhana dan murah dengan menghemat energi karena ketergantungan manusia terhadap listrik terus meningkat dari waktu ke waktu, sedangkan sebagian besar pembangkit listrik berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam), yang menghasilkan gas rumah kaca dan memicu pemanasan global. Abel, salah seorang pengunjung malam itu mengaku terpesona dengan sajian angkringan ini.

Ia mengaku kangen dengan menu yang biasa ia santap ketika kuliah di Yogyakarta. Meski hadir di hotel, namun suasana syahdu emperan pinggir jalan masih dapat dia dapatkan dari temaram lampu yang tercipta malam itu. “Ternyata wedang jahe dan kacang godoknya masih ngangeni,” tambahnya.

Erfanto Linangkung
Yogyakarta