Edisi 20-03-2017
Aset Perkebunan Jateng Belum Maksimal


SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta mampu memaksimalkan po - tensi aset perkebunan yang dimiliki.

Sejauh ini penetapan target pendapatan perke bun - an terbilang kecil, tapi biaya operasional tinggi. “Jadi belum berbanding lurus. Harus lebih optimal lagi pengelolaannya,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini kemarin. Beberapa waktu lalu Ko - misi C melakukan kunjungan kerja ke Kebun Dinas Kan - deman, Batang. Kebun seluas 6 hektare ini memiliki lahan produksi benih kopi robusta, kakao, dan kapuk randu.

“Tar - get pendapatan pada 2017 sebesar Rp40 juta, sementara anggaran yang dialokasikan mencapai Rp22,7 juta. Ini baru sebatas target,” kata Sri. Tahun lalu target penda - patan kebun ini Rp35 juta. Namun, target itu hanya ter - ealisasi Rp27 juta atau 77%. “Karena itu, perlu dipikirkan ulang agar pengelolaan aset perkebunan memberikan ha - sil yang optimal.

Apakah itu sistemnya atau sumber daya manusianya,” kata legislator Partai Gerindra itu. Anggota Komisi C DPRD Jateng Wahyudin Noor Aly melihat fenomena tersebut sangat tidak proporsional. Dia khawatir masyarakat gagal paham bahwa berkebun atau bertani memang tidak men - janjikan apa pun, kecuali me - rugi.

“Fungsi penting yang tidak boleh diabaikan, peme - rintah gagal memberi contoh bahwa berkebun betapa pun lahannya luas tidak menjadi pilihan bagi masyarakat,” ung - kap dia. Mereka melihat Pemprov Jateng yang mengelola kebun seluas ratusan hektare ha - silnya minus. “Karena itu, to - longlah, beri contoh masya - rakat dengan keberhasilan memberdayakan kebun-ke - bun ini dengan hasil yang bagus,” ujar legislator PAN itu.

muh slamet