Edisi 20-03-2017
Belajar Otodidak, Selesaikan Pesanan 2-3 Minggu


Kecintaan terhadap seni tradisional membuat Ardi Ponco Nugroho tetap berusaha menekuni pembuatan wayang kulit meski saat ini telah bekerja sebagai karyawan bank di Kota Semarang.

Wayang adalah hal terpenting baginya. Ponco merupakan salah satu seniman wayang kulit asli Kota Semarang yang masih eksis sampai saat ini. Pria beralamat di Bugen, Tlogosari Wetan, Kota Semarang, itu hingga kini masih menekuni dunia pembuatan wayang, meski banyak orang awalnya menjadi seniman wayang memilih banting setir ke pekerjaan lain.

“Saya tidak bisa kalau meninggalkan wayang, bagi saya, wayang adalah kehidupan saya yang terpenting,” tutur Ponco mengawali obrolan, kemarin. Ponco mengaku sejak kecil menekuni dunia wayang. Dia yang pernah menjadi dalang cilik ini tak pernah lepas dari wayang. Sampai sekarang dia masih terus membuat wayang kulit untuk dijual ke berbagai daerah, baik Jawa atau luar Jawa bahkan mancanegara.

Untuk membuat wayang, Ponco mengaku belajar autodidak. Dia mempelajari se jum - lah literatur wayang un tuk me - mahami karakter to koh melalui internet, buku-buku, dan lainnya. Dia tak se gan mendatangi seniman-seniman wayang yang masih ada untuk menimba ilmu dari mereka. “Dari belajar autodidak itu, saya kemudian memutuskan membuat karya sendiri.

Alhamdulillah, banyak yang menyukai karya saya ini,” tuturnya. Untuk membuat wayang, Ponco mengaku harus membagi waktu dengan pekerjaannya. Bahkan terkadang dia membawa wayang-wayangnya itu ke kantor untuk digarap saat ada waktu luang. Biasanya untuk satu buah wayang kulit ia menghabiskan waktu sekitar dua Minggu. Namun, jika wayang dengan detail rumit, bisa sampai tiga Minggu masa pengerjaan.

“Semuanya saya garap sendiri mulai dari memilih kulit, menjemur, memahat, memulas, hingga selesai. Namun, karena sekarang sudah bekerja, kadang proses memahat saya meminta bantuan teman,” kata bapak dua anak ini. Wayang-wayang hasil buatannya kebanyakan dipesan oleh para dalang. Namun, terkadang dia juga menggarap pesanan wayang untuk ko - leksi.

“Tak hanya dalang di Jawa, banyak dalang di daerah lain, seperti Lampung, Palembang, Kalimantan, juga sering memesan wayang buatan saya,” katanya sambil tersenyum. Satu buah wayang dibanderol berbeda-beda sesuai dengan tingkat kerumitan dan bahannya. Untuk wayang terbuat dari kardus, dia menghargai mulai Rp100.000 sampai Rp500.000.

Sementara untuk wayang dari kulit, harganya lebih mahal, yakni mulai dari Rp450.000 hingga Rp2 juta. Meski saat ini diakuinya pesanan sepi, tapi Ponco mengaku tidak akan meninggalkan wayang. Dia justru akan terus berkarya agar kesenian wayang tidak punah. Ponco memiliki cara tersendiri memasarkan wayangwayangnya. Dia mengaku lebih fleksibel mengenai harga, apalagi jika yang memesan adalah pelajar atau orang baru mengenal wayang.

“Istilahnya untung sedikit tidak apa-apa, yang penting wayang tetap lestari. Kalau yang memesan pelajar atau orang baru, saya biasanya menanyakan mereka memiliki anggaran berapa, baru saya buatkan,” katanya. Tak hanya fokus untuk penghasilannya pribadi, Ponco juga aktif memberikan pelajaran bagi anak-anak muda yang ingin belajar mengenai pembuatan wayang.

Bersama rekan-rekannya, dia mendirikan sebuah komunitas bernama Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) yang biasa memangkal di Sobokarrti Semarang. “Ya hitung-hitung melestarikan wayang dengan memberikan pengajaran pada anakanak muda. Meski sekarang banyak orang tidak mengenal wayang, tapi saya yakin kesenian wayang akan tetap lestari.

Saya bersama teman-teman akan terus berusaha melestarikannya sekuat tenaga,” katanya. Salah satu pelanggan wayang Ponco, Damar Djati, mengaku senang dengan wayang buatan Ponco. Menurut salah satu siswa Pedalangan Sobokarrti Semarang ini, wayang buatan Ponco sangat rapi dengan detail yang menawan. “Meski kadang harus antre membuat wayang pada Mas Ponco, tapi saya tetap menunggu. Soalnya wayang hasil buatannya sangat bagus dan kualitasnya baik,” ucap - nya.

ANDIKA PRABOWO

Kota Semarang