Edisi 20-03-2017
Cuaca Ekstrem, PG Rendeng Rencanakan Taksasi


KUDUS – Cuaca ekstrem yang kerap melanda wilayah Jawa Tengah belakangan ini membuat manajemen Pabrik Gula (PG) Rendeng khawatir.

Pabrik gula plat merah di bawah payung PTPN IX ini berencana melakukan taksasi atau perhitungan ulang Rencana Kerja Operasional (RKO) musim giling tahun ini. Upaya itu dilakukan agar target produksi gula tidak meleset lagi seperti musim giling tahun lalu. Kepala Administrasi Keuangan PG Rendeng, Poedya Handaya mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, menjadi salah satu kendala serius yang berpotensi mengganggu target jajarannya.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan kualitas rendemen tebu menjadi rendah sehingga mempengaruhi produksi gula PG Rendeng tahun ini. “Imbas cuaca buruk seperti hujan terus menerus pada kualitas bahan baku tebu,” kata Poedya, kemarin. Menyusutnya luasan lahan tebu milik petani binaan PG Rendeng juga menjadi kendala. Tahun lalu, PG Rendeng membidik 5.564 hektare lahan tebu milik petani.

Namun, yang terealisasi hanya seluas 4.795 hektare. Penyebabnya petani melarikan hasil panen ke pabrik gula lain karena alasan tertentu. “Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan bahan baku pada musim giling tahun ini, kami melakukan ekstensifikasi atau perluasan lahan, seluas 150 hektare. Lahan itu berada di eks perkebunan karet milik PTPN IX Divisi Tanaman Tahunan di Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara, serta di Desa Merbuh, Kecamatan Boja, Kendal.

Sedang untuk tahun depan PG Rendeng juga akan melakukan ekstensifikasi lahan, seluas 1.000 hektare milik Perhutani di kawasan Pati dan Rembang,” ujarnya. Berpijak dari fakta lapangan, kata Poedya pihaknya akan melakukan taksasi atau perhitungan ulang, untuk Rencana Kerja Operasional (RKO) musim giling ini. Menurut dia, taksasi akan dilaksanakan pada akhir Maret ini.

Perkiraan ketersediaan bahan baku, kualitas rendemen, serta target produksi akan dihitung ulang dengan cermat. “Kami khawatir, jika tetap sesuai RKAP maka target yang ada tidak akan dapat terealisasi,” katanya. Sementara itu, Administratur PG Rendeng, Wisnu Pangaribawa mengatakan, sejauh ini pihaknya mematok target produksi sekitar 22.380 ton gula pasir, pada musim giling tahun 2017.

Target tersebut, jauh lebih tinggi dari target produksi yang dipatok pada tahun sebelumnya, yang hanya 16.655 ton. Sasaran tebu yang direncanakan akan digiling mencapai 334.695 ton, dengan target rendemen 6,67 %. Tahun lalu, rendemen sebesar 5,54%. Target yang dipatok ini diakui Wisnu lebih besar dibanding sebelumnya.

Sebab tahun lalu dari target produksi gula pasir 16.655 ton, PG Rendeng hanya mampu merealisasikan 8.576 ton, atau 51%. “Ada banyak faktor penyebab sehingga target pada 2016, tidak bisa terpenuhi. Satu di antaranya, banyak tebu dari petani yang semula direncanakan digiling PG Rendeng, justru dilarikan ke pabrik gula milik kompetitor. Semoga ini tak terjadi lagi,” sesalnya.

Terpisah, Ketua Serikat Pekerja Perkebunan (SPBun) PG Rendeng, Subchan mengatakan, ada beberapa hal yang harus terpenuhi agar target yang dicanangkan tercapai. Menurutnya perlu ada regulasi, yang mengatur lalu lintas tebu, sehingga antarpabrik gula tak saling serobot tebu milik petani. “Aturannya harus jelas dan bisa ditaati bersama. Toh ini juga untuk kepentingan bersama mestinya itu bisa dilakukan,” tandasnya.

muhammad oliez