Edisi 23-02-2017
Penyuap Atty Diancam Lima Tahun Penjara


BANDUNG – Pengadilan Tipikor Bandung mulai menggelar sidang dua penyuap Wali Kota Cimahi nonaktif Atty Suharti dan suaminya Itoc Tochija yang merupakan mantan Wali Kota Cimahi.

Kedua terdakwa itu semuanya dari pihak swasta, masing-masing adalah Triswara Dhanu Brata dan Hendriza Soleh Gunadi. Ketua Majelis Hakim Sri Mumpuni memimpin sidang dengan agenda pembacaan dakwaan. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari KPK Ronald Ferdinand Worotikan membacakan dakwaan yang mengungkapkan peran kedua terdakwa.

Dalam dakwaan tersebut dibeberkan bahwa kedua terdakwa melakukan suap dengan harapan dilancarkannya pembangunan Pasar Atas Baru Cimahi. Bahkan Itoc dan Atty diiming-imingi dengan imbalan hingga Rp6 miliar dan sudah mendapatkan dana awal sekitar Rp500 juta. “Kedua terdakwa, menjanjikan suap agar perusahaannya menjadi pelaksana pembangunan Pasar Atas Baru Cimahi tahap II tahun 2017 yang mempunyai nilai anggaran sebesar Rp57 miliar.

Aksi suap itu terungkap dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 1 Desember 2016,” ungkap JPU. Atas perbuatannya, kedua terdakwa dijerat dengan dakwaan berlapis. Untuk dakwaan pertama, terdakwa dijerat pasal 5 ayat (1) UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara untuk dakwaan kedua, terdakwa Triswara dan Hendriza dikenakan Pasal 13 UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor. “Akibat perbuatan tersebut kedua terdakwa terancam 5 tahun penjara,” sebutnya.

Usai pembacaan surat dakwaan, kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya memberikan tanggapan untuk melanjutkan sidang dengan agenda eksepsi (keberatan atas dakwaan) pada pekan depan. Kasus tersebut berawal ketika penyidik KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dan mendapatkan barang bukti uang suap sebanyak Rp500 juta atas proyek pembangunan Pasar Atas Baru di Cimahi tahap II tahun 2017 senilai Rp57 miliar.

OTT dilakukan 1 Desember 2016 malam di kediamatan Atty dan Itoc dan keduanya langsung dijadikan tersangka oleh KPK. Terpisah Kejari Cimahi terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi guna keperluan penyidikan kasus dugaan korupsi APBD Tahun 2006 dan 2007 terkait penyertaan modal pembelian tanah Cibeureum.

Kepala Seksi Intelejen Kejari Cimahi Teuku Syahroni menyatakan, pihak penyidik terus menggali keterangan dari para saksi untuk keperluan penyidikan. Saat ini yang dipanggil di antaranya, AI; AG; SJT; SYM; dan AJ. “Semua yang dipanggil hadir kecuali AJ mangkir dari panggilan tanpa diketahui alasannya,” ucapnya kemarin.

Untuk keperluan penyidikan, lanjut Roni, tidak menutup kemungkinan akan memanggil para saksi lainnya jika dinilai masih kurang. Apabila saksi sudah dinilai cukup maka para tersangka yang sudah ditetapkan juga akan dilakukan pemeriksaan kembali. Dia menyebutkan, salah satu tersangka IT kini tengah menjalani penahanan di KPK atas dugaan kasus suap pembangunan Pasar Atas Baru.

Namun jika nanti dibutuhkan, Kejari Kota Cimahi akan berkoordinasi agar bisa melakukan pemeriksaan. “Bisa saja nanti yang kita datang ke sana (Jakarta) dan itu masalah teknis saja,” ujarnya. Sejauh ini kejaksaan sudah memanggil 20 orang saksi untuk dimintai keterangannya. Selama proses penyidikan pun tidak ada kendala berarti dan semuanya kooperatif.

yugi prasetyo/ raden bagja mulyana