Edisi 20-03-2017
5 Desa Terendam, Jalan Raya Rancaekek Kembali Tergenang


BANDUNG – Banjir yang melanda Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung kembali meluas kemarin. Sedikitnya lima desa di kecamatan terdampak banjir dan mengakibatkan ratusan rumah warga tergenang air.

Tidak hanya rumah warga, Jalan Raya Rancaekek, jalur selatan penghubung Bandung- Garut kembali tergenang hingga tadi malam. Kawasan langganan banjir ini berada tepat di depan PT Kahatex dan PT Vonex. Ketinggian air yang menggenangi lima desa di Kecamatan Rancaekek mencapai 50 sentimeter hingga 1,2 meter. Kelima desa yang terdampak banjir _di Kecamatan Rancaekek di antaranya Desa Linggar, Haurpugur, Rancakendal, Ranca Panjang dan Bojongloa.

Banjir paling parah terjadi di Desa Rancakendal dengan ketinggian 1 meter. Banjir di kelima Desa tersebut terjadi akibat luapan tiga anak Sungai Citarum yang melintasi wilayah Rancaekek. Banjir yang terjadi di lima desa itu merendam ratusan rumah. Di Desa Linggar, sekitar 500_ rumah terendam banjir, ketinggian di wilayah ini sekitar 50 hingga 70 cm. “Disini banjir terus, kadang hujan disini sedikit tapi tetep aja banjir karena air kiriman.” Ujar Maman Warga Linggar.

Banjir di Desa Linggar merupakan luapan Sungai Cimande karena tak mampu menampung air kiriman dari wilayah Kabupaten Sumedang, pendangkalan dan kurang lebarnya bantaran sungai membuat air meluap. Sungai Cimande sudah beberapa kali dilakukan pengerukan oleh dinas terkait, namun banyaknya limbah dan lumpur yang berasal dari pabrik-pabrik sekitar_ Jalan Raya Rancaekek membuat sedimentasi kembali terjadi. “Sudah berkali-kali digali, ya cuma dangkal lagi jadinya kita harus siap nerima banjir,” tambah Wawan.

Banjir Kahatex Kembali Terjadi

Sementara itu, banjir kembali merendam Jalan Raya Bandung-Garut kawasan Rancaekek tepatnya perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung, tadi malam. Sebelumnya, pada Minggu( 19/3) pagi banjir yang terjadi di jalur ini sempat surut. Namun, hujan deras yang terjadi pada siang di wilayah Kota Bandung raya membuat air kembali tinggi.

Ratusan motor dan kendaraan roda empat banyak yang memilih mutar arah untuk menghindari banjir. Genangan air yang menutup badan jalan ini mengakibatkan antrean kendaraan mengular baik dari arah Bandung maupun Garut. Berdasarkan pantauan KORAN SINDO ratusan kendaraan dari arah Bandung menuju Garut dan sebaliknya menumpuk di sekitar pabrik tekstil PT Kahatex akibat badan jalan kembali terendam_banjir_dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter.

Sejumlah sopir yang tidak sabar memaksakan kendaraannya untuk menembus banjir sepajang 500 meter tersebut. Namun, di tengah banjir kendaraan mati karena terendam. Kanit I Polsek Cimanggung Iptu Z U Mamonto mengatakan, kemacetan total dari kedua arah tak bisa dihindari akibat_banjir _yang melanda di sepanjang pabrik tekstil tersebut.

“Arus lalu lintas macet total. Kendaraan dari arah Bandung terhenti sebelum pabrik Kahatex dan mengular hingga pintu Tol Cileunyi, sepanjang 10 kilometer. Begitupun kendaraan dari arah Garut menuju Bandung, terhenti di sekitar_banjir_dengan panjang antrian lebih dari 10 kilometer,” tuturnya. Pengendara asal Garut Roni mengaku geram dengan kondisi jalan yang kerap banjir tersebut.

Saat melintas, dia bersama istri dan anaknya yang baru berusia enam bulan terpaksa mendorong motor sejauh 1 kilometer untuk menembus banjir. Tidak hanya itu, kata dia, banjir yang terjadi di jalur utama Bandung-Garut ini merugikan banyak orang. Terutama di saat masyarakat dalam kondisi darurat yang harus mendapatkan pertolongan segera.

Dia mengaku, sempat melihat beberapa ambulans yang terjebak macet dan perjalanan ambulans pun menjadi terhambat untuk memberikan pertolongan kepada pasien. “Sangat dirugikan Pak, apalagi yang pengendara motor bawa anak seperti saya, dan banyak juga ambulans yang terjebak, kasihan pasiennya,” ujar Doni. Banjir ini bukan pertama kalinya terjadi di Jalan Raya Rancaekek, dalam kurun waktu sebulan terakhir, banjir telah merendam sebanyak empat kali, sayangnya belum ada langkah perbaikan drainase dari pemerintah pusat karena jalur ini berstatus jalan nasional.

BPBD Jabar Siapkan Peta Risiko Bencana

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat tengah menyempurnakan peta risiko bencana untuk menekan dampak bencana yang ditimbulkan. Kepala BPBD Jabar Dicky Saromi mengatakan, pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja di seluruh wilayah Jabar.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jabar telah melakukan kajian terhadap peta risiko bencana yang didasarkan pada tiga faktor, yakni kerentanan, bahaya, dan kapabilitas masyarakat di suatu daerah dalam mengantisipasi dan mengatasi bencana. “Berdasarkan tiga faktor inilah, kami mendapat gambaran terkait risiko potensi bencana di Jabar,” ujarnya.

Menurut Dicky, melalui peta risiko bencana, BPBD dapat memetakan tingkat kerentanan, bahaya, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sehingga, jika bencana terjadi, penanganannya bisa lebih efektif dan terintegrasi dengan baik. Dicky melanjutkan, seiring dengan penetapan status siaga darurat bencana yang dikeluarkan Gubernur Jabar hingga 29 Mei 2017 mendatang, pihaknya kini bersiaga penuh mengantisipasi berbagai bencana yang kemungkinan terjadi di seluruh wilayah Jabar.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jabar Dani Herdiana menambahkan, pihaknya kini terus menyempurnakan peta risiko bencana tersebut. Diakui Dani, peta risiko bencana Jabar masih dalam ruang lingkup yang lebih luas, yakni skala Jabar. “Kami tengah menyusun peta risiko bencana hingga tingkat kecamatan, bahkan desa. Dengan adanya peta ini, antisipasi dan penanganan bencana diharapkan lebih efektif dan e_ sien,” jelas Dani.

M-1/ agung bakti sarasa/ aam aminullah