Edisi 20-03-2017
Bio Farma Produksi Obat Kanker Murah


BANDUNG – PT Bio Farma (Persero) siap mengembangkan obat kanker (biosimiliar) murah khusus bagi masyarakat Indonesia.

Obat tersebut rencananya akan mulai diproduksi pada 2019 mendatang. Nantinya, produk life science tersebut akan dibanderol sekitar Rp7,5 juta atau 30% lebih murah dari harga awal Rp25 juta per dosis. “Kami akan memproduksinya seusai paten yang dimiliki produsen biosimiar terdahulu yang sudah berakhir. Sejauh ini biosimiliar hanya diproduksi oleh perusahaan yang memegang paten.

Rencananya, produk life science ini akan dipatok lebih murah atau hanya 1/3 dari harga yang saat ini ditetapkan di pasaran,” ujar Project Integration Manager of Product Development Division PT Bio Farma Erman Tritama akhir pekan kemarin. Erman menerangkan, saat ini para penderita kanker payudara memerlukan biaya Rp125 juta untuk menjalani lima kali terapi biosimililiar.

Dengan pertimbangan mahalnya biaya itu, perusahaan berpelat merah ini berinisiasi untuk memproduksi biosimiliar dengan harga yang jauh lebih murah. Pada 2019, Bio Farma diharapkan dapat memproduksi 15-20 juta dosis biosimiliar per tahun dengan kebijakan harga yang lebih murah. Tak hanya biosimiliar kanker payudara, lanjut dia, Bio Farma juga akan meluncurkan 3 jenis vaksin, yakni vaksin tifoid konjugat, rotavirus, dan pneumo.

Sama halnya dengan biosimiliar, vaksin tersebut juga akan diproduksi minimal 20 juta dosis per tahun. “Ada enam produk life science yang 2019 ditargetkan selesai. Namun kami memprioritaskan vaksin tifoid konjugat untuk lebih dulu diluncurkan sebagai vaksin pencegah penyakit typhus,” tambah Erman. Erman merinci, kebutuhan global untuk vaksin tifoid konjugat diprediksi mencapai 180 juta dosis pada 2024.

Namun pihaknya memastikan, Bio Farma akan fokus memenuhi kebutuhan vaksin di dalam negeri. “Sementara ini kami akan fokus memenuhi kebutuhan lokal. Namun jika ada kelebihan, baru akan diekspor. Kapasitas produksi sekarang, khusus untuk tifoid konjugat sekitar 20 juta dosis per tahun. Secara teknologi, tifoid konjugat lebih baik dari dua vaksin tifoid yang saat ini ada di pasaran,” ucapnya.

Tifoid konjugat, menurut dia, bisa diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun. Pengembangan ini menjadi inovasi baru, karena sebelumnya vaksin serupa tidak dapat diberikan kepada anak usia tersebut. Perlindungan yang diberikan vaksin tersebut juga lebih efektif, yakni hanya dua kali pemberian untuk menjaga kekebalan seumur hidup. “Tifoid konjugat tidak perlu diulang setiap dua atau tiga tahun.

Untuk kebijakan harga, kami berencana membanderol tidak lebih dari 30% harga vaksin tifoid yang beredar saat ini,” katanya. Di tempat yang sama, Corporate Secretary Bio Farma Rachman Rustan menambahkan, guna meningkatkan kapasitas produksi vaksin, BUMN tersebut mengeluarkan dana investasi Rp5 triliun hingga 2019.

Dana tersebut akan digunakan untuk membangun infrastruktur berupa gedung khusus enam lantai, berikut peralatan khusus untuk memproduksi vaksin. “Bio Farma menargetkan penambahan 500 juta dosis vaksin per tahun. Pengembangan kapasitas produksi beberapa vaksin saat ini sudah mencapai 100%. Pasar vaksin negara berkembang, termasuk Indonesia, mencatat pertumbuhan tertinggi di dunia. Pasar farmasi di negara berkembang tumbuh 14%-20% per tahun, bahkan menyentuh angka 30% pada tahun lalu,” ungkapnya.

dini budiman