Edisi 20-03-2017
Jualan Agar-agar Sambil Budayakan Minat Baca Bagi Masyarakat


Pagi itu, Budi Rustandi, pedagang penganan agar-agar disibukkan oleh aktivitas rutin, memasak bahan pembuat agar-agar untuk dijual.

Aktivitas itu dia mulai selepas salat subuh. Harapannya, ketika siang menjelang, jajanan tersebut siap di edarkan di sekitar rumahnya di kawasan Cigadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Namun ada yang berbeda dengan aktivitas jualan yang dilakukan Budi. Dia tak melulu jualan agar-agar, tetapi juga membawa buku-buku untuk bacaan para pembelinya.

Sejumlah buku bacaan dia tumpuk rapi di pikulan dagangnya. Sebagian besar buku yang dibawa adalah buku tentang anak, komik, dan buku agama. Buku-buku tersebut tidak dia bawa untuk dijual, namun dijadikan perpustakaan keliling. Sambil berdagang, dia menawarkan beberapa buku bacaan kepada anak-anak dan warga di sekitar tempat dia berkeliling menjajakan agar-agarnya.

Siapa kira, pedagang agar-agar itu adalah mahasiswa tingkat akhir, Jurusan Filsafat Aqidah UIN Sunan Gunung Djati. Dia sengaja membuat perpustakaan keliling karena merasa prihatin melihat budaya membaca di masyarakat sangat rendah. Ide ini muncul setelah berdiskusi dengan dosennya dan ada rasa ingin membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Awalnya, saya dapat tugas dari dosen tentang theology, saat itu terbersit ide untuk menciptakan perpustakaan keliling,” ungkap Budi. Pria berusia 26 tahun ini tidak membatasi umur atau target peminjam buku. Dia tak mau membatasi pembacanya karena menurutnya semua orang berhak untuk menikmati buku bacaan dibawa dan mengembalikan budaya baca di masyarakat. Uniknya, dari banyak masyarakat yang meminjam buku, mayoritas adalah tukang ojek, pedagang serta mahasiswa.

Bacaan ketiga golongan pekerjaan tersebut tentu berbeda-beda, seperti tukang ojek yang lebih sering meminjam buku tentang agama, pedagang meminjam tentang bisnis dan buku sastra, sedangkan mahasiswa banyak yang meminjam komik serta buku tentang teori yang dibahas dalam perkuliahan.

Hal ini tentu merupakan gambaran positif, masyarakat kalangan bawah yang selama ini dipandang jarang atau tidak mau menyentuh buku, justru menjadi peminjam dan pembaca setia buku-buku yang di sediakan di perpustakaan keliling milik Budi Rustandi. Budi mengaku senang dengan apa yang dia lakukan. Dia tak menyangka apa yang dibuatnya bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Meski omzetnya berkurang, karena pikulan dagangannya harus berkurang karena dijadikan tempat untuk membuka perpustakaan keliling, dia tetap meneruskan tekadnya membuat perpustakaan keliling agar bisa membantu masyarakat dalam menggali ilmu dan berdiskusi membahas isi buku bersama para pembaca.

m-1

Kota Bandung