Edisi 20-03-2017
Kapan Banjir Terarasi?


Seorang sahabat mengeluh kesulitan menuju ke Bandung, lantaran banjir yang beberapa hari terakhir selalu terjadi di Rancaekek.

Kalaupun di paksakan tetap berangkat, dia harus rela macet berjam-jam di dalam angkot atau bus dalam kota lainnya. Bagi dia, kejadian seperti itu tak hanya terjadi akhir-akhir ini saja. Tetapi, setiap musim hujan tiba, jalan nasional Bandung-Garut itu selalu macet akibat banjir. Untuk beberapa kasus, dia akan memilih tak bepergian demi menghindari macet akibat banjir.

Kejadian yang dialaminya, mungkin hanya salah satu contoh tersendatnya aktivitas warga akibat banjir Rancaekek (orang di sekitar menyebut, banjir Kahatex). Mungkin masih banyak ratusan warga lainnya yang mengalami kerugian akibat banjir tersebut. Mereka tak hanya terkorbankan aktivitasnya, tetapi juga menanggung kerugian materi dan moril.

Bagi mereka yang menggunakan kendaraan roda empat dan telanjur terjebak macet akibat banjir, akan rugi bahan bakar akibat macet. Belum lagi kerugian akibat keterlambatan. Pada medio 2002 hingga 2008, kala itu saya selalu bolak-balik melintasi jalur tersebut. Tak ada banjir seperti itu. Kalaupun hujan deras, hanya ada genangan air setinggi mata kaki. Namun jalan masih bisa dilewati.

Satu-satunya penyebab macet di jalur tersebut hanya pada jam-jam pulang dan masuk kerja buruh pabrik Kahatex. Kini situasi telah berbeda. Pembangunan terus terjadi di kawasan tersebut. Bahkan, tak hanya jalan yang macet, ratusan rumah di kawasan tersebut pun terendam banjir. Air bahkan merendam rumah hingga 1,5 meter. Sebenarnya, upaya memitigasi penyebab banjir di kawasan tersebut telah menemukan titik temu. Salah satunya disebabkan bangunan di sekitar Sungai Cikijing.

Pemerintah menyebut, bangunan itu milik PT Kahatex. Sebuah perusahaan tekstil yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu. Beberapa bulan lalu, Pemprov Jabar menyebut, manajemen Kahatex mau membongkar bangunan tersebut. Walaupun hingga kini kita belum tau realisasinya seperti apa. Bukti masih adanya banjir. Itu menjawab belum tuntasnya penanganan banjir di kawasan tersebut.

Banyak pertanyaan muncul, sesulit itukah mengatasi banjir menahun di jalur tersebut. Saya kira bila ada keseriusan, tak ada yang tidak bisa dicari solusinya. Mencari ahli yang mampu mengatasi banjir, bukan hal sulit di negeri ini. Banyak orang pintar lulusan sarjana teknik yang mampu memitigasi penyebab banjir dan mencari solusinya. Lalu apa lagi yang ditunggu.

Apakah menunggu jalur tersebut menjadi Dayeuhkolot kedua yang banjirnya tak pernah teratasi. Banjir di jalur Bandung-Garut bukan banjir yang disebabkan sejak lama. Beda dengan banjir di Dayeuhkolot, yang memang sudah rawan banjir sejak dahulu kala. Artinya, banjir di sekitar Kahatex adalah banjir yang disebabkan manusia. Dengan kata lain, banjir di kawasan tersebut bisa di atasi.

arif budianto

Wartawan KORAN SINDO