Edisi 20-03-2017
Padukan Debus Dan Unsur Mistis


Alunan suara dogdog berpadu dengan iringan suara terompet menyayat hati, sejumlah orang bergerak tak beraturan menyerupai kera, harimau, dan sejumlah hewan buas lainnya di tengah kerumunan ribuan pasang mata yang memadati halaman kantor Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, kemarin.

Meski siang itu matahari terasa menyengat kulit, namun tak menyurutkan antusias ribuan warga yang sejak pagi tumplek di sekitar kantor desa tersebut. Ramai dan semarak. Itulah yang tergambar saat sembilan kelompok seni buhun Reak Bangbarongan asal Desa Pamulihan saling unjuk kebolehan dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-43 Desa Pamulihan di halaman kantor desa tersebut.

Pentas seni buhun yang konon sudah ada di desa tersebut sejak zaman penjajahan Belanda ini memang dinanti masyarakat setempat karena dalam beberapa tahun terakhir tak pernah dipentaskan dalam hajat tahunan desa. Pelindung Lingkung Seni Pusaka Medal Jaya (PMJ) Komarudin mengatakan, seni reak memang dikenal sebagai seni tradisi khas Jawa dan Bali.

Namun, seni Reak Bangbarongan asal desanya ini memiliki karakteristik dan kekhasan tersendiri. Perbedaannya, seni Reak Bangbarongan asal desanya lebih menonjolkan sosok bangbarongan yang dipadukan dengan atraksi debus dengan nuansa mistis. “Selama prosesi pentas, hampir seluruh pelaku kasurupan (kerasukan), selama itu pula mereka tak henti bergerak dan digerakan sosok yang merasukinya.

Ada yang seperti kera, maung, buaya, dan jenis hewan lainnya. Kebiasaan yang unik, sebelum mereka kembali ke alam sadarnya, mereka terus meminta pawang untuk tak henti memecut tubuh mereka. Ini perbedaan yang menonjol seni reak asal desa kami dengan daerah lainnya,” ujar Ketua RW 06 ini kepada KORAN SINDO kemarin.

Kepala Desa Pamulihan Tata Suntia Purnama mengungkapkan, pihaknya sengaja menyuguhkan seni Reak Bangbarongan khas Pamulihan ini sebagai upaya melestarikan sekaligus mengenalkan seni buhun ini kepada generasi muda. “Dalam beberapa tahun terakhir memang seni Reak Bangbarongan khas desa kami ini memang vakum.

Momen hari jadi ke -43 desa, kami jadikan ajang untuk membangkitkan kembali seni tradisi warisan turun temurun leluhur ini. Alhamdulillah, warga pun antusias dan terhibur dengan tampilnya sembilan kelompok seni reak yang mewakili sembilan RW yang ada di desa kami,” ujarnya kepada KORAN SINDO kemarin. Dia berharap, ke depan, pentas seni Reak Bangbarongan ini bisa menjadi agenda tahunan desa.

“Harapan kami seni buhun ini bisa sering dipentaskan sehingga bisa dikenal luas, tak hanya oleh masyarakat desa kami dan masyarakat Sumedang tapi juga dikenal hingga ke luar daerah,” tuturnya. Ketua DPRD Kabupaten Sumedang Irwansyah Putra yang menjadi tamu kehormatan dalam rangka milangkala Desa Pamulihan ini mengaku terpukau dengan atraksi yang ditampilkan seluruh kelompok seni reak bangbarongan asal Desa Pamulihan.

AAM AMINULLAH

Kabupaten Sumedang