Edisi 20-03-2017
Suplai Air Baku PDAM Tirtawening Minim


BAN DUNG – PDAM Tirtawening masih kekurangan suplai air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi semua warga Kota Bandung.

Saat ini, suplai air baku untuk PDAM Tirtawening baru mencapai 2.500 liter per detik. Padahal, untuk dapat memenuhi semua kebutuhan air bersih warga Kota Bandung yang mencapai 2,4 juta jiwa, idealnya suplai air baku mencapai 5.000 liter per detik. Namun demikian, Dirut PDAM Tirtawening Kota Bandung Sonny Salimi mengaku, pihaknya belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut lantaran masih terkendala dana operasional yang cukup besar.

Paling tidak, diperlukan investasi senilai Rp2,8 triliun untuk biaya operasional instalasi hingga distribusi. “Memang seharusnya pemerintah memberikan penyertaan modal sebesar Rp2 triliun. Hingga saat ini baru Rp250 miliar yang kami terima, itu artinya kami masih kekurangan sekitar Rp1,8 triliun lagi,” kata Sonny saat ditemui KORAN SINDO di ruang kerjanya, Jalan Badaksinga, akhir pekan kemarin. Walaupun demikian, dalam kurun waktu tahun terakhir, Pemkot Bandung terus melakukan tambahan dana.

Pada 2016, pihaknya mendapat penyertaan modal sebesar Rp37 miliar. Pada 2017 mendapatkan tambahan lagi Rp93 miliar. Dengan kekurangan itu, pihaknya berupaya mendapatkannya dari bisnis lain dan investor. Diakui dia, suplai air baku dalam tiga bulan terakhir cukup melimpah, karena musim hujan. Namun memasuki musim kemarau, kondisinya akan kritis karena debit air baku bisa turun hingga 50%.

Sedangkan, Kota Bandung sendiri, kata Sonny, tidak memiliki air baku yang berasal dari dalam kota. Selama ini, PDAM Tirtawening hanya mengandalkan suplai air baku dari Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. “Kebanyakan mengandalkan sumber air baku dari pengolahan di sungai, mata air, dan air tanah. Dari 36 sumur bor yang ada, hanya 28 sumur yang aktif, itu pun kapasitas airnya sudah turun hingga 50%.

Sedangkan pemanfaatan mata air yang seharusnya bisa mencapai 300 liter per detik, kini hanya mampu menghasilkan 150 liter per detik. Sisanya kami manfaatkan sungai,” jelas Sonny. Untuk itu pihaknya berharap, pemkot bisa membangun danau-danau seperti danau retensi, sehingga mampu menyediakan stok air. Sonny berpendapat, kawasan Bandung bagian utara dan selatan cukup ideal untuk pembangunan kolam retensi. Lokasi Bandung utara ke selatan, dinilai bisa meminimalisir pengeluaran operasional, karena jalurnya mengikuti gravitasi bumi.

“Kalau danaunya buatan, cost untuk memompanya pasti mahal. Dan ini akan berdampak pada harga air ke pelanggan. Biaya operasional bulanan kita saja bisa mencapai Rp9 hingga 11 miliar per bulan. Maka dari itu, lebih baik cari yang alurnya sesuai gravitasi, sehingga tidak perlu dipompa dengan mesin,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas PDAM Tirtawening Kota Bandung Kodrat Wibowo menyebutkan, pihaknya mendorong agar pusat layanan air bersih ini mampu memenuhi 100% kebutuhan masyarakat Kota Bandung.

Dengan kondisi keuangan perusahaan daerah yang makin baik, kata Kodrat, kesempatan untuk terus mendapatkan keuntungan pun akan semakin besar. “Air baku kita memang sangat terbatas, dan instalasi yang dimiliki PDAM pun sudah harus diganti karena kondisinya sudah cukup tua. Mudahmudahan dengan semakin baiknya kinerja keuangan PDAM maka semakin baik pula pelayanan terhadap pelanggannya juga,” pungkasnya.

anne rufaidah