Edisi 20-03-2017
Menjaga Rasa Khas Ingkung Jawa


Berkunjung ke Yogyakarta tak lengkap sebelum menjajal kuliner khas bernama ingkung jawa. Sajian tradisional yang dulu hanya bisa ditemukan di acara kenduri ini, beberapa tahun terakhir mulai banyak ditawarkan sebagai menu di rumah makan.

Waroeng Ndesso yang berpusat di Karangger, Guwosari, Pajangan, Bantul, menjadi salah satu rumah makan yang sering didatangi pecinta kuliner karena selain konsisten menjaga cita rasa, juga merupakan pelopor dalam menghidangkan menu ingkung jawa. Sang pemilik Yudi Susanto menyampaikan, meski kini menyajikan menu gudeg manggar dan gudeg kembang gedang, warung yang didirikan pada 9 September 2011 ini sejak awal beroperasi sudah menawarkan menu andalan ingkung jawa.

Keistimewaan menu tersebut, selain karena bumbu rempahnya, ayam yang digunakan juga merupakan jenis ayam kampung. Bukan ayam jawa super ataupun ayam potong. “Semua masakan kami tanpa MSG. Kunci kami ada pada rempah-rempah,” katanya. Meskipun menggunakan ayam kampung, ingkung ini teksturnya dijamin empuk karena sudah dipresto.

Untuk menyediakan stok ayam kampung, Yudi mengaku, membeli dari pengepul ayam dengan tidak mematok ukuran dan umurnya. Itulah yang menjadikan harga menu ingkung berbeda karena semua tergantung besar-kecil ayam yang digunakan. Menu ingkung ukuran sedang dijual Rp110.000, ukuran besar Rp120.000, ukuran jumbo Rp130.000, dan jumbo plus Rp140.000.

Untuk menu gudeg manggar, tiap porsi dibanderol harga Rp20.000. Sementara gudeg kembang gedang Rp8.000 dan wader goreng Rp10.000. Dengan cita rasa yang khas, konsumen yang pernah datang ke warung ini selalu ingin kembali menikmati kelezatan ingkung jawa. Konsumen yang datang tak hanya dari berbagai kota di Nusantara, juga kalangan artis, bahkan turis mancanegara. Menurut Yudi, untuk urusan pembuatan bumbu, hingga kini tetap dipegang kendalinya oleh sang ibu.

Dari ibunya pula, Yudi mendapatkan resep menu ingkung jawa. Ide awal memunculkan warung ingkung itu, dia hanya ingin men-support keberadaan kampung wisata batok santan yang ada di Desa Guwosari. “Dulu kami buka warung biar bisa menjadi ikon kuliner. Tidak terpikirkan menjadi terkenal seperti sekarang,” akunya. Makin banyak peminat, di Guwosari sendiri mulai bermunculan rumah-rumah makan lain yang menyediakan menu ingkung jawa.

Setidaknya hingga kini sudah ada sepuluh warung ingkung. Menjadi warung ingkung jawa yang pertama berdiri hingga menunya dikenal di kalangan pecinta kuliner, tentu didapat melalui perjuangan yang berat. Yudi mengaku, awalnya pernah seharian warungnya tak laku. Namun, kini tempat makan yang buka tiap hari pukul 09.30-19.30 WIB pada hari biasa dan hingga pukul 17.00 WIB saat hari libur itu terus didatangi konsumen.

Demi bisa melayani para konsumen yang ingin menikmati menu ingkung jawa, Waroeng Ndesso telah membuka cabang di Desa Wisata Karangtengah, Numpukan, Karangtengah, Imogiri, Bantul dan buka pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Sariyati, ibu pemilik Waroeng Ndesso menambahkan, bumbu yang digunakan sama dengan bumbu menu ingkung pada umumnya. Namun, kunci supaya cita rasanya tetap khas, takaran bumbu harus terus dijaga. “Kalau bumbu mahal, yang digunakan tetap sama. Ndak kapok pelanggane ,” ucapnya.

MUJI BARNUGROHO

Bantul