Edisi 20-03-2017
Yang Junior Tak Mau Kalah Unjuk Kebolehan Dari Senior


Suara gamelan yang dipadu berbagai alat musik tradisional terus berkumandng di Bangsal Sewoko Projo sejak Sabtu (18/3) hingga kemarin sore.

Sebanyak 18 grup karawitan putri pun menampilkan kebolehannya menyajikan gending-gendingkarawitan gaya Mataraman dan berjuang menjadi yang terbaik di Bumi Handayani alias Gunungkidul. Satu persatu tim yang terdiri para srikandi perwakilan kecamatan se-Gunungkidul mengalunkan musik tradisional dan menampilkan waranggana untuk dilihat dan didengarkan kepiawaiannya oleh dewan juri.

Para seniwati senior dan yang junior, bahkan belia tampil beradu kebolehan dalam pagelaran selama dua hari tersebut. “Ini menjadi ajang kreativitas seniwati. Kecamatan yang memang memiliki banyak seniwati senior memang menang. Namun kami juga melihat bibit- bibit muda berbakat di bidang seni karawitan ini,” ucap Kepala Seksi Adat dan Tradisi Bidang Adat Seni dan Tradisi Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Dwijo Winarto, kemarin.

Diakuinya, dalam festival ini Kecamatan Wonosari yang memiliki sejumlah seniwati kondang menjadi juara. Hanya dia juga mengapresiasi terhadap grup karawitan Kecamatan Girisubo yang berisi seniwati-seniwati muda. Bagaimanapun, keberanian menampilkan yang muda ini memberikan warna dan juga rasa percaya diri bagi pelestarian seni kebudayaan.

“Kesenian karawitan ini tidak akan pudar karena muncul bibit-bibit muda yang ternyata memilki bakat luar biasa,” puji Dwijo. Untuk waranggana atau penyanyi gending jawa terbaik, Dinas kebudayaan memberikan penghargaan kepada Sylvia Riska dari Girisubo. Walaupun masih belia dan duduk di sekolah menengah kejuruan, Sylvia tidak kalah dalam menghasilkan suara merdunya dibandingkan waranggana senior di Gunungkidul.

“Ini bukti kalau banyak bibit bibit muda yang bisa tampil dan memajukan seni karawitan Gunungkidul,” katanya yakin. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Priyanto mengatakan, dalam lomba ini, selain adanya tembang wajib yang harus dimainkan, dari sisi peserta juga ada pembatasan usia. “Setiap kelompok yang tampil tidak boleh menggunakan seniman yang usianya di atas 50 tahun,” sebut Agus.

Menurut dia, pembatasan dilakukan sebagai upaya regenerasi seniman karawitan di Gunungkidul. Dengan demikian, seniwati baru yang muncul dapat menjadi penggerak di daerah masing-masing. Hasilnya, kesenian karawitan tetap bisa lestari. “Ini juga upaya mengembalikan Gunungkidul sebagai gudang seniman dan seniwati di DIY,” tandasnya.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi tampak terkagum-kagum dengan semangat para seniwati untuk menampilkan pertunjukan seni terbaik dalam pagelaran itu. Dia semakin bangga dengan aneka kebudayaan yang terus dilestarikan dan bisa menjadikan gaung budaya di Gunungkidul lebih terasa. “Ini harus jadi momentum mengembalikan jati diri. Dan kami ucapkan selamat kepada pemenang.

Selain itu saya bangga dengan bibit bibit muda seniman dan seniwati di Gunungkidul. Inilah proses regenerasi seniman dan seniwati,” tuturnya. Dalam ajang selama dua hari itu, secara lengkap untuk penyaji terbaik diperoleh Kecamatan Wonosari, juara dua Kecamatan Semanu, dan juara ketiga Kecamatan Ponjong.

SUHARJONO

Gunungkidul