Edisi 27-03-2017
Olah Bambu Menjadi Produk Bernilai Ekonomis


Keberadaan pohon bambu di Indonesia sudah dikenal sejak dulu. Hingga sekarang pohon bambu ini masih banyak menghiasi pekarangan rumah orang.

Namun, hanya sedikit orang yang bisa memanfaatkan pohon bambu menjadi produk bernilai ekonomis. Seperti yang dilakukan Ponidi, 52, perajin tangan yang memiliki keahlian mengolah pohon bambu menjadi miniatur, kursi, dan produk lain yang terbuat dari bambu. Saat ini sudah ada 28 motif miniatur yang didesain ayah empat anak itu.

Kepada KORAN SINDO MEDAN, warga yang tinggal di Jalan Pengalir, Gang Pengalir Jaya, Kelurahan Amplas, Kecamatan Medan Amplas ini menceritakan awal mula ketertarikannya mengolah bambu menjadi berbagai jenis produk. Menurut dia, buah dari kerajinan tangannya ini merupakan warisan dari ayahnya. Semasa hidup ayahnya bekerja sebagai pemahat salah satu perusahaan ternama.

Alasannya, memilih bambu sebagai bahan pahatannya karena keberadaan kayu yang semakin sulit diperoleh sejak 23 tahun belakangan. Sementara bambu banyak ditemukan dan harganya cenderung murah. Ia pun mencoba mengolah bambu menjadi bahan dasar produk pahatannya. “Memang ayah saya suka seni memahat. Itulah yang diwariskan kepada kami.

Karena sulit mencari kayu, jadi pindah ke bambu. Saat ini sudah ada 28 motif miniatur dan beberapa produk yang saya buat,” kata dia. Berbagai macam hasil kerajinan sudah dibuatnya di antaranya kursi bambu, pelaminan bambu, miniatur mobil kuno, vespa, becak, kapal pesiar, lampu tidur, tempat kue, dan lainnya.

Meski pada dasarnya ketahanan produk berbahan dasar bambu tidak lama, ia berani menggaransikan kalau barang-barang yang dibuatnya bisa bertahan lama, puluhan hingga ratusan tahun. Terbukti, 30 tahun sudah memulai memahat beberapa miniatur sampai saat ini masih terlihat kokoh. Bahkan, ada beberapa produk peninggalan ayahnya yang terbuat dari bambu yang umurnya sudah lama sepertinya masih terlihat bagus. “Kalau kualitas, kita jamin bisa seumur hidup kita, asal tidak terkena panas dan air.

Karena kita sudah awetkan secara alami yang memakan waktu kurang lebih dua bulan,” kata dia. Sementara kendala dalam pembuatannya tidak begitu banyak, hanya bahan dasar bambu dikhawatirkan mudah pecah sehingga perlu dilakukan kehati-hatian dan ketelatenan. Sebagai pria yang selama ini bekerja di bidang bangunan, Ponidi mengakui tidak begitu banyak kendala.

Terkait proses pembuatannya, ia mengakui tergantung miniatur apa yang akan dibuat. Suami dari Misna ini mengakui saat ini masih kesulitan dalam pemasaran kepada masyarakat luas. Beruntung, ia mulai ikut beberapa pameran di Kota Medan. Dalam pameran tersebut ia mempromosikan produknya, khususnya kualitas yang dibuatnya.

Karena itu, ia berharap kerajinan tangannya mendapat perhatian serius dari pemerintah agar bisa memberikan lapangan kerja baru bagi perajin tangan berbahan bambu. Produk yang dipahatnya tersebut memiliki harga bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga jutaan. Tapi, ia berkeyakinan bahwa produk yang dibuat dengan kualitas yang baik dan tangan sendiri akan membuat pelanggannya merasa puas dan akan datang kembali.

Satu hal yang belum bisa dicapai Ponidi yakni mempekerjakan warga sekitar terkait kerajinan tangannya, khususnya kaum remaja yang selama ini tidak memiliki pekerjaan sehingga dikhawatirkan terjerumus terhadap penggunaan narkoba. “Belum bisa gaji karyawan kalau memproduksi Alhamdulillah pasti bisa, ini saja masih dibantu anak-anak di rumah, kebetulan mereka juga suka kerajinan tangan ini,” ucap dia.

IRWAN SIREGAR

Medan