Edisi 27-03-2017
Desa Miskin Yang Menjelma Kaya Raya


Mencari kantong tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, tidaklah sulit. Deretan rumah bertembok tinggi dan berpagar besi yang mentereng dengan aneka warna cat adalah salah satu tandanya.

Sebagian orang menyebutnya kampung TKI/TKW alias lumbung buruh migran. Kampung itu adalah Desa Tanggulturus. Sebuah desa di pelosok berpaut 40 kilometer arah selatan dari Kantor Pemkab Tulungagung. Desa itu berpagar deretan bukit marmer di sisi timur. Secara sporadis batuan cadas itu juga bergugusan di sebelah barat desa, khas bentang alam kawasan selatan Tulungagung. Tanah desa berwarna kemerahan. Tipikalnya liat, kering, tandus, sekaligus miskin kandungan humus.

Dari 3.300 jiwa dengan 1.300 kepala keluarga, 400 jiwa warga desa ini memilih mata pencaharian sebagai TKI/TKW. Sudah dua kali Menteri Tenaga Kerja di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertandang ke desa ini. Pada siang itu angin mengembuskan udara panas. Rasanya gerah. Debu tipis mengepul beterbangan setiap angin berhembus. Menurut Wiyono, 55, salah satu warga, sebelum tahun 1995 Tanggulturus menyandang predikat sebagai desa tertinggal.

Warganya banyak menjadi buruh tani, sebagian lain berladang di hutan yang bergantung pada air hujan dan menjadi kuli pemecah batu. Makan ketela pohon (gaplek) adalah pemandangan lumrah karena beras masih menjadi pangan mewah. “Saat itu rumah-rumah warga masih banyak yang berdinding bambu,” tutur Wiyono. Namun, siapa yang betah terus terusan hidup dalam kemiskinan? Canda getir itu menjadi spirit warga untuk berbenah. Pada 1995 keadaan perlahan berubah.

Termotivasi mendapatkan penghasilan tinggi, pekerjaan sebagai buruh tani ditanggalkan. Banyak warga desa mulai menjadi buruh migran. “Yang pertama menjadi tujuan adalah Arab Saudi. Mayoritas yang berangkat wanita,” kata Wiyono. Para perempuan yang ratarata tidak sampai mengenyam pendidikan SMA itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Sementara kaum lelaki menjadi sopir majikan. Setelah Arab Saudi, berduyun-duyun warga bekerja di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Korea, hingga Yunani.

Mereka yang bertenaga bisa bekerja di perkebunan sawit, mendulang ringgit sekuat kuatnya. Saat upah minimum kabupaten (UMK) Rp1 juta, para buruh migran itu sudah bisa mengantongi penghasilan Rp6-7 juta per bulan. Tak heran dalam sekejap dinding bambu rumah mereka pun berganti tembok kokoh tinggi menjulang. Atap asbes murah berganti genting pabrikan. Tak sedikit rumah warga desa yang berdiri dua lantai lengkap dengan pagar besi mewah.

Rumah yang masih dalam proses pembangunan menandakan pemiliknya belum lama ke luar negeri. Isi rumah pun dilengkapi dengan mebeler mencolok. Tak jarang ada kamar mandi rumah yang dilengkapi fasilitas air panas dan dingin. “Setiap rumah minimal punya satu mobil. Tidak jarang yang kategorinya mewah. Belum lagi membeli tanah di mana-mana. Mereka mendadak menjadi tuan tanah,” ungkap Wiyono. Para butuh migran itu membeli tanah sawah, ladang, kebun, bahkan memborong lahan pekarangan. Perilaku mereka membuat harga tanah di kampung itu melambung.

Banderol untuk satu Ru (sekitar 14 meter persegi) tanah di pinggir jalan aspal bisa mencapai Rp10 juta. Sementara harga pasaran masih sekitar Rp2 juta. “Mungkin karena duitnya banyak, mereka (buruh migran) tak pernah menawar harga tanah. Mereka langsung membayar berapa pun harga yang ditawarkan penjualnya,” tutur Mashuri, warga Desa Tanggulturus yang lain.

Kini beberapa buruh migran menjadi pengusaha pertanian, mengupah orang menjadi buruh tani untuk sawah mereka. Sebagian membangun usaha toko material, bisnis marmer, jual beli mebeler, membuka salon kecantikan, hingga rumah makan. Penampilan mereka sehari-hari berubah drastis. Dari tatanan rambut dan warnanya sudah bisa membedakan mana warga biasa dan buruh migran. Mereka adalah orang kaya baru.

bersambung

SOLICHAN ARIF

Tulungagung