Edisi 27-03-2017
Main Petak Umpet, Bocah SD Dicabuli


PASURUAN – Ini peringatan bagi orang tua agar selalu waspada terhadap buah hatinya saat bermain di sekitar rumahnya. Awasi anak bermain, sekalipun ada tetangga dekat.

Seperti dialami siswi kelas dua SD di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Karena kurang mendapat pengawasan, bocahbaukencurinimenjadisasaran kebiadaban tetangganya. Polisi yang mendapat laporan dari orang tua korban, segera mengamankan pelaku, MSK, 47, beserta barang bukti kejahatannya. Saat ini pelaku yang nyaris menjadi sasaran amarah warga tersebut, diamankan di tahanan Mapolsek Gempol.

Peristiwa nahas ini terjadi pada pekan lalu. Saat itu korban dan teman seusianya tengah bermain petak umpet di halaman belakang rumah tersangka. Di tengah permainan, tersangka memanggil korban agar masuk ke dalam rumahnya. Setelah dibujuk rayu oleh pelaku, akhirnya korban masuk ke dalam rumah. Tersangka pun mulai melampiaskan nafsu bejatnya. Iamenariktubuhkorban dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

Korban yang bertubuh mungil ini tidak bisa melakukan perlawanan terhadap ulah bejat tetangganya. Korban pun semakin tidak berdaya setelah tersangka memberikan ancaman agar tidak menceritakan kejadian tersebut. “Korban ketakutan untuk bercerita. Setelah didesak, korban akhirnya mengaku telah disetubuhi tetangganya,” kata Kapolsek Gempol Kompol I Nengah Darsana, kemarin.

Menurut Kapolsek, diketahuinya perbuatan bejat pelaku ini setelah pihak keluarga merasa curiga atas perubahan sikap korban yang kerap mengeluh sakit pada kemaluannya. Namun, ketika ditanya, korban berusaha menyembunyikan kejadian yang dialaminya. Setelah mendapatkan laporan, petugas Polsek Gempol mendatangi lokasi dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi.

Pelaku yang semula berkelit, akhirnya mengakui perbuatannya setelah petugas menunjukkan bukti-bukti perbuatannya. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat 1 UU Nomor 35/2014 perubahan dari UU/2002 tentang Perlindungan Anak. “Saat kami tangkap, tersangka ini sempat berkelit dan tidak mengakui perbuatannya.

Namun, setelahkamitunjukkan bukti-buktinya, tersangka tidak bisa mengelak,” tandasnya. Tercatat, angka kriminalitas di Kabupaten Pasuruan selama 2016 meningkat dibandingkan 2015. Dari data yang ada, tahun 2016 terdapat 819 kasus kriminalitas. Sementara pada tahun sebelumnya hanya ada 763 kasus kriminalitas. Dari data itu, dapat dinyatakan bahwa ada kenaikan tren kejahatan sebesar 2,37% dari tahun sebelumnya. Kasat Reskrim Polres Pasuruan AKP M Khoirul Hidayat tidak menampik bahwa ada kenaikan angka kriminalitas.

Namun, ia menyebut bahwa pihaknya juga berupaya untuk selalu mengungkap setiap kejadian kriminalitas yang ada. “Kami genjot terus setiap hari. Anggota saya minta untuk bekerja keras di lapangan agar pelaku kriminalitas ini tertangkap semua dan tidak meresahkan masyarakat,” katanya. Menurut Khoirul, dari jumlah itu, ada satu kasus kriminalitas yang membuatnya sedikit geram dan miris jika melihatnya.

Ia menjelaskan, tren kejahatan, untuk kejahatan seksual yang menimpa anakanak yang terus meningkat. Bahkan, peningkatannya pun cukup signifikan. “Pada 2015 lalu, ada 51 kasus. Pada 2016, ada 71 kasus. Ada kenaikan sekitar 20 kasus,” paparnya. Dia menyebutkan, dari beberapa permasalahan pencabulan yang ditanganinya ini, pemicu terjadinya hal itu karena kurangnya peran serta orang tua.

Korban atau pelaku ini mayoritastidakmendapatkanperhatian dari orang tua. Mereka pun rata-rata berasal dari keluarga yang kurang harmonis. “Perhatian mereka kurang sehingga mereka tidak diawasi pergaulannya,” jelasnya. Dia mengimbau, orang tua itu harus berperan aktif dalam membantu tumbuh kembang anaknya. Artinya, orang tua tidak boleh melepaskan atau menitipkan anak-anaknya ke sejumlah pihak.

arie yoenianto