Edisi 11-01-2017
Danais 2017 Rp853,9 M, Kebudayaan Dominan


YOGYAKARTA – Dana Keistimewaan (Danais) 2017 yang digelontorkan pemerintah pusat sebesar Rp853,90 miliar.

Angka ini meningkat pesat dibanding dengan tahun 2016 yang hanya Rp547,45 miliar. Danais 2017 ini setengahnya untuk urusan kebudayaan. Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset (DPPKA) DIY Bambang Wisnu Handoyo mengatakan alokasi untuk urusan kebudayaan sebesar Rp439 miliar. Kemudian urusan tata ruang Rp325,8 miliar, urusan pertanahan Rp17,1 miliar, dan urusan kelembagaan Rp14,2 miliar. Urusan kebudayaan mendapat porsi anggaran terbanyak untuk semakin memantapkan Yogyakarta sebagai kota budaya.

Anggaran urusan kebudayaan akan dititikberatkan membiayai membangun atau perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang kebudayaan. “Anggaran kebudayaan lebih diperhatikan. Bukan hanya kegiatan budaya, tapi lebih ke sarana penunjang budaya,” kata Bambang, kemarin. Sementara Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono mengatakan, alokasi urusan kebudayaan dari Danais 2017 meningkat Rp19 miliar dibanding dengan tahun sebelumnya. Tahun ini Rp439 miliar sedangkan tahun lalu hanya Rp420 miliar. Anggaran urusan kebudayaan akan disebar ke sejumlah dinas, seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Badan Lingkungan Hidup, dan lainnya.

Dikatakannya, anggaran urusan kebudayaan untuk Disdikpora DIY antara lain sejumlah sekolah jenjang SMA/SMK diberi Rp1 miliar untuk pengembangan laboratorium seni budaya. “Program laboratorium seni budaya tergolong baru, dimulai pada 2016 dan mendapat respons positif dari sekolah,” katanya. Sasaran program ini adalah SMA/SMK di DIY, terutama yang sudah memiliki bekal pengembangan seni budaya. “Kenapa harus dikembangkan seni budaya, karena separuh dari otak kita itu art . Biasanya kan laboratorium itu komputer, biologi, nah ini seni budaya,” kata Umar.

Disebutkannya, anggaran Rp1 miliar untuk laboratorium seni budaya antara lain pengadaan perlengkapan, seperti seperangkat karawitan berbahan perunggu senilai Rp400 juta. Pada 2016, program sudah berjalan di dua sekolah, yakni SMA N 2 Bantul dan SMK N 1 Wates Kulonprogo.

Ridwan anshori