Edisi 27-03-2017
Marak Isu Penculikan, Polisi Terjun ke TK


PONOROGO– Serangkaian upaya digelar Polres Ponorogo untuk menenangkan masyarakat akibat kabar bohong (hoax) tentang maraknya penculikan dan penjualan organ tubuh anak-anak. Salah satunya dengan menerjunkan anggota polisi ke TK dan SD.

Wakapolres Ponorogo Kompol Saswito menyatakan, sejak pertengahan pekan ini Kapolres Ponorogo telah mengeluarkan Maklumat Kapolres dengan nomor Mak/1/III/2017. Maklumat ini mengandung ancaman pidana sesuai UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu bagi orang-orang sengaja menyebarkan informasi yang meresahkan masyarakat seperti kabar tenteng penculikan anak.

“Ini agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan memfilter informasi yang diterimanya,” ujar Kompol Saswito, kemarin. Selain itu, sejumlah anggota kepolisian dari jajaran Bimas, Polsek, dan Babinkamtibmas, dikerahkan untuk mendatangi sekolah-sekolah di Ponorogo. Mereka memberi penjelasan kepada para guru dan orang tua tentang kabar bohong penculikan tersebut sekaligus mengingatkan mereka agar selalu hati-hati dan waspada.

“Setelah mengeluarkan maklumat, pada Kamis (23/3) anggota sudah turun ke sekolah- sekolah memberikan penjelasan bahwa berita penculikan itu tidak benar. Kabar ini kan membuat masyarakat resah,” kata Kasubbag Humas Polres Ponorogo AKP Sudarmanto. Menurut AKP Sudarmanto, kegiatan yang dilakukan Babinkamtibmas dan Bimas Polres untuk wilayah Ponorogo akan dilakukan hingga keresahan masyarakat mereda.

Selain meminta masyarakat tidak terprovokasi dan terpancing kabar yang tidak benar itu, pihaknya juga mengimbau agar kewajiban lapor bagi tamu bermalam di masing-masing lingkungan bisa diaktifkan kembali. Menurutnya, cara ini efektif mendeteksi berbagai kegiatan masyarakat yang melibatkan tamu atau orang asing di lingkungannya.

Antisipasi dengan Guwakhoax

Santernya hoax khususnya untuk kasus penculikan, tidak hanya menjadi perhatian para petinggi negeri ini. Para pelajar pun turut prihatin dengan maraknya hoax di media sosial yang tak jarang lebih dipercaya sebagai sumber informasi ketimbang media massa.

Keprihatinan para pelajar ini diwujudkan dengan gerakan antihoax bertajuk #guwakhoax yang digelar di arena car free day Ponorogo di Jalan Suromenggolo, kemarin. Di sela ribuan warga yang menikmati pagi tanpa polusi ini, puluhan anggota Ekskul Jurnalistik SMAN 3 Ponorogo berkeliling membagikan brosur dan mengajak warga agar tidak mudah percaya dengan informasi palsu di media sosial yang hadir di telepon genggam mereka. “Guwak (bahasa Jawa) itu artinya membuang, hoax artinya berita bohong.

Jadi kami berupaya mengajak warga meninggalkan berita yang tidak berdasar fakta atau berita bohong,” ungkap Ketua Ekskul Jurnalistik SMAN 3 Ponorogo Intan Dessy Ekasari, kemarin. Menurut Intan, saat ini masyarakat masih terlalu mudah percaya dengan kabar yang tersebar sebagai pesan berantai melalui aplikasi perpesanan, seperti WhatsApp, BBM, Line, WeChat, Instagram, Facebook, dan lainnya.

Padahal sering kali tulisan atau kabar yang dikirimkan dan kemudian terkirim ulang tersebut tidak didasarkan pada fakta atau kebenaran. “Sumbernya banyak yang bohong. Itu kemudian merugikan seperti munculnya ketakutan, keresahan berlebihan, dan bisa sampai pada kebencian,” ungkap gadis berjilbab ini. Dikatakannya, dari aksi bersama kawan-kawannya kali ini ia melihat masih banyak warga tidak sadar dengan beredarnya hoax. “Banyak yang dengar saja kata hoax , tapi tidak tahu artinya.

Nah, tadi akhirnya banyak juga yang tanya dan akhirnya kita jelaskan,” ujarnya. Karni, 53, salah satu warga mengatakan, sebenarnya ia sudah sering mendengar kata hoax. Namun baru pagi kemarin, ia mengetahui arti dari kata yang populer akhir-akhir ini. “Ya kalau kabar bohong memang harus ditolaklah. Saya setuju dengan adik-adik ini. Jangan sampai negara kita ini saling benci, tercerai berai akibat hoax.

Benar, hoax ya harus diguwak (dibuang),” ujar pesepeda yang kemarin datang ke CFD bersama istrinya ini. Menurut Karni, tips memilih informasi yang ada di brosur #guwakhoax para pelajar ini cukup membantu menyeleksi sebuahkabarmungkin nangkring di ponselnya. Dikatakannya, ajakan memilih informasi yang dibutuhkan, melihat kelengkapan tulisan seperti penulis, tata cara penulisan dan sumber rujukan, kompetensi orang-orang yang dikutip oleh tulisan sampai mencari sumber berita pembanding. “Ini mudah saja diterapkan. Dan ya memang harus memfilter kabar-kabar kok kalau kita tidak ingin terjerat hoax . Bisabisa kita tertipu juga kalau tidak selektif terhadap informasi,” ujarnya.

dili eyato