Edisi 27-03-2017
(Tidak) Berterima Kasih Pada Isu Penculikan


Beberapa waktu terakhir masyarakat Surabaya diresahkan dengan isu penculikan anak. Isu itu diembuskan lewat sebuah pesan berantai yang seolah-olah disampaikan oleh instansi kepolisian.

Masyarakat begitu mudah percaya dan media membuatnya semakin parah. Kamis (23/3) lalu, lagilagi masyarakat dihebohkan dengan penangkapan seorang perempuan yang diduga hendak melakukan penculikan di SD Negeri Mojo I. Memang tidak ada peristiwa atau perbuatan perempuan itu menculik anak, yang ada adalah dia dipergoki sempat membuka tas milik salah seorang siswa di ruang kelas sebelum diamankan.

Ulah perempuan misterius ini diketahui penjaga sekolah. Dia berteriak sehingga wali murid yang sedang menunggu anaknya langsung mendatangi perempuan misterius itu. Tak cukup sampai di situ, perempuan naas itu diberitakan sempat terkena pukulan warga yang emosi. Agar situasi tidak bertambah parah, kepala sekolah menghubungi Polsek Gubeng. Masyarakat benar-benar berjubel di sekolah tersebut. Sampai-sampai, polisi memberi pengawalan ketat saat membawa perempuan itu ke Mapolsek Gubeng.

Keesokan harinya, berita tersebut berlanjut. Perempuan itu diketahui bernama Solehah, berusia 37 tahun. Kapolsek Gubeng Kompol Agus Bahari dengan tegas memberi keterangan, bahwa Solehah bukan penculik anak. Dia hanya seorang gelandangan yang mengidap gangguan jiwa. Sebab itu, Jumat (24/3), wanita tersebut diserahkan ke Liponsos Pemkot Surabaya.

“Indikasinya saat dilakukan pemeriksaan, bicaranya tidak jelas dan ngelantur . Kami sudah memeriksa dan meminta keterangan dia (Solehah) dan keluarga. Ternyata dia sudah tiga kali keluar masuk Liponsos,” kata Kompol Agus. Untuk meredakan kekhawatiran masyarakat, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sudah mengimbau agar masyarakat bijak dalam menyikapi banyaknya informasi di media sosial tentang penculikan anak. “Saya sudah menelepon Kapolrestabes Surabaya.

Secara umum, informasi itu tidak benar alias hoax ,” kata Gus Ipul. Terkait berbagai informasi di media sosial, Gus Ipul meminta masyarakat tidak resah namun tetap waspada karena isu utama yang harus diwaspadai sebenarnya adalah bahaya narkoba serta kekerasan seksual terhadap anak termasuk juga pedofilia.

“Ada bahaya narkoba dan kekerasan seksual pada anak sehingga orang tua harus tetap waspada untuk menjaga anakanak kita,” kata Gus Ipul. Sesudah dan sebelum peristiwa ini terjadi, banyak pihak yang sudah berkali-kali memberi imbauan agar masyarakat tidak terpengaruh isu tersebut. Tapi faktanya, masyarakat lebih dulu apriori tapi malah menelan mentah-mentah “kabar-kabur “ yang diembuskan lewat media sosial.

Anak-Anak Ketakutan

Imbas isu penculikan anak tersebut sungguh luar biasa. Salah satu kondisi mencekam terjadi di TK Mojo Indah. Para orang tua menjadi berlebihan perhatiannya kepada anak. “Orang tua itu banyak yang terus saja menunggu di pagar. Mereka mengawasi anak-anak mereka yang sedang sekolah,” kata Yulinawati, guru TK B Mojo Indah, kemarin.

Dia mengaku terpaksa memberi pengertian kepada para orang tua agar segera pulang agar murid-murid bisa belajar dengan tenang. “Bisanya para orang tua habis mengantar langsung pulang. Tapi kali ini banyak yang menunggu, sampai inguk-inguk di pagar terus. Saya sudah bilang kalau penculikan itu hanya isu,” kata perempuan yang pernah meraih penghargaan guru TK terbaik se-Surabaya ini. Ternyata masalah tidak hanya kekhawatiran para orang tua yang berlebihan.

Di dalam kelas, salah satu anak didiknya menangis terus tidak berhentihenti. “Saya heran juga. Sampai Nabila (murid yang menangis) itu dipangku Bu Yani (guru lainnya) tapi tetap menangis. Setelah dibujuk, akhirnya dia mengaku takut diculik. Aduh, saya semakin tidak habis pikir,” ucap perempuan beranak empat ini.

Menurut dia, seharusnya orang tua juga turut berperan menyaring informasi yang ada, bukan melakukan dramatisasi dan generalisasi sehingga ketakutan semakin menyebar. Meski demikian, lanjutnya, isu penculikan itu tidak bisa dipungkiri ada dampak positifnya. “Orang tua yang selama ini tidak peduli, menjadi lebih care pada anaknya. Tapi kalau sudah seperti ini, keterlaluan. Anak malah ditakut-takuti penculikan sampai jadi ketakutan, menangis seharian,” ungkapnya.

Jitu untuk Alihkan Isu

Pengamat sosial Andri Ariyanto menjelaskan, hoax ataupun tidak, isu penculikan anak tetap harus menjadi perhatian serius semua kalangan, baik keluarga, lingkungan, maupun pemerintah. Dalam sebuah kelompok sosial, kata dia, anak merupakan kelompok rentan terhadap kekerasan, sasaran kejahatan, hingga pelecehan seksual. “Maka, perhatian isu ini harus lebih diperdalam dan dipertajam,” kata dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).

Kata Andri, isu penculikan anak menjadi sebuah fenomena. Salah satu sisi bisa memiliki dampak buruk khususnya anak sebagai korban dan tentunya keluarga, di sisi lain pihak yang “pelaku tertuduh” (meski belum tentu melakukan) juga membawa dampak lebih buruk lagi. “Tuduhan yang berkembang dan beredar di media, khususnya medsos, sudah memberikan tipologi pelaku kejahatannya.

Padahal belum terbukti kebenarannya. Tipologinya yaitu pemulung atau orang yang berpura-pura gila,” kata dia. Dampak yang ditimbulkan dari fenomena penculikan anak ini, lanjut Andri, tentunya menjadi fobia keluarga dan masyarakat. “Saat tipologi terbentuk, begitu melihat pengemis atau pemulung, langsung dianggap penculik yang menyamar,” ucapnya sambil tersenyum. Soal kemungkinan lain, jika penculikan anak ini hanya sebuah pengalihan isu, Andri mengakui memang sangat jitu.

Masyarakat akan dengan mudah terhanyut. Belum lagi peran media yang sering kali hanya mengejar oplah atau rating berita. “Iya (isu penculikan) bisa efektif, memunculkan kegelisahan di masyarakat. Tapi benar, garagara isu itu orang tua jadi lebih perhatian,” ucap Andri sambil tertawa. Sementara itu, pengamat komunikasi Kukuh Yudha mengkritisi media dalam memberi porsi sebuah pemberitaan terkait dampaknya kepada masyarakat.

Media memang punya kecenderungan mengamplifikasi isu-isu yang sedang mendapat banyak sorotan, semisal penculikan. Watak media adalah, saat melakukan amplifikasi, berubah menjadi dramatisasi alias narasi yang berlebihan dengan aspek suspense lebih mengemuka ketimbang fakta. Dalam banyak pemberitaan, yang mengemuka kemudian justru salah tangkap/salah duga ketimbang penculikan itu sendiri.

Pengajar Universitas Ciputra ini berharap media lebih teliti menyaring pemberitaan sekiranya menimbulkan dampak buruk di masyarakat. Jangan malah membesarkan berita buruk tersebut. “Adagium bad news is good news mestinya difilter lebih ketat, karena over dramatisasi pada kabar buruk (penculikan) yang sebenarnya salah duga, mengarah pada terbentuknya kecemasan sosial pada kognisi/pikiran pembaca baik sadar maupun tidak. Pada tahap ini, prinsip good news is also good news menjadi perlu diartikulasikan,” tandas Kukuh.

zaki zubaidi