Edisi 20-03-2017
Longsor Hambat Madina-Natal


MANDAILING NATAL– Belasan titik di jalan provinsi dari ibu kota Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Penyabungan menuju kawasan Pantai Barat Natal saat ini tertutup longsor.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) diminta segera bertindak karena menghambat pengguna jalan. Titik-titik longsor tersebut berada di Kecamatan Lingga Bayu. Di daerah itu sedikitnya terdapat lima titik longsor. Lalu di Kecamatan Batang Natal meski terbilang lebih sedikit namun kondisinya parah dari wilayah lain.

Di kecamatan itu juga terdapat badan jalan yang ambles akibat abrasi Sungai Batang Natal mengalir hampir di sepanjang badan jalan. Di Kecamatan Batang Natal, tepatnya di Desa Bulu Soma, terpaksa dilakukan sistem buka tutup jalan. Longsor juga memaksa kendaraan yang melintas harus bergantian sehingga sering terjadi kemacetan. “Banyak longsor, maka lama sampai ke Natal atau Penyabungan,” ujar Seri Pardamaian Harahap, 32, sopir Taxi Aek Mais kepada wartawan ketika ditemui kemarin.

Menurut dia, kondisi tersebut kerap terjadi apabila terjadi cuaca ekstrem. Apalagi kondisi geografis sepanjang badan jalan dikelilingi perbukitan rawan longsor sehingga perlu ekstra hati-hati. “Kalau hujan pasti ada longsor, karena di pinggir badan jalan bukit,” tuturnya. Dia berharap kepada pemerintah agar badan jalan tersebut segera dilebarkan sehingga apabila terjadi longsor tidak perlu buka tutup jalan.

Ironisnya, banyak warga setempat memanfaatkan kondisi tersebut dengan berpura-pura memperbaiki badan jalan, selanjutnya meminta uang kepada pengendara. Untuk sepeda motor mereka mematok harga Rp2.000 sedangkan mobil Rp5000. Apabila pengemudi tidak memberikan uang, warga tersebut tidak sungkan mengeluarkan kata-kata kasar. Asmin Harahap, salah seorang sopir travel, mengeluhkan banyak kutipan liar yang harus dibayarkan sebelum sampai ke tujuan.

“Modusnya pura-pura menimbun badan jalan, setelah itu mereka meminta uang kepada pengendara yang melintas,” katanya. Kutipan tersebut sangat merugikan pengendara karena harus mengeluarkan uang hingga Rp5000 setiap melintas. Dia berharap pihak penegak hukum segera menindak pelaku pungli badan jalan itu karena memberatkan para sopir yang melintas di kawasan itu.

Anggota DPRD Madina Arsidin Batubara berharap kondisi ini menjadi perhatian Pemprovsu. SebabuntuksampaikeNatal, pengendara harus menempuh jarak 900 kilometer. “Banyak badan jalan mengalami kerusakan namun belum diperbaiki. Longsor sudah menjadi tradisi karena hampir sepanjang jalan dikelilingi perbukitan.

Harusnya pemprov memikirkan cara memperbaiki badan jalan itu, karena jalan itu akses utama menuju Pantai Barat,” katanya. Dia juga mengaku kecewa dengan pungli tersebut karena membuat pengendara tidak nyaman. “Saya berharap warga yang biasa melakukan tindakan itu berhenti karena sikap tersebut sudah melanggar hukum,” ujarnya.

zia ul haq nasution