Edisi 20-03-2017
Bawa Penelitian Terbaik, Pulang Dengan Dua Medali


Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mencetak prestasi di kancah Internasional. Tak tanggungtanggung, dua medali berhasil dibawa pulang oleh dua tim UII dalam ajang 2nd Istanbul International Inventions Fair (ISIIF) 2017 di Istanbul, Turki pada 2-4 Maret 2017.

Kedua tim tersebut ialah Tim 1 UII yang beranggotakan Muhammad Alfan Auliya dari Prodi Kimia, Mohamad Rahman Suhendri dari Prodi Pendidikan Dokter, dan Sandy Vrianda dari Prodi Teknik Informatika. Mereka berhasil mendapat medali perak. Sedangkan Tim 2 UII beranggotakan tiga mahasiswi dari Fakultas Kedokteran, yaitu Finanda Nisa Amani, Siska Marina, dan Diva Avissa, berhasil membawa pulang medali perunggu.

“Tim kami mengusung inovasi tentang kesehatan mental. Inovasi ini berawal dari keprihatinan kami terhadap krisis mental yang tidak pernah ada ujungnya. Terlebih di kalangan mahasiswa yang notabene rentan terhadap penyakit mental seperti depresi dan anexietas,” papar Alfan Auliya, kemarin. Alfan menjelaskan, guna membantu mengatasi penyakit mental di kalangan mahasiswa, mereka membuat aplikasi Android yang tujuannya memudahkan mahasiswa terhubung dengan peer counselor ataupun expert counselor secara langsung.

Ide aplikasi tercetus lantaran hampir seluruh universitas di Indonesia memiliki komunitas peer c onselor yang saling terkoneksi ke berbagai penjuru di Indonesia. “Untuk pengembangan ke depan, perlu dilakukan penelitian dan pengembangan aplikasi lebih dalam lagi. Sehingga aplikasi ini siap diakses dengan mudah kapan dan di mana pun secara gratis oleh seluruh mahasiswa di Indonesia.

Dengan begitu dapat menurunkan permasalahan mental yang terjadi di lingkup mahasiswa,” ungkap Alfan. Sementara Tim 2 UII membawa penelitian terkait kolaborasi tema tentang kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan. Dari kolaborasi itu terciptalah GREENTI sebagai green tissue aromatherapy . Kelebihan produk tersebut ialah pemanfaatan material limbah kulit singkong sebagai pengganti bahan baku utama tisu yang pada umumnya menggunakan kayu.

“Pemilihan material limbah kulit singkong sendiri karena mempertimbangkan tingginya angka deforestasi di Indonesia. Dengan beralih ke bahan lain, kami berharap produk ini juga mampu menjadi contoh alternatif untuk menurunkan tingkat penggundulan hutan yang marak terjadi dalam beberapa dekade terakhir,” ucap Finanda Nisa.

Menurut Finanda, kulit singkong tergolong ramah lingkungan serta memiliki kadar selulosa yang tinggi. Dengan kadar selulosa antara 80-85%, kulit singkong setara dengan kayu untuk membuat tisu dan kertas. Hal tersebut merupakan poin yang cukup krusial karena bahan baku utama pembuatan tisu adalah selulosa. “Kami berharap dengan memanfaatkan potensi ini dapat mengurangi kontribusi sampah dari kulit singkong.

Terlebih selama ini limbah tersebut masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Pemanfaatannya paling sebagai pakan hewan atau hanya dibuang begitu saja karena dianggap tidak memiliki nilai jual,” tuturnya. Ajang ISIIF merupakan arena inovasi tahunan bergengsi dan terbesar di Istanbul.

Kompetisi tersebut juga bertindak sebagai wadah bagi para investor dunia untuk mencari para penemu dan teknologi hasil penelitian dari seluruh dunia agar dapat dikomersialkan. Untuk ISIIF 2017 sendiri diikuti lebih dari 300 tim berpengalaman dari 32 negara seperti Turki, Jepang, China, India, dan Pakistan.

RATIH KESWARA

Yogyakarta