Edisi 27-03-2017
Pekalongan Terancam Macet Parah


SEMARANG– Kemacetan parah bakal menghantui Kota Pekalongan pada arus mudik Lebaran 2017 menyusul akan dioperasikannya Tol Pemalang-Batang untuk dilalui pemudik.

Meski baru menyelesaikan 40% dari total pengerjaan jalan sepanjang 37 km, pemerintah tetap akan mengoperasikan jalan tol tersebut untuk memperlancar arus mudik. Sejumlah kalangan meminta pemerintah menunda pengoperasian jalan tol itu jika tidak ingin tragedi Tol Brexit (Brebes Exit) pada arus mudik Lebaran 2016 lalu terulang.

Pengamat transportasi publik Kota Semarang, Djoko Setijowarno, jika Tol Pemalang- Batang belum berfungsi, maka kemacetan akan menumpuk di Pekalongan. “Akan terjadi macet parah di Pekalongan. Sebab Pekalongan jalurnya hanya satu yakni melalui pusat kota. Pasti akan macet parah karena tidak ada alternatif jalan lain,” kata dia, kemarin. Menurut Djoko, setidaknya Jalan Tol Pemalang-Batang harus bisa dilewati saat musim Lebaran tiba tahun ini.

Jika hal itu bisa dilakukan, maka kemacetan tidak akan terjadi begitu parah. “Kalau sudah keluar Batang, itu jalanan sudah lebar dan banyak alternatif jalannya. Memang Tol Pemalang-Batang harus bisa dilewati, meskipun pembangunannya belum selesai. Yang penting bisa digunakan dulu dan jangan ditarik biaya karena memang belum beroperasi,” katanya.

Jika ruas Tol Pemalang-Batang tetap tidak bisa selesai saat mudik Lebaran nanti, kata Djoko, satu-satunya cara agar tidak terjadi penumpukan kendaraan dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Pemerintah harus mempersiapkan kendaraan-kendaraan umum lain semisal kereta api, kapal laut, dan pesawat untuk mengangkut pemudik.

Selain itu, pemerintah harus menekankan program mudik bersama yang diselenggarakan perusahaan-perusahaan di Jabodetabek. Dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan tidak akan terjadi begitu parah. “Kalau toh Tol Pemalang-Batang tidak bisa diselesaikan, maka pemerintah harus mengoptimalkanperanangkutanumum. Tanpa hal itu, maka kemacetan pasti akan terjadi dan sangat parah. Tidak menutup kemungkinan kemacetan musim mudik Lebarantahunlaluakankembali terulang,” katanya.

Perbaiki Jalur Alternatif

Sejumlah persiapan dilakukan Pemkab Batang menyambut dibukanya Tol Pemalang- Batang pada arus mudik Lebaran 2017 nanti. Salah satunya dengan memperbaiki sejumlah ruas jalur alternatif pintu keluar Tol Batang. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Batang Nasikin mengaku sudah mengidentifikasi sejumlah jalan yang kemungkinan akan dijadikan sebagai jalur alternatif pintu keluar Tol Batang.

“Semoga tol sudah bisa dilalui Lebaran kali ini. Kami sudah mengidentifikasi jalan-jalan alternatif tersebut, dan akan diperbaiki untuk menyambut para pemudik nanti,” ujarnya. Sejumlah titik yang kemungkinan dijadikan pintu keluar alternatif Tol Batang tersebut, yakni Desa Pasekaran di Kecamatan Batang dan Desa Kalibeluk di Kecamatan Warungasem. Sedangkan pintu keluar utama terdapat di Desa Kandeman, Kecamatan Kandeman.

“Kalau Kandeman itu kan memang exit utama tol Batang. Sedangkan yang exit tol alternatif adalah Desa Pasekaran dan Kalibeluk Warungasem itu. Nanti jalannya akan diperbaiki. Selain itu, jalan kabupaten di Desa Tragung, Kecamatan Kandeman, yang menuju tol akan diambil oleh Waskita. Sementara masyarakat akan dibangunkan (jalan) di sebelah timurnya,” kata Nasikin.

Dijelaskannya, saat ini proyek pembangunan tol terus berjalan. Sejumlah titik ada yang sudah dilakukan pengecoran sementara dan sebagian masih proses perataan lahan. “Semua lahan sudah dikerjakan, ada yang masih dilakukan perataan lahan, tapi ada yang sudah dicor juga. Termasuk tanah wakaf juga sudah mulai digarap, meskipun masih dalam proses penggantian lahan,” ujarnya.

Dia menyebutkan, setidaknya ada 16 titik tanah wakaf yang akan terkena proyek pembangunan Jalan Tol Pemalang- Batang tersebut. Nanti masyarakat akan diberikan ganti sesuai permintaan. “Sambil menunggu proses dari Kementerian Agama, tanah wakaf tetap digarap untuk tol itu. Masyarakat akan dibangunkan penggantinya di lokasi yang diinginkan atau lahan wakaf itu diganti dengan uang sesuai permintaan. Prinsipnya untuk semua (tanah) wakaf sudah dilaksanakan pembongkaran dan penggarapan lahan,” kata Nasikin.

Diamengatakan, terkaitmasih ada ketidaksepakatan harga ganti rugi sejumlah warga Dukuh Johosari di Desa Kandeman, tetap dikonsinyasi. Namun, sebagian warga yang belum sepakat tersebut sudah mengambil uang di pengadilan. Dinas Perhubungan (Dishub) juga sudah diminta menyiapkan sejumlah kebutuhan yang diperlukan. “Dishub kami sudah melakukan identifikasi, mana-mana yang perlu dipasangi rambu-rambu dan alat penunjuk lalin (APIL).

Personel Dishub sudah otomatis disiapkan di sejumlah titik yang kemungkinan menjadi titik exit tol alternatifbesok(Lebaran2017). Selain itu, biasanya juga ada tim terpadu saat Hari Raya Idul Fitri, yakni ada bantuan dari Satpol PP, Linmas, ormas, Polri, dan TNI, untuk menjaga kelancaran arus mudik,” katanya. Kabagops Polres Batang Kompol Hartono mengatakan, jajarannya sudah melakukan sejumlah langkah antisipasi jika titik kemacetan beralih di exit Tol Kandeman Batang.

Selain personel, Polres Batang juga mempersiapkan sarana prasarana yang ada. “Kami tetap siapkan semua untuk mengantisipasi kalau jadi sampai ke sini (exit Tol Batang). Personel tetap kami siapkan mengantisipasi hal itu (kemacetan exit Tol Batang). Termasuk sarpras juga, seperti rambu-rambu petunjuk arah bagi para pemudik dan rambu-rambu lainnya. Jadi kami juga akan berkoordinasi dengan Dishub Batang,” katanya dihubungi terpisah.

Personel Polres Batang akan ditempatkan sejumlah titik yang diperkirakan sebagai exit tol sehingga bisa dilakukan pencegahan terjadinya kemacetan. Salah seorang warga Kota Pekalongan, Nur Khoirudin, 39, mengapresiasi upaya pemerintah mengurai kemacetan arus mudik dengan percepatan proyek tol tersebut. Namun, dia berharap pemerintah tidak memaksakan pembukaan Tol Trans Jawa Tengah tersebut jika belum siap.

Target penyelesaian pengerjaan proyek Jalan Tol Pejagan- Pemalang seksi III (Brebes Timur- Tegal) dan IV (Tegal-Pemalang) sebelum Lebaran 2017 agar bisa dilalui pemudik diragukan sejumlah kalangan. Pemerintah diminta tidak memaksakan penggunaan ruas tol tersebut jika belum 100% siap. Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tegal Sahuri mengatakan, target penyelesaian pengerjaan Tol Pejagan-Pemalang sebelum Lebaran 2017 agar bisa dilalui pada saat arus mudik memang baik demi mengurangi kemacetan.

Namun, pemerintah juga harus realistis melihat progres pengerjaan di lapangan. “Harapannya memang bisa dilalui saat arus mudik tahun ini untuk mengurangi macet. Tapi kalau melihat kondisi di lapangan, target tersebut terlalu dipaksakan,” kata Sahuri, kemarin. Sahuri menilai target tersebut sulit terealisasi melihat progres pengerjaan fisik tol yang belum mencapai 50%.

Sementara Lebaran tinggal sekitar dua bulan lagi. “Di Kabupaten Tegal misalnya, pembebasan lahan untuk exit tol terlambat sehingga pengerjaan fisiknya juga baru dilakukan. Fisik tol juga belum banyak terlihat. Dengan waktu sekitar dua bulan lagi apakah mungkin,” kata dia. Karena itu, Sahuri meminta pemerintah tidak terlalu memaksakan ruas Tol Pejagan-Pemalang dari Brebes hingga Pemalang difungsikan pada arus mudik tahun ini jika kondisinya belum siap.

Jika dipaksakan dengan kondisi infrastruktur yang belum memadai, dikhawatirkan akan menyengsarakan para pemudik. “Menurut saya terlalu dipaksakan kalau harus sudah bisa dilewati arus mudik nanti walaupunhanyafungsional. Paling mungkin itu tol sudah siap saat Idul Adha nanti,” kata dia. Pemerintah, kata Sahuri, lebih baik menyiapkan langkah antisipasi jika ruas tol dari Brebes hingga Pemalang belum bisa tersambung dan dilalui saat arus mudik tahun ini, di antaranya dengan menyiapkan jalur- jalur alternatif yang memadai.

“Jalur-jalur alternatif harus mulai disiapkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi kemacetan saat arus mudik nanti. Mana yang kondisinya kurang baik harus segera diperbaiki dengan anggaran pemeliharaan,” ujar legislator dari PAN ini. Pelaksana proyek Jalan Tol Pejagan-Pemalang seksi III dan IV tetap optimistis ruas tol dari Brebes sampai dengan Pemalang sudah bisa dilalui sebelum Lebaran meski progres pengerjaan baru mencapai 40%.

Staf Legal PT Waskita Karya, Narendra Aryo Bramastyo mengatakan, pengerjaan konstruksi ruas jalan tol dari Brebes hingga Pemalang sepanjang 37 kilometer terus dikebut agar bisa dilalui pemudik pada arus mudik 2017. “Progresnya saat ini sudah 40%. Targetnya sebelum Lebaran, H-7, sudah tersambung dari exit Tol Brebes Timur sampai Pemalang sehingga bisa dilalui pemudik,” katanya.

Menurut Aryo, jika pun nanti progres pengerjaan belum mencapai100%, ruas jalan paling tidak sudah bisa dilalui secara fungsional oleh kendaraan. Kondisi ruas jalan diupayakan minimal sudah berupa LC cor tipis. “Harapannya sudah dicor untuk menghindari risiko kondisi jalan becek atau berdebu sehingga bisa mengganggu pemudik,” ujarnya.

Aryo optimistis target yang dibebankan tersebut sudah bisa terealisasi. Salah satunya karena proses pembebasan lahan sudah hampir tuntas seluruhnya sehingga tinggal dikerjakan konstruksinya. “Pembebasan lahan sudah di atas 90%. Yang belum dibebaskan tinggal tanah-tanah wakaf,” kata dia. Disinggung keraguan sejumlah kalangan ihwal target pengerjaan sehingga meminta pemerintah pusat tak memaksakan ruas tol dari Brebes sampai Pemalang bisa dilewati pemudik, Narendra menyatakan, pihaknya tetap berupaya melaksanakan keinginan Presiden Joko Widodo.

“Instruksi Presiden, tol dari Brebes sudah tersambung sampai Semarang saat arus mudik Lebaran tahun ini. Ya kita hanya jalankan instruksi Presiden,” katanya. Aryo juga mengatakan, koordinasi dengan pemerintah daerah, terutama Pemkab Tegal, berjalan baik. Hal ini terkait adanya protes dari masyarakat menyangkut dampak pengerjaan proyek seperti kerusakan jalan dan debu. “Kita sudah koordinasi dengan pemkab. Sejauh ini tidak ada kendala yang menghambat pengerjaan,” ucapnya.

Pejabat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Tol Pejagan- Pemalang, Sularto mengatakan, seluruh bidang tanah yang harus dibebaskan di wilayah Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Tegal sudah dibayarkan ganti ruginya, kecuali tanah berstatus aset pemda, tanah wakaf, serta tanah milik warga yang mengajukan gugatan harga ganti rugi. “Pembebasan lahan sudah hampir 100%,” katanya. Di Kabupaten Pemalang, jumlah lahan yang harus dibebaskan mencapai 1.785 bidang.

Tersebar di 22 desa di empat kecamatan, yakni Pemalang, Petarukan, Taman, dan Bodeh. Dari jumlah itu, 1.761 bidang dengan luas 1.618.011 meter persegi sudah dibebaskan atau sudah dibayarkan ganti ruginya. Sementara 24 bidang sisanya dengan luas 68.473 meter persegi belum dibebaskan. “Jadi proses pembebasannya masih menunggu prosedur yang harus dilalui dengan instansi terkait,” ujar Sularto. Sularto menegaskan, proses pembebasan lahan tersebut diupayakan segera bisa dituntaskan secepatnya. Hal ini agar target operasional Tol Pejagan- Pemalang untuk arus mudik dan balik Lebaran 2017 bisa terealisasi.

andika prabowo/ prahayuda febrianto/ farid firdaus