Edisi 11-01-2017
Hilang Seribu, Datang Dua Ribu Ekor


Merintis usaha tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja keras, ketekunan, keuletan serta selektif.

Mengawali usaha juga tak luput dari yang namanya kegagalan dan keputusasaan. Namun, kegagalan itu menjadikan pelajaran terbaik untuk tidak lagi terjerembab ke lubang yang sama. Namun karena belajar kegagalan tadi, pria muda ini optimis usaha bakal menjadi gemilang untuk jangka panjang. Hasanul Jihadi yang akrab disapa Jiji ini memilih berbisnis telur bebek, karena bisnis ini menurutnya sangat menjanjikan. Saat KORAN SINDO MEDAN datang ke lokasi usahanya di Pasar 12, Desa Bandar Setia, Percut Seituan, kemarin, disambut dengan teriakan ribuan ekor bebek dari dalam kandang.

Di gubuk sederhana berdinding tepas bamboo, Jiji tampak antusias menjelaskan bagaimana usahanya itu berjalan mulai dari kegagalan sampai keberhasilan. Dalam perbincangannya, Jiji menceritakan ia sempat putus asa karena orang yang dipercayai untuk menjaga usahanya itu telah mencuri 1.000 ekor bebek. Tentu produksi telur bebek saat kejadian itu menurun drastis. “Itu memang ketelodoran saya saat mengawali usaha penjualan telur bebek. Pertengahan tahun kemarin ada sekitar 1.000 ekor bebek dalam kandang dicuri. Nah pelakunya enggak orang jauh, tapi pelakunya adalah pekerja saya sendiri. Saat itu saya putus asa dan sempat menghentikan usaha ini,” kata pria berkacamata ini.

Begitu pun, berkat motivasi teman dan keluarga ia pun bangkit lagi menjalankan usahanya ini. Ia membeli ratusan ekor bebek lagi dan tentu memilih pekerja lebih selektif lagi. “Karena motivasi dari orang terdekat, saya bangkit. Dengan modal yang cukup saya membeli ratusan ekor bebek lagi. Dan saat ini ada sekitar 2.000 ekor bebek yang ada. Dan dalam waktu dekat ini saya akan menambah 2.000 ekor bebek lagi agar pasokan telur tetap ada,” ungkap mantan alumni Fakultas Sosial Politik Universitas Medan Area (UMA) ini.

Kini, usaha penjualan telur kini mulai stabil dan lancar. Saat itu, ada sejumlah agen/pembeli yang mendatangi kandang markas usahanya seluas 25 rante dengan menggunakan mobil pick up. “Lahan yang ada saat ini cukup luas untuk usaha. Ada sekitar 15 rante. Dalam sehari bebek bisa bertelur sampai 1.200 butir. Setiap hari pasti ada saja yang beli kemari. Harga per butir telur bervariasi. Kalau ukuran telur sedang harganya Rp1.300 sampai Rp1.400. Kalau harga standardnya per butir Rp1.650. Dan ini terus berputar setiap harinya,” ungkap pria kelahiran 1.988 silam sembari optimis melihat usahanya ini akan berkembang.

Disiunggung mengenai pakan, Jiji mengatakan ia menghabiskan 3 sampai 4 karung goni untuk makanan ribuan ekor bebek dalam sehari seharga Rp1,2 juta. Namun untuk mengurangi biaya pakan, ia masih belajar untuk mencari makanan alternatif lain. “Untuk pakan saja dalam sehari bisa mencapai Rp1,2 juta. Untuk mengurangi biaya pakan saya masih belajar dari pebisnis telur mencari makanan alternatif. Tapi itu enggak masalah. Tentu mencukupi dari biaya penjualan telur dengan upah dua orang pekerja saya,” papar Jiji yang kini sedang cuti dalam studi S-2 nya itu.

Di akhir perbincangannya, Jiji berpesan jika memulai usaha atau bisnis apapun yang dijalankan harus benar-benar selektif. Terutama selektif memilih orang/pekerja untuk mengelola usaha tersebut. “Selektif dalam merintis sebuah usaha itu sangatlah penting. Orang yang awalnya kita percayai malah menikam kita dari belakang. Itu pesan saya kepada pebisnis muda lainnya di Medan,” tutup Hasanul Jihadi.

Dody Ferdiansyah
Medan