Edisi 27-03-2017
Terinspirasi Saat Anak Corat-coret di Tembok


Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berkontribusi pada bangsa dan negara. Salah satunya mendidik anak-anak muda agar menjadi generasi penerus yang mumpuni di segala sisi, di antaranya seni dan budaya.

Hal itulah yang diyakini perempuan bernama lengkap Grace W Susanto ini mendirikan sebuah komunitas bernama Klub Merby Semarang. Kepada KORAN SINDO , pendiri Klub Merby Semarang Grace W Susanto menceritakan awal pendirian komunitasnya itu tidak disengaja. Awalnya, dia melihat anak sulungnya yang menggambar corat-coret di kertas kemudian berniat untuk mengembangkan bakat anaknya itu. “Awalnya ndak sengaja, saat anak saya yang masih balita menggambar dengan coretan- coretannya di dinding dan lantai.

Kemudian saya belikan alat untuk mengembangkan karyanya itu.” “Hasil karya anak saya kemudian saya pajang di toko buku saya, nah dari situ banyak orang tua yang minat agar anaknya dilatih melukis,” katanya, kemarin. Atas saran suami, kemudian Grace membuka sebuah wadah bernama Klub Merby pada 1989 yang beralamat di Jalan Mataram No 653 Semarang. Setelah adanya sanggar itu, ke - mudian banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk mengikuti pelatihan.

Hingga saat ini, anggota Klub Merby sudah mencapai ratusan orang. “Setelah anggotanya banyak, kami kemudian tak hanya mengajarkan tentang seni menggambar, tapi juga memberi edukasi ragam keterampilan dan seni budaya Sema rang dan Jawa Tengah,” katanya. Tak hanya anggota yakni anak-anak dan remaja yang bergabung, lama-lama Klub Merby terus berkembang.

Banyak guru dan pengajar yang ikut terlibat dalam mendidik generasi bangsa itu. Mereka dengan sukarela bergabung untuk mewujudkan generasi muda yang memahami akan seni dan budaya khususnya Semarang dan Jawa Tengah. Hasilnya sangat memuaskan, pada 1992 lanjut Grace, Klub Merby pernah menorehkan prestasi yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam pameran 1001 gambar anak-anak. Tak hanya itu, beragam prestasi juga kerap diraih anggota Klub Merby secara personal.

“Jika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas tanpa ada pamrih, itu semua akan menghasilkan sesuatu yang baik. Saya dan keluarga sangat bersyukur atas apa yang limpahkan Tuhan karena dapat memberikan kontribusi terbaik kepada anak-anak sebagai generasi muda bangsa dan negara dalam memahami seni dan budayanya sendiri,” katanya. Meski sudah menjadi komunitas (sanggar seni dan budaya) khusus untuk anak-anak yang sukses, namun Klub Merby tak mau pongah dan jumawa.

Bagi Grace, menampung semua orang untuk mau belajar seni dan budaya adalah komitmen awal yang didasari dengan niat baik memberikan kontribusinya kepada negara, khususnya Kota Semarang, dalam bidang edukasi bakat seni dan budaya sejak usia dini. “Beberapa program baru saat ini kami kembangkan, di antaranya pelatihan UMKM bagi masyarakat luas dan pertukaran budaya antar Bang sa.

Dari sebuah komunitas anakanak, kini Klub Merby menjadi pusat berbagai kegiatan yang bersentuhan dengan seni dan budaya lokal dan mancanegara,” katanya. Salah satu pengajar di Klub Merby Semarang, Krisna, 30, mengatakan, saat ini Klub Merby semakin luas jangkauannya dalam memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat.

Tak hanya anakanak, komunitas itu kini banyak beranggotakan orang dewasa, yakni mereka yang ingin menekuni dunia UMKM. “Ada beberapa stan permanen yang khusus kami berikan kepada para pengusaha UMKM kelas menengah ke bawah di antaranya, stan jamu gendong, kuliner kedai dahar resep Mbah Buyud (resep warisan leluhur) yang di dalamnya terdapat ragam menu khas Semarangan, dan beberapa stan pernik-pernik mulai dari hiasan buatan tangan, kain batik, dan busana modern (kaos) yang semuanya terangkum dalam ‘Art Shop’ toko seni dan budaya,” kata Krisna.

Tak hanya sebagai pusat seni dan budaya, dalam memberikan edukasi kepada generasi muda, berbagai kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat luas, juga sering diadakan. Salah satunya adalah workshop (pelatihan) kepada kaum difabel (penyandang cacat tubuh) yang mengajarkan bagaimana cara memahami seni dan budaya, dan memberikan pelatihan khusus keterampilan penyandang cacat tubuh.

“Kehadiran Klub Merby di era modern ini, harus bisa mengimbangi perkembangan zaman, meski kami tetap mengacu pada konsep pakem sebagai wadah seni dan budaya. Kami juga membuka ruang kepada semua segmen masyarakat tak terkecuali kaum difabel,” katanya. Klub Merby, lanjut Krisna, akan terus menjadikan wadah dan ruang kepada semua masyarakat dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Pihaknya mengaku akan terus mengembangkan komunitas itu agar lebih besar dan lebih bermanfaat pada nusa dan bangsa. “Kami akan terus berkarya memberikan yang terbaik. Kami ingin melalui komunitas ini mampu menjadikan generasi muda semakin berprestasi,” katanya.

ANDIKA PRABOWO

Kota Semarang