Edisi 11-01-2017
Massa Desak Penahanan Ramadhan Pohan


MEDAN– Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan dengan terdakwa Ramadhan Pohan di ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/1) pagi, diwarnai aksi unjuk rasa belasan orang di luar ruang persidangan.

Massa mendesak wakil sekretaris jenderal Partai Demokrat itu segera ditahan. “Pak Ramadhan Pohan penipu rakyat, seharusnya bapak ditahan. Bapak pinjam uang dari warga Medan untuk mencalonkan diri menjadi wali kota Medan pada Pilkada Tahun 2015, tapi ternyata bapak penipu,” kata Ketua Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) Sumut, Tongam Freddy Siregar, Selasa (10/1). Dia juga mempertanyakan tindakan aparat penegak hukum yang tidak menahan Ramadhan Pohan.

Padahal mantan anggota DPR dari Partai Demokrat itu pernah mangkir dari panggilan penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut). “Apakah pejabat peradilan dan kepolisian tidak berani menahan Ramadhan Pohan karena dia mantan pejabat publik serta menjadi pengurus pusat Partai Demokrat? Jangan ada intervensi penegakan hukum dalam kasus ini,” ungkapnya. Sementara itu, Ramadhan Pohan dalam persidangan menyalahkan Savita Linda Hora, Bendahara Tim Pemenangan REDI (Ramadhan-Eddie) yang juga terdakwa dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan sebesar Rp14,5 miliar yang menjeratnya.

“Saya sudah kalah pileg, kalah pilkada, tidak punya uang, apalagi jabatan, malah tersandung kasus disangka melakukan penipuan dan utang lebih Rp14,5 miliar,” kata Ramadhan di hadapan majelis hakim yang diketuai Janiko Girsang. Dia mengatakan, Linda Savita yang mendekati istrinya untuk membantunya dalam Pemilu 2014 dari daerah pemilihan (Dapil) Sumut. Linda juga sangat intensif mendekatinya usai penetapan Ramadhan dan Eddie Kusuma sebagai pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Medan, pada 27 Juli 2015.

Syukri amal