Edisi 20-03-2017
Pembiayaan Syariah di Sumut Tumbuh Pesat


MEDAN - Pertumbuhan pembiayaan syariah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) cukup pesat. Pertumbuhan ini sangat menggembirakan perekonomian di Sumut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Arief Budi Santoso mengatakan, hingga pada triwulan IV tahun 2016 pembiayaan syariah di Sumut tumbuh mencapai Rp8,9 triliun atau sebesar 15,7% (yoy). Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan posisi triwulan III tahun 2016 yang hanya tumbuh sekitar 12,6%. Tingginya pertumbuhan pembiayaan syariah pada dua triwulan terakhir 2016 diperkirakan disebabkan oleh semakin maraknya kegiatan usaha syariah yang dibarengi dengan membaiknya kualitas pembiayaan.

”Diketahui pada beberapa periode lalu sempat terkontraksinya pembiayaan syariah, ini disebabkan oleh bank yang cenderung berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan seiring dengan peningkatan pembiayaan non-perform,” kata Arief, dalam siaran persnya, Minggu (19/3). Arief menambahkan, kualitas pembiayaan syariah juga tercermin dari non performing fund (NPF) yang terus membaik. Indikator NPF menunjukkan penurunan dari 8,6 persen menjadi 7,3%.

Tren penurunan nilai NPF diharapkan terus berlanjut hingga di bawah nilai indikatifnya, yaitu 5%. ”Membaiknya kualitas pembiayaan ini, diperkirakan disebabkan oleh pelaksanaan restrukturisasi kredit yang diperkirakan berhasil dan menunjukkan hasilnya pada akhir triwulan IV-2016 di samping adanya pertumbuhan pembiayaan,” ungkapnya.

Arief merinci, berdasarkan kota dan kabupaten, pembiayaan syariah di Sumatera Utara terutama disalurkan di Kota Medan dengan proporsi sebesar 74%, disusul oleh Kota Padangsidimpuan sebesar 6,7% dan Kota Pematangsiantar sebesar 6,5%. Sementara itu, pertumbuhan penyaluran pembiayaan terbesar berada di Kota Medan sebesar 21 persen (yoy) dan Kota Sibolga sebesar 2,2% (yoy), sementara kota lain terkontraksi.

Untuk pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) syariah pada triwulan IV-2016 sebesar 22,6% (yoy) meningkat dibanding triwulan III-2016 yang tumbuh sebesar 22,2% (yoy). Sejalan dengan pertumbuhannya yang tinggi, share DPK syariah terhadap DPK total juga mengalami peningkatan yaitu 4,9% pada triwulan III-2016 menjadi 5,1% pada triwulan IV-2016.

Berdasarkan sebarannya, DPK syariah baru terdapat di sepuluh kabupaten/kota, dengan pangsa terbesar berada di Kota Medan dengan proporsi sebesar 76,0%, disusul Kota Pematangsiantar dan Kota Padangsidimpuan masing-masing sebesar 7,3% dan 6,0%. Arief juga menilai, intermediasi perbankan pada triwulan IV 2016 stabil dibanding dengan periode sebelumnya yang tercermin dari Rasio Kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio) yang tercatat meningkat sebesar 0,3% atau dari 93,0% menjadi sebesar 93,3%.

Sementara itu, dari sisi perbankan syariah fund deposit ratio (FDR) pada triwulan berjalan mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi Triwulan III-2016 yaitu dari 91,93% menjadi 90,37%. Pengamat Ekonomi UIN Sumut Gunawan Benjamin menjelaskan, meningkatnya pembiayaan syariah di Sumut ini tentu merupakan kabar baik bagi dunia usaha di Sumut.

Pertumbuhan yang mencapai 15% itu menunjukkan perekonomian daerah ini sudah terus semakin baik. Pembiayaan syariah, seperti pembiayaan konvensional, tersedia bagi siapa pun yang membutuhkan dana tambahan untuk keperluan konsumsi ataupun modal. ”Kita lihat bankbank ternama juga sudah beramai- ramai menawarkan pembiayaan syariah, ini tentu sangat membantu perekonomian masyarakat,” tandasnya.

panggabean hasibuan