Edisi 11-01-2017
Asap Serbu Kampung Pabrik Baja Didemo


MOJOKERTO– Kesabaran warga Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, mencapai batasnya. Tak kuat desanya menjadi kampung wisata asap, mereka berunjuk rasa menuntut penutupan salah satu pabrik baja.

Pagi kemarin, sekitar 70 warga mendatangi lokasi pabrik PT Manna Jaya Makmur (MJM) di Desa Sumberwono, Kecamatan Bangsal. Mereka menagih komitmen perusahaan tersebut untuk menangani polusi udara berupa asap hitam dan debu dari hasil pembakaran baja. Warga menilai, MJM ingkar janji sehingga warga masih merasakan dampak buruk dari proses produksi baja.

Selain sesak napas, getah lain yang dirasakan warga, yaitu rusaknya tanaman akibat debu. Unjuk rasa warga kemarin cukup unik. Selain berjalan dari kampung, mereka ke lokasi pabrik sejauh 1 kilometer, warga juga membentangkan spanduk berisi sindiran-sindiran. Mereka memberikan status kampung asap bagi kampung mereka sendiri lantaran banyaknya asap yang hinggap.

Mereka juga mengenakan topeng dan mencetak surat perjanjian yang dibuat perusahaan dengan ukuran raksasa. Kepala Desa Tambakagung Filla Muji Utomo mengatakan, pada 1 Desember 2015, MJM telah membuat kesepakatan dengan warga untuk memperbaiki cerobong asap pabrik. Namun, hingga saat ini warga tak melihat upaya perbaikan yang dijanjikan dalam waktu setahun.

Asap hitam pekat masih terus menghantui warga saat produksi berlangsung. “Kami hanya menagih janji yang sudah dibuat perusahaan secara tertulis,” kata Filla. Dalam surat perjanjian manajemen MJM juga menyatakan siap dan sanggup menerima sanksi menghentikan aktivitas produksi peleburan. “Berdasarkan perjanjian itu seharusnya pabrik sudah menutup produksinya karena asap dari cerobong kondisinya tetap sama.

Artinya, tak ada perubahan. Warga sudah tidak kuat, sudah 10 tahun ini kami terus mendapatkan dampak buruk asap pabrik,” tandasnya. Kehadiran pabrik peleburan baja ini dinilai telah mengganggu aktivitas warga. Selain banyak warga yang mengalami sesak napas, hasil pertanian mereka pun menurun drastis.

Debu dari asap pekat pabrik merusak padi di sawah yang berdekatan dengan lokasi pabrik dan terus terbang ke perkampungan. “Dan selama 10 tahun beroperasi, perusahaan tak pernah menepati janji untuk melakukan perbaikan cerobong,” kata Filla. Menilai tak ada iktikad baik dari MJM, dalam waktu dekat Filla berencana melaporkan masalah ini ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mojokerto.

Warga meminta BLH melakukan uji asap yang dihasilkan pabrik milik MJM dan mengecek proses produksinya. “Kalau tidak ada respons, kami akan menempuh jalur hukum. Saya sendiri sudah sering mendengarkan keluhan warga soal ini. Dan sebagai kepala desa, saya akan berada di depan untuk masalah ini,” ungkapnya.

Satukah, salah satu warga mengatakan, selama bertahuntahun produksi PT MJM warga mengeluhkan polusi udara ini ke perusahaan. Ia mengamini, polusi udara berusaha asap hitam pekat berdebu itu telah merusak tanaman pertanian warga. “Banyak yang sesak napas juga. Kalau anginnya kencang, debu itu masuk ke permukiman dan membuat rumah kotor. Dari dulu seperti itu dan pabrik sepertinya tidak mau tahu,” kata Satukah.

tritus julan