Edisi 21-01-2017
Kebutuhan Bandara Baru Sangat Mendesak


YOGYAKARTA – Kapasitas Bandara Internasional Adi su - tjip to, Yogyakarta, sangat ter - batas dan tidak memungkinkan lagi dikembangkan.

Padahal jum lah penumpang pesawat ter bang di bandara ini dari ta - hun ke tahun selalu naik sig - nifikan. General Manajer PT Ang ka - sa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto, Agus Pandu Pur na - ma mengungkapkan, luas ban - dara hanya 85.361.514 meter persegi. Terminal A atau pe - nerbangan domestik meng guna kan lahan 9.201 meter per - segi. Sementara Terminal B un - tuk penerbangan internasional menggunakan lahan sekitar 5.936 meter persegi.

Dengan lahan yang terbatas tersebut, kapasitas apron juga hanya sembilan parking stand dengan lahan total seluas 32.436 meter persegi. “Kapasitas penumpang 1,2 juta orang. Itu pun hanya untuk pesawat kecil karena pan jang runway 2200 x 45 meter per - segi,” ujarnya. Padahal jumlah penumpang di Bandara Internasional Adi sutjipto dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan sig - nif ikan. Tahun 2012 otoritas ban dara mencatat jumlah pe - nump ang 4,9 juta orang.

Pada 2013 naik menjadi 5,7 juta orang penumpang. Jumlah pe - numpang terus bertambah pada 2014 menjadi 6,2 juta orang. Sementara pada 2015 naik sedikit menjadi 6,3 juta orang dan tahun lalu naik signifikan menjadi 7,2 juta orang. Seiring penambahan jum - lah penumpang, pihaknya ber - usaha terus menambah ber ba - gai fasilitas meningkatkan ke - nyamanan. Hanya upaya me - reka terbentur kapasitas ba n - dara yang sangat terbatas.

Ketua Association of the In - donesian Tours & Travel Agen - cies (ASITA) DIY, Udi Su di ya n - ta mengatakan, keberadaan ban dara baru dengan kapasitas lebih besar mendesak direa li sa - si kan. Mengingat minat wisa - ta wan berkunjung ke Yog ya - kar ta juga semakin meningkat. Kenyamanan bandara diper lu - kan membuat para wisatawan betah di DIY.

“Bandara yang me madai memang sangat di - perlukan,” tuturnya. Sementara pembebasan la - h an bandara baru, New Yog ya - kar ta International Airport (NYIA) di Kabupaten Ku lon - pro go sudah terealisasi 85% dari keseluruhan lahan 587,2 hektare. Menyusul proses pem ba yaran lahan Pakualam Ground (PAG) yang sudah di - konsinyasi atau dititipkan di pe ngadilan dengan luas 160,2 hek tare atau 27%.

“Untuk ta - nah PAG sudah dibayarkan se - te lah sidang konsinyasi,” kata R Sujiastono, Pilot Project Kan - tor Proyek Pembangunan Ban - da ra NYIA. PT Angkasa Pura I meyakini proses pembayaran lahan ini nanti akan melebihi 90% atau mendekati 93%. Saat ini untuk tanah fasilitas umum dan fas i li - tas sosial milik pemkab sedang dikaji di Kementerian Dalam Negeri dengan persentase luas 5%.

Penafsiran terhadap jalan berbeda antara Pemkab Ku lon - progo dengan PT Angkasa Pura I bersama Badan Pertanahan Nasional, kejaksaan, ataupun BPKP. Pemkab mengklaim jalan termasuk bangunan tercatat se bagai aset. Sedangkan Ang - kasa Pura I melihat itu bukan bagian dari bangunan yang ber hak atas kompensasi. Kom - pensasi hanya untuk bangunan tidak termasuk jalan. “Kalau itu clear sudah sekitar 93% ka - re na ada tanah warga yang awal nya menyetujui.

Tetapi ka - rena terlambat dan alasan lain harus dikonsinyasi,” ujarnya. Setidaknya ada 257 bidang tanah yang akan dikonsinyasi termasuk tanah PAG. Proses sidang konsinyasi baru di la ku - kan terhadap tujuh berkas dari bi dang tanah. Secepatnya se ti - ap bidang ini disampaikan ke pengadilan dan dikonsinyasi. “Tanah warga hanya tersisa 57 hektare atau 10%,” kata Su ji as - tono.

Proses relokasi juga segera dimulai. Pemkab Kulonprogo sedang melelang dan di ha rap - kan sebelum akhir Januari su - dah ada pemenangnya se hing - ga maksimal pada bulan Fe - brua ri, proses pembangunan sudah bisa dimulai. Targetnya pada April, warga terdampak sudah bisa menempati rumah baru di tanah kas desa. Rumah di bangun swadaya melalui ke - lompok masyarakat. “Ini masih tahap lelang un - tuk pengurukan tanah.

Nanti langsung dibangun,” kata Su - ko co, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Ka was - an Permukiman Kulonprogo. Sekda Kulonprogo As tung - ko ro mengatakan, masalah ja - lan yang beda penafsiran masih ditangani pemerintah pusat. Berkas dan pemaknaan masih di tangani oleh Sekretariat Wa - kil Presiden. “Itu sudah di ta - ngan setwapres,” ujarnya.. Saat ini nilai kompensasi atas bangunan pemkab hanya Rp6 miliar. Sedangkan esti ma - si bangunan jalan mencapai Rp24 miliar. Apa pun nanti kepu tusannya, pemkab akan me - lepaskan status tanah untuk mendukung bandara.

Penolak NYIA Datangi DPRD DIY

Megaproyek NYIA segera dimulai, tapi masih ada saja masyarakat yang menolak. Kemarin, puluhan warga pe no - lak bandara baru mendatangi DPRD DIY. Mereka didampingi LBH Yogyakarta dan elemen mahasiswa, seperti HMI dan FMN. Penolak bandara yang ter - gabung dalam Gerakan Solida - ri tas Tolak Bandara (Gestob) ber pendapat pembangunan NYIA yang membutuhkan la - han 637 hektare tidak berpihak pada rakyat.

Sebanyak 2.875 kepala keluarga atau 11.500 jiwa harus kehilangan rumah dan pekerjaannya. Koordinator aksi, Martono mengatakan, ratusan bahkan se ribuan orang kehilangan pe - kerjaan. “Lahan yang kami ta - nami subur, lahan produktif. Ka mi hidup sejahtera sebagai petani,” katanya. Pria yang juga koordinator Wahana Tri Tunggal (WTT) itu mengungkapkan, petani di pesisir pantai selatan mampu menghasilkan cabai 30 ton, semangka 30 ton, melon 60 ton, gambah 30 ton, dan terong 45 ton per hektare setiap ta - hun.

“Jika nanti untuk ba n d a - ra, kami tidak bisa lagi meng - hasilkan itu (hasil panen) lagi. Kami menolak bandara tanpa syarat,” katanya. Hampir dua jam berorasi, tidak ada satu pun anggota DPRD DIY bersedia menemui mereka. Saat itu para wakil rakyat sedang kunjungan kerja ke Jakarta. Namun, demons - tran memaksa masuk mensweeping anggota dewan.

Kepala Bagian Humas Se - kretariat DPRD DIY, Budi Nu - gro ho mengatakan, tidak ada anggota DPRD di kantornya. Semuanya kunker ke Jakarta sehingga dirinya tidak bisa memfasilitasi bertemu dengan wakil rakyat. “Jadwal di bamus hari ini (kemarin) adalah kun - jungan kerja keluar kota,” kat anya.

erfanto linangkung/ kuntadi/ ridwan anshori