Edisi 20-02-2017
Ilmuwan Indonesia Tak Berani Kritisi Ilmu Barat


YOGYAKARTA– Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menjadi hal yang penting bahkan menjadi sebuah keharusan bagi ilmuwan.

Namun sayangnya ilmuwan Indonesia tidak berani mengkritisi ilmu-ilmu yang asalnya dari negeri barat. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Dr Kasiyarno MHum dalam The 5th University Research Colloquium (URECOL) ‘Cinta Negeriku’ di kampus setempat, kemarin. Menurut Kasiyarno, ilmuilmu barat sudah lama mendominasi pendidikan di Indonesia.

Namun demikian, seharusnya para ilmuwan Indonesia juga dapat melakukan kajian-kajian kritis pada ilmuilmu tersebut. “Bersikap kritis juga perlu agar pendidikan kita juga berkembang. Sayangnya yang terjadi saat ini justru kebanyakan di antara kita bahkan terpengaruh dan menerima begitu saja nilai-nilai barat yang juga dibawa lewat ilmuilmu barat.

Ini yang kemudian menggerus kecintaan pada negeri kita sendiri,” kata Kasiyarno. Kasiyarno mengatakan, nilai- nilai barat seperti liberalis, kapitalis dan individualis sudah banyak memengaruhi para ilmuwan Indonesia. Pengaruh itu pula yang pada akhirnya banyak melahirkan tindakan-tindakan tidak patut dalam dunia pendidikan di Indonesia.

“Tidak berani bertindak kritis ini juga berakibat banyaknya produk ilmu yang justru diperjualbelikan. Tentu ini sangat disayangkan,” ujar Kasiyarno. Dalan kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Hukum UII Prof Dr Mahfud MD mengatakan, kemerdekaan Indonesia sangatlah patut untuk disyukuri. Karena hanya dengan kondisi merdeka, Indonesia kini bisa memiliki banyak profesor, doktor dan para ahli.

“Untuk itu, kita perlu menjaga Indonesia ini dengan sebaik-baiknya. Agar Indonesia dengan segala kekayaannya ini bisa terwariskan ke generasi selanjutnya. Ini pula berarti kita harus bisa memanfaatkan sumber daya alam yang kita miliki ini untuk seluruh rakyat yang beraneka ragam ini,” kata Kasiyarno.

Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr Edy Suandi Hamid mengatakan, dalam situasi persaingan yang sangat ketat, baik skala nasional maupun global, pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) harus kompak dan bersinergis. Persoalan mutu pendidikan harus menjadi concern bersama. “Dalam situasi kompetisi tinggi ini, jangankan PT yang tidak kompak, yang kompak saja tetap sulit untuk berkembang,” kata Edy.

ratih keswara