Edisi 21-01-2017
Macet Sulitkan Trans Jogja On Time


YOGYAKARTA – PT Anindya Mitra Internasional (AMI) selaku operator Trans Jogja mengakui ada tiga kendala dalam operasionalisasi transportasi bersistem buy the servicetersebut.

Kendala utamanya adalah sulit bagi Trans Jogja untuk tepat waktu di setiap titik pemberhentian. Direktur PT AMI Dyah Puspitasari mengatakan, tiga kendala Trans Jogja saat ini adalah kualitas bus, sumber daya manusia (SDM) dan armada tidak bisa on time dalam setiap beroperasi. “Ketepatan waktu, itu dia kendalanya. Kita kan nggak jalur khusus, sering terkena macet,” katanya, kemarin. Menurut dia, kemacetan di Kota Yogyakarta, khususnya pada titik-titik tertentu yang dilalui Trans Jogja menjadi kendala utama.

Bahkan tidak jarang, operasional Trans Jogja ‘dipaksa’ harus mengalah jika jalur yang dilalui dipakai untuk even tertentu. “Jika terdapat even-even tertentu, kita (Trans Jogja) harus dialihkan,” tegasnya. Padahal, di trayek yang ada gelaran even tersebut ada halte dan ada calon penumpang. Jika Trans Jogja tidak melewatinya, calon penumpang tidak bisa mendapatkan layanan. Akhirnya konsumen melayangkan komplain. “Memang kenyataan seperti itu.

Yang dibutuhkan informasi dan support dari berbagai pihak,” ungkapnya. Dyah mengatakan, dukungan tidak hanya dari Dinas Perhubungan DIY saja, melainkan semua pihak. “Kalau ada event lalu Trans Jogja jalurnya dialihkan, harus menunggu lama, sedangkan kita itu pakai sistem by the service. Gak mlaku gak entuk duwit (Tidak jalan maka tidak dapat uang),” ujarnya.

Lebih lanjut Dyah mengakui, kendala lain Trans Jogja adalah kualitas SDM dan armada. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Evaluasi bagian SDM selalu ditingkatkan. Namun dalam kondisi tertentu, SDM tidak percaya diri saat memberikan pelayanan ke masyarakat. Dyah mengungkapkan, bagian SDM sering mendapat komplain dari konsumen karena bus yang kurang layak.

“Kita sering disepelekan konsumen. Mereka (konsumen) bilang, pelayanan terbaik gimana busmu saja kayak gini. Akhirnya mereka (SDM) tidak pede,” paparnya. Dia menegaskan, ke depan seiring penambahan armada baru, pelayananan Trans Jogja akan lebih baik. Saat 25 bus baru bantuan Kementerian Perhubungan beroperasi, respon masyarakat positif.

“Saat bus yang baru itu beroperasi, komplain ke kami langsung turun,” ungkapnya. Dyah optimistis pada April 2017mendatangseiringberoperasi 128 armada, sebanyak 108 unit di antaranyaa merupakan armada baru, maka tingkat kepuasan konsumen bakal meningkat. “Itu pasti, dan kami sangat optimitis,” tegasnya.

Sekretaris Komisi C DPRD DIY Agus Subagyo mengatakan, pelayanan Trans Jogja yang selama ini kurang maksimal membuat warga belum menjadikannya sebagai moda transportasi publik andalan. Buktinya load factor atau tingkat kerisian Trans Jogja masih jauh dari harapan. “Kursi Trans Jogja masih banyak yang kosong,” kata dia. Sehingga, keberadaan Trans Jogja sampai saat ini yang digadang-gadang bisa mengurangi kemacetan di Kota Yogyakarta belum terbukti.

Warga masih memilih naik mobil atau kendaraan pribadi dari pada naik Trans Jogja. Akibatnya volume kendaraan masih tetap tinggi. Politikus Partai Golkar ini berharap seiring dengan peningkatan layanan yang diberikan, Trans Jogja menjadi andalan transportasi publik. “Semoga dengan bertambahnya bus-bus yang baru nanti warga menjadi antusias untuk memanfaatkaan transportasi publik,” pintanya.

ridwan anshori