Edisi 20-03-2017
Fruit Carving, Seni Memahat Buah Yang Kian Digemari


Seni pahat selama ini identik dengan bahan batu atau kayu. Ternyata seni pahat juga berlaku di bidang kuliner, yakni fruit carving, butter carving, dan chocolate carving. Dari ketiganya, chocolate dan butter carving sudah umum dijumpai karena memang paling banyak digunakan dan mudah dijumpai di toko kue.

Berbeda dengan fruit carving yang biasanya baru dibuat by order. Sesuai namanya, fruit carving, menggunakan bahan utama buah-buahan. Pada umumnya buah dengan bentuk bulat dan memiliki tekstur sedikit keras misalnya semangka, melon, labu, pepaya, apel, wortel, tomat, dan masih banyak lagi. Chef Shangri-La Hotel Surabaya I Putu Sudiono menuturkan, di Indonesia, fruit carving dalam perkembangannya memiliki dua gaya, yakni gaya Bali dan Thailand.

Seni pahat buah ini memang berasal dari Negeri Gajah Putih dan meluas hingga ke berbagai negara. “Bedanya kalau gaya Bali lebih banyak memahat bentuk topeng sedangkan untuk gaya Thailand ini lebih banyak bunga,” kata Putu kepada KORAN SINDO JATIM . Di negara asal Thailand, fruit carving banyak digunakan untuk beragam festival. Karena masyarakat Thailand memiliki berbagai tradisi dengan menggunakan buah sebagai persembahan.

Supaya buah yang digunakan tidak terlihat biasa, maka dipahat sehingga lebih menarik. Bagi masyarakat Indonesia, fruit carving lebih banyak digunakan untuk acara besar namun bukan festival. Misalnya pernikahan, syukuran, lamaran, makan malam, acara corporate, dan beragam acara lainnya. “Perusahaan-perusahaan besar kalau punya acara di hotel kami biasanya juga pesan fruit carving untuk diukir sesuai dengan logo perusahaannya.

Ya beginilah orang kadang sudah bosan pesan kue yang dihias, jadi bisa pesan fruit carving ini. Apalagi medianya buah jadi terlihat segar,” kata pria yang pernah membuat fruit carving untuk acara di Istana Negara ini. Proses memahat buah ini juga tidak tergolong lama, hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk satu buah. Bahkan jika sudah ahli tak sampai 20 menit selesai.

Pria berusia 48 tahun ini menambahkan, tantangan memahat buah ini terletak pada jenis medianya karena harus menyesuaikan dengan tekstur dan bentuknya terlebih dulu, baru dipikirkan ide akan dirancang dengan pahatan seperti apa. Berbeda dengan seni pahat lain yang justru memiliki ide dulu lalu baru memilih medianya.

“Buah itu bentuknya lainlain, jadi sebelum dipahat dilihat dulu teksturnya terlalu keras atau tidak. Kalau keras seperti labu, kita harus pikirkan dibuat bentuk yang bagaimana,” ungkap Putu. Untuk memahat buah dengan seni fruit carving sebenarnya tergolong sederhana, yakni dengan pisau khusus yang bentuknya kecil, bahkan dengan cutter pun bisa.

mamik wijayanti