• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Dede Nono Rukmana, Kasi Kesenian Dan Kebudayaan (DISPARBUD) Kabupaten Kuningan - Mengeksplorasi Budaya Kuningan

Terlibat dalam dunia seni karawitan Sunda saat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang kini menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ternyata membawa berkah tersendiri bagi seorang Dede Nono Rukmana.

KEANGGUNAN seni karawitan Sunda telah mengalihkan perhatian dan hobi yang digelutinya saat masih duduk di bangku sekolah di bidang musik kontemporer hingga akhirnya meleburkan diri dalam dunia seni tradisi Sunda yang kini menjadikannya seorang PNS di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kuningan, sekaligus pimpinan Sanggar Seni D’n’R yang dibentuknya sejak 1996.

Jabatannya sebagai Kasi Seni dan Budaya di Disparbud menjadikan kesempatan yang tidak disia-siakan Dede untuk semakin mengembangkan keahliannya di bidang seni Sunda. Berbagai program pelestarian budaya dijalani Dede dengan sepenuh hati hingga menjadikannya sosok yang bisa diandalkan Disparbud, bahkan Pemkab Kuningan.

Dede banyak menciptakan karya seni tradisional bertemakan kebudayaan masyarakat Kuningan, mulai seni tari hingga komposisi musik, dan telah dipentaskan dalam berbagai event, baik lokal, regional, maupun nasional. Prestasi tersebut diraih Dede melalui proses panjang dan berliku. Bagaimana perjalanan Dede dalam merintis kariernya di bidang seni Sunda hingga menjadi seorang yang sukses dan salah satu aset Kabupaten Kuningan? Berikut petikan wawancara reporter KORAN SINDO

Mohamad Taufik dengan Dede Nono Rukmana. A p a yang melat a r b e l a - kangi Anda meng g e - luti seni Sunda?

Sejak masih duduk di bangku SD, saya sangat menyukai musik, tetapi tidak punya citacita mendalami seni Sunda. Saat akan melanjutkan kul i a h pun, s a - ya berencana melanjutkan sekolah ke Institut Kesenian Jakarta untuk menyalurkan minat saya dalam hal berkesenian. Namun, karena berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Rupanya di ASTI tidak ada jurusan kesenian yang saya senangi sehingga terpaksa mengambil Jurusan Karawitan Sunda. Namun, setelah mendalami seni karawitan, ternyata saya menyukai dan akhirnya jatuh cinta dengan seni Sunda.

Apa yang Anda lakukan setelah lulus kuliah?

Ini adalah salah satu tantangan yang harus saya hadapi saat lulus kuliah dari Jurusan Seni Karawitan. Ketika sebagian besar masyarakat telah melupakan kesenian tradisi nenek moyangnya dan generasi muda lebih gandrung dengan musik barat, justru saya malah dituntut untuk mencari penghidupan dari seni karawitan. Akhirnya saya berpikir bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan diri generasi muda terhadap seni tradisi leluhur yang adiluhung tersebut.

Hal pertama yang saya lakukan adalah merambah seluruh sekolah di Kabupaten Kuningan sebagai honorer guru kesenian dan mendatangi sejumlah komunitas serta penggiat seni untuk sekadar ingin mengetahui keberadaan kesenian, terutama seni Sunda di sana. Saya hanya mengajar beberapa pekan di salah satu sekolah, kemudian keluar dan melamar ke sekolah lain dan seterusnya hingga menjangkau hampir semua sekolah di Kabupaten Kuningan. Sebenarnya ada perasaan berdosa kepada sekolah-sekolah yang pernah saya masuki karena sejak awal saya tidak berniat serius sebagai tenaga pengajar, tetapi hanya ingin tahu seperti apa penerapan pendidikan kesenian, terutama seni Sunda di sekolah.

Apahasilpengamaatantersebut?

Dari pengalaman mengajar singkat tersebut, saya menemukan masih banyak sekolah yang mengabaikan keberadaan seni tradisional sebagai salah satu materi dalam pelajaran kesenian. Minat pelajar untuk mendalami kesenian Sunda pun dirasakan sangat rendah. Kalaupun ada yang berminat, terkendala keterbatasan sarana dan tenaga pengajar yang mumpuni.

Hal tersebut memicu saya untuk semakin mendalami dunia seni, terutama karawitan, dan semakin termotivasi untuk melatih generasi muda Kuningan berkesenian Sunda. Kemudian, saya melanjutkan kuliah ke STSI Denpasar mengambil Jurusan Karawitan juga. Setelah lulus, saya kembali ke Kuningan dan membuka Sanggar Eksperimentasi Karawitan D’n’R di rumah.

Apa alasan Anda memberi nama Sanggar D’n’R?

Selain sebagai inisial nama saya sendiri, D’n’R merupakan kepanjangan dari Degung dan Rampak Kendang. Di sanggar ini, saya hanya mengajarkan kesenian degung dan rampak kendang. Namun seiring perjalanan waktu, akhirnya kegiatan sanggar berkembang dan banyak mengembangkan kesenian Sunda lain, seperti angklung hingga seni tari.

Karya seni apa saja yang telah Anda ciptakan?

Beberapa di antaranya merupakan hasil eksplorasi kebudayaan asli masyarakat Kuningan, seperti Tari Cingcowong, Logay Sintren, Nalapraja, dan banyak komposisi musik gamelan Sunda.

Ceritakan tentang kesenian tersebut!

Awalnya Cingcowong hanyalah tradisi masyarakat yang berada di wilayah timur Kabupaten Kuningan sebagai ritual untuk memanggil hujan. Namun, saya berpikir untuk mengembangkan tradisi masyarakat Kuningan tersebut tidak sebatas ritual, tetapi menjadi tontonan yang menghibur. Akhirnya diciptakan gerakan tari dengan iringan musik gamelan sehingga tercipta Tari Cingcowong yang hanya ada satu di dunia.

Sedangkan, Tari Logay Sintren hampir sama dengan beberapa kesenian sintren di daerah pantura. Namun, saya menambahkan gerak tari dan iringan musik yang lebih atraktif sehingga saat ditampilkan sangat meriah. Sesuai namanya, Logay yang merupakan singkatan dalam bahasa Sunda, yaitu loba gaya alias banyak gaya, gerakan tari yang ditampilkan pun sangat energik dan centil.

Sedangkan Tari Nalapraja adalah tarian yang diciptakan untuk membuka deklarasi kerja sama delapan daerah perbatasan yang lebih dikenal dengan sebutan Kuningan Summit. Tarian tersebut menceritakan keharmonisan hubungan delapan kota/kabupaten yang tergabung dalam kerja sama tersebut.

Di mana saja kesenian tersebut pernah ditampilkan ?

Sebagian besar awalnya tarian tersebut diciptakan untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah dan dilombakan. Namun, ternyata responsnya cukup baik sehingga akhirnya tarian tersebut banyak dipentaskan di beberapa event kebudayaan, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Setidaknya cukup membanggakan bagi Kabupaten Kuningan sekaligus menambah perbendaharaan kesenian khas Kuningan.

Yang membanggakan adalah pertunjukan tari kolosal yang dibawakan 1.500 penari pada pembukaan acara Gebyar Budaya Nusantara 2003 di Open Space Galeri Linggarjati dan Tari Nalapraja pada 2011 karena disaksikan delapan kepala daerah perbatasan, Gubernur Jabar, dan beberapa menteri.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan industri kesenian Sunda di Kabupaten Kuningan?

Saya merasa prihatin dengan kondisi kesenian Sunda di Kabupaten Kuningan. Hanya sedikit seniman yang masih eksis dan mau berkarya mengembangkan seni tradisional. Bisa dibilang, jumlah seniman penggarap bisa dihitung jari. Sebagian besar adalah seniman pentas yang hanya mengejar sisi komersial tanpa berusaha mengembangkan kebudayaan Sunda.

Apa cita-cita Anda yang ingin segera terwujud?

Saya ingin punya alat gamelan Sunda di sanggar yang lengkap agar bisa maksimal mengajarkan kesenian kepada anak-anak. Saya juga ingin membentuk grup seni karawitan yang personelnya khusus para PNS.

Popular content