• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Penjualan Menurun, PGN Bidik UKM

SURABAYA– PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk area Jawa Timur (Jatim) mengalami penurunan permintaan. Ini menyusul adanya sejumlah pelanggan yang mulai berpindah menggunakan sumber energi lainnya seperti listrik dan batubara.

Dari total pasokan sebanyak 170 million british thermal unit (mmbtu) per hari, perusahaan gas pelat merah itu hanya mampu menjual 134 mmbtu per hari. General Manager PT PGN (Persero) Tbk, Wahyudi Agustinus menyatakan, penurunan permintaan ini sudah mulai terasa sejak tahun 2012.

Namun di tahun ini, penurunannya cukup besar karena harga energi lain, seperti listrik dan batu bara dianggap pelaku usaha lebih murah. Jika dibanding pertengahan 2011 lalu, penjualan gas saat ini turun sekitar 10%. "Harga energi listrik untuk pelanggan kategori I-4 misalnya, saat ini mencapai Rp729 per kwh. Harga batu bara Rp720 per kilogram dengan nilai kalori 5.000 hingga 6.000, padahal sebelumnya sekitar Rp940 per kilogram," terangnya.

 Sedangkan harga gas di PGN, lanjut dia, untuk pelanggan industri mencapai USD6,43 per mmbtu plus service charge Rp750 hingga Rp850 per meter kubik. Dengan adanya selisih tersebut, tidak mengherankan jika banyak industri yang akhirnya bermigrasi dengan menggunakan energi listrik dan batu bara.

"Berpindah ke energi yang lebih murah ini sebagai langkah efisiensi industri dalam menekan biaya produksi. Upaya ini dianggap paling efektif dan efisien karena tidak mengurangi volume dan kualitas produk yang dihasilkan," terangnya. Wahyudi mengungkapkan, dari 360pelangganPGNdiJatim, yang beralih menggunakan listrik dan batubara sekitar 7% hingga 8%. Sedangkan yang beralih ke energi lain seperti cangkang kelapa sawit mencapai 3%. Dengan pasokan gas PGN untuk wilayahJatimyangmencapai170 mmbtu per hari, ada sisa 20% karena tidak terjual.

Namun, PGN tetap harus membelinya karena sudah merupakan ketentuan kontrakdenganpihakkontraktor kontrak kerjasama (K3S). "Gas yang tidak terjual kami simpan. Jadi tidak hilang," urainya. Penurunan permintaan gas juga diperkirakan akibat banyaknya industri yang mengurangi produksi akibat krisis berkepanjangan. Diantaranya industri manufaktur. Justru permintaan gas untuk industri makanan dan minuman mengalami kenaikan.

Tahun ini, industri yang menjadi pelanggan baru di PGN mayoritas industri kecil menengah. Sehingga, permintaannya cukup kecil. "Tahun ini kami menargetkan sebanyak 50 pelanggan baru. Per Juli, sudah terpenuhi 25 pelanggan," tutur Wahyudi.

Data Badan Pusat Statistik( BPS) Jatim menunjukkan, produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II/ 2013 tumbuh 8,97% dibandingkan triwulan sebelumnya. Kenaikan produksi industri manufaktur ini didorong kenaikan industri kertas dan barang dari kertas sekitar 19,72%. Disusul naiknya industri pengolahan tembakau 13,98%,industri pakaian jadi naik 13,86%, industri peralatan listrik naik 11,80% dan industri minuman naik 11,76%.

"Kenaikan pertumbuhan produksi pada jenis industri tersebut untuk memenuhi konsumsi masyarakat yang meningkat pada saat Ramadan hingga Lebaran," ujar Kepala BPS Jatim, M Sairi Hasbullah. ●lukman hakim

Popular content