• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Setelah Kedelai, Giliran Harga Terigu Naik

YOGYAKARTA– Melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (USD) mulai mengerek bahan pangan yang selama ini didatangkan dari luar negeri.

Selain harga kedelai yang naik, harga tepung terigu juga ikut melonjak. Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) DIY, Eni Rosilawati kemarin mengatakan, harga kedelai impordibeberapatradisionalmengalami kenaikan signifikan. Sebelumnya harga bertahan di angka Rp7.200 per kilogram. Sedangkan saat ini kedelai impor sudah harus ditebus seharga Rp8.500.

Bahkan sudah ada yang harganya hampir Rp10.000 per kilogram. Penguatan nilai tukar USD juga menyebabkan kenaikan sejumlah komoditas impor. Salah satunya tepung terigu yang saat ini sudah mencapai Rp7.800 per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp7.300 per kilogram. Bahkan di beberapa tempat harga jual tepung sudah mencapai Rp8.000. Merespons kenaikan harga kedelai, Pemda DIY akan membentuk Tim Stabilisasi Harga Kedelai (SHK). Pembentukannya atas perintah Peraturan Presiden No 08/2013 yang baru saja dikeluarkan.

Kebijakan tersebut untuk membantu menekan harga kedelai impor yang harganya sudah Rp9.800 per kilogram. Harga tersebut merupakan hasil pantauan Disperindagkop di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta. “Peraturan tersebut juga menegaskan, bahwa kewenangan impor dan pendistribusian kedelai sepenuhnya ditangani Badan Urusan Logistik (Bulog). Kami (Pemda DIY) diminta sosialisasi Tim SHK dengan membentuk tim pemantuan di daerah atau memanfaatkan tim pengendalian yang sudah ada,” ucap Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop DIY, Eko Witoyo.

 Tahapan sosialisasi saat ini sedang berlangsung. Kabupaten- kota iminta melakukan pemantauan fluktuasi harga kedelai. Hasil dari pemantauan, imbuh dia, diminta dilaporkan secara rutin. Dari analisa sementara, kata Eko, kenaikan harga kedelai impor lebih diakibatkan oleh menguatnya nilai USD. Hasil pantauan Disperindagkop, nilai tukar USD terhadap rupiah sempat menyentuh Rp11.200. Sementara itu, salah satu perajin tempe di Jalan Palagan, Tentara Pelajar KM 10, Hani Wicaksono mengatakan, kenaikan bahan baku produksi tempe sudah dimulai beberapa pekan lalu.

Kenaikan harga berlangsung secara bertahap, mulai dari Rp8.000 dan akhirnya sekarang Rp9.500 per kilogram. “Pengurangan hingga 25 persen dari ukuran sebelumnya harus dilakkan.Yakni, tempe dengan ukuran 12x10 cm menjadi 10x10 cm. Beratnya pun menjadi 1,2 ons per bungkus dari sebelumnya 1,5 ons,” katanya kemarin.

Untuk produksi, kata dia, saat ini menggunakan kedelai kualitas kelas II dari yang sebelumnya memakai kelas I. Bahan baku tersebut didapat dari agen yang menyediakan kedelai impor. Pembelian impor disebabkan produksi kedelai dari petani hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Sleman dan Kota Yogyakarta.

“Setiap hari mengolah kedelai 1,5 kwintal. Jumlah tersebut menghasilkan tempe sebanyak 1.000 bungkus.” Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Edy Sriharmanto menjelaskan, luas tanah yang digarap petani untuk menanam kedelai di kabupaten ini seluas 500 hektare. Tapi karena gangguan cuaca, para petani beralih ke tanaman lainnya.

“Kita tahun ini menargetkan 500 hektare. Namun, angka tersebut tidak terpenuhi dan hanya seluas 70 hektare saja yang berhasil dipanen. Itu pun panennya tidak terlalu bagus kualitasnya,” beber Edy. Menurut dia, petani akan memulai penanaman kedelai lagi pada 2014. Sebab, tahun ini musim tanamnya sudah habis, yakni hanya di Bulan Mei dan Juni saja. “Hanya di Prambanan, tanaman kedelai ini (ditanam),” ucapnya. ● maha deva/ ridho hidayat

Popular content