Edisi 26-09-2017
Berinvestasi di 1.000 Perusahaan Teknologi


PENDIRI SoftBank, Masayoshi Son, bukan hanya pria terkaya di Jepang, melainkan juga investor terbesar di bidang teknologi dan menjadi penentu perkembangan komputer pada masa mendatang.

Pengambilan keputusan di perusahaan Jepang biasanya konservatif. Namun, di tangan Masayoshi Son, SoftBank menjadi perusahaan investasi yang bergerak sangat cepat, aktif mencari startup (perusahaan perintis di bidang teknologi) yang menjanjikan, dan menaruh sahamnya di sana. Tidak hanya puluhan atau ratusan miliar rupiah, tapi juga puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Begitu aktifnya, sampai-sampai SoftBank disebut telah berinvestasi pada 1.000 perusahaan, menjadikan Masayoshi sebagai salah satu investor terbesar di bidang teknologi.

Ke ti ka disrupsi layanan dari startup terus “mengganggu” perusahaanperusahaan yang sudah mapan, maka investasi di riset dan pengembangan (R&D) ditambah atau malah melakukan akuisisi. Yang dilakukan SoftBank adalah keduanya. Bisnis inti SoftBank adalah telekomunikasi. Perusahaan tersebut memiliki saham terbesar di operator seluler Amerika yang sebelumnya nyaris bangkrut, Sprint.

Namun, SoftBank juga sangat populer sebagai perusahaan asal Jepang yang menghimpun dan melakukan investasi secara masif. Mereka mengakuisisi produsen chip dunia ARM senilai USD32 juta, menanamkan uang sebesar USD4 miliar di perusahaan chip Nvidia, dan baru saja mendanai perusahaan e-commerce India Flipkart senilai USD2,5 miliar. Khusus pendanaan terakhir itu, dihimpun dari Vision Fund, yakni perusahaan penghimpun dana yang luar biasa besar. Investor mereka termasuk Saudi Arabia, Apple, Foxconn, Qualcomm, dan Sharp.

Pada Mei 2017, jumlah kapital yang dihimpun Vision Fund mencapai USD93 miliar dan diharapkan tembus USD100 miliar pada akhir tahun. Vision Fund sendiri terpisah dengan SoftBank. Langkah mengakuisisi operator seluler Sprint senilai USD36 miliar pada 2012 dan 2013 murni keputusan Masa - yoshi. Termasuk, saat dia menjadi investor awal dari Yahoo dan Alibaba ketika valuasi keduanya masih dibawa USD100 juta. Seberapa aktif Masayoshi berinvestasi bisa dilihat dari data berikut. Selama 2012 hingga Agustus 2017, SoftBank dan Vision Fund telah melakukan 383 investasi dengan nilai sebesar USD125,76 miliar.

Semua investasi itu hanya dua kategori, yaitu perusahaan berteknologi cutting edge terkini atau perusahaan yang sudah di posisi puncak atau kedua di bidangnya. “Mereka (SoftBank) secara konsisten berinvestasi di pemimpin pasar, yakni perusahaan global yang memiliki ide dan layanan baru, yang ternyata terbukti sukses pula di negara-negara berkembang. Sebaliknya, mereka juga sangat tertarik dengan perusahaan lokal nomor satu di emerging market ,” ujar Hans Tung, Managing Partner GGV Capital. Contohnya di perusahaan transportasi online atau ride hailing , SoftBank sudah berinvestasi di Grab yang menjadi nomor satu di Asia.

Namun, mereka tetap menyuntikkan dana ke pemain lokal India, Ola. Bahkan, belum lama ini SoftBank menyatakan masih tertarik untuk menaruh uang mereka di perusahaan seperti Uber atau Lyft yang sangat populer di Amerika. Di China, strategi mereka sedikit berbeda. SoftBank berinvestasi ke perusahaan ride hailing terbesar kedua Tiongkok, Kuaidi Dache. Lalu, melakukan merger dengan Didi Dache yang meng - hasilkan perusahaan baru, Didi Chuxing. Adapun di bidang telekomunikasi, baik di Jepang maupun Amerika, SoftBank tidak menganggap bisnis mereka adalah telekomunikasi.

“Yang mereka lakukan adalah menjaga cash flow perusahaan tetap aman. Jika kemudian nanti nilai perusahaan telekomunikasi melonjak, bukan tidak mungkin SoftBank akan menjual bisnis mereka,” ujar Kirk Boodry, analis dari New Street Research.

Investasi untuk Masa Depan

Masayoshi mendirikan SoftBank pada 1980-an dengan visi besar, yakni membuat SoftBank menjadi perusahaan yang memegang peranan besar terhadap perkembangan teknologi dunia. Pada usia 19 tahun, bahkan Masayoshi sudah merencanakan ambisi dan pencapaian yang harus dia lakukan hingga 50 tahun ke depan, termasuk membangun SoftBank sebagai perusahaan raksasa seperti sekarang. Bahkan, Masayoshi sudah menciptakan rencana 300 tahun agar SoftBank terus tumbuh sebagai perusahaan.

Pada 2010, misalnya, Masayoshi memaparkan rencana bisnis SoftBank dalam 30 tahun ke depan, yang termasuk di dalamnya “revolusi informasi” serta mendorong perkembangan sains seperti meningkatkan harapan hidup manusia hingga 200 tahun. Rencana-rencana itu memang luar biasa. Kalaupun tidak semuanya dicapai SoftBank, kemungkinan akan dicapai perusahaan-perusahaan yang mereka suntikkan dana. Itulah mengapa SoftBank memilih berinvestasi di perusahaanperusahaan dengan layanan teknologi terdepan, mulai internet of things, artificial intelligence, hingga deep learning .

Di bidang robotik, misalnya, SoftBank menciptakan Pepper, yakni robot yang mampu membaca emosi dan berinteraksi dengan manusia. Robot tersebut sedang disiapkan untuk dipasarkan secara global dengan bantuan Alibaba dan Foxconn. Pada Juli 2017, SoftBank menjadi bagian dari konsorsium perusahaan yang berinvestasi sebesar USD159 juta ke startup automotif asal Amerika, Nauto. Perusahaan tersebut menciptakan kamera yang dapat melacak sikap pengendara secara real time dan langsung tahu jika pengemudi lelah atau terdistraksi.

Didi Chuxing pun tidak sekadar fokus di ride hailing , tetapi saat ini juga sedang mengembangkan artificial intelligence di bidang keamanan dan teknologi berkendara otonom di laboratorium riset mereka di Silicon Valley. Semua yang dicapai Masayoshi saat ini tidak terlepas dari kerja keras dan ke - uletannya. Pada era 2000-an ketika meledaknya bisnis dotcop , dia pernah kehilangan USD70 miliar atau 99% dari kekayaannya dalam satu hari.

Danang arradian