Edisi 26-09-2017
Skytrain, Primadona Percepat Aksesibilitas Penumpang


TANGERANG– Pengguna jasa transportasi udara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, kian dimanjakan dengan hadirnya kereta canggih tanpa awak atau Skytrain.

Dengan kereta listrik ini, aksesibilitas dari dan menuju terminal di Bandara Soetta menjadi semakin cepat. Cukup lima menit, penumpang maskapai bisa berpindah dari satu terminal ke terminal lain. K ehadiran Skytrain membuat Bandara Soetta sejajar dengan Bandara Changi di Singapura dan Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) yang lebih dulu mengoperasikan Skytrain. Sejak resmi beroperasi pada Minggu (17/9), Skytrain langsung menjadi primadona di bandara paling sibuk di Indonesia. Dalam sehari, penumpangnya mencapai ratusan orang.

Angka ini akan terus bertambah karena Skytrain masih belum dioperasikan secara penuh. Karena itu, operasionalnya masih menggunakan masinis dan pembangunan shelter -nya dalam tahap penyelesaian. Skytrain juga baru melayani perpindahan penumpang maskapai dari Terminal 2 ke Terminal 3 dan sebaliknya. Untuk ke Terminal 1 masih belum tersedia, dan dalam tahap pembangunan shelter. Satu unit Skytrain terdiri atas dua gerbong dengan total kursi sebanyak enam buah. Jadi, masing-masing gerbong hanya memiliki tiga kursi.

Satu bagi penumpang umum dan dua bagi penumpang khusus. Satu kursi panjang bagi penumpang umum bisa diduduki lima orang dewasa, sedangkan satu kursi pendek penumpang khusus, seperti ibu hamil dan lansia, yang bisa diduduki tiga penumpang dewasa. Total penumpang yang bisa duduk di kursi seluruhnya hanya 22 orang. Sisanya terpaksa harus berdiri. Pada atap Skytrain juga tersedia gantungan pegangan dan tiang-tiang besi kecil penahan guncangan. Secara umum, pelayanan Automated People Mover System (APMS) ini hampir sama seperti Kereta Rel Listrik (KRL).

Bedanya, kereta ini khusus melayani para pengunjung dan penumpang maskapai. Sridanarto, 62, salah seorang penumpang tujuan Yogyakarta-Jakarta, mengaku sengaja naik maskapai Garuda Indonesia agar bisa menjajal Skytrain dari Terminal 3 menuju ke Terminal 2 Bandara Soetta. Dia mengaku tidak sabar ingin menguji coba layanan gratis di Bandara Soetta itu. Bersama istrinya, mereka naik Skytrain dari Terminal 3 ke Terminal 2. Selama naik Skytrain, Sridanarto terus berfoto. “Ini pengalaman baru buat saya. Lebih keren dari KRL, goyangannya tidak terasa dan sangat halus. Ini menjadi bagian wisata baru di Bandara Soetta,” ujar Sridanarto di atas Skytrain kepada KORAN SINDO kemarin.

Cara naiknya pun sangat mudah, tidak perlu antre. Dari Terminal 3, shelter Skytrain ada di lantai 1. Penunjuk arah ke arah shelter juga cukup banyak sehingga memudahkan pengunjung untuk naik. “Saya sengaja naik Garuda Indonesia dari Yogya ke Jakarta hanya untuk naik Skytrain ini. Rasanya seperti berada di luar negeri. Dari dalam Skytrain ini, kita bisa melihat pemandangan Soetta,” ungkapnya. Saat KORAN SINDO menjajal kereta listrik canggih ini, penumpang tidak terlalu banyak. Namun, kursi yang disediakan telah penuh hingga banyak penumpang terpaksa berdiri di pinggir jendela. Tidak sedikit, para penumpang itu berfoto selfie di atas Skytrain.

Beberapa tampak membawa barang bawaannya, seperti tas dan koper. Mereka terlihat sangat antusias dengan moda transportasi itu. Farhan, penumpang Skytrain lainnya, mengaku sangat senang naik kereta listrik canggih tersebut. Selain masih baru, kereta itu juga yang pertama di Indonesia. Dia mengaku bangga naik Skytrain. “Senang sekali bisa naik Skytrain. Rasanya seperti di luar negeri saja. Pemandangan dari dalam sini juga bagus. Kita bisa melihat keindahan Bandara Soetta yang masih hijau,” kata pria asal Pamulang ini.

Dengan Skytrain ini, Farhan mengaku sangat terbantu dalam berpindah terminal, apalagi jarak tempuhnya juga sangat singkat sehingga sangat bisa diandalkan ketimbang naik bus yang cukup lama. Junita Sianturi, 24, costumer service Skytrain menambahkan, jam operasional pertama Skytrain ini tidak 24 jam. Jadwalnya dibagi ke dalam beberapa sesi, mulai pagi sampai malam hari. Pagi hari dimulai pukul 07.00-09.00 WIB dan siang hari pukul 12.00-14.00 WIB kemudian sore hari pukul 17.00-19.00 WIB. Bagi penumpang yang ingin melihat jadwal keberangkatan Skytrain, ada di shelter. “Kalau dari pagi sepi, yang ramai itu saat menjelang sore sampai yang terakhir. Kalau sore biasanya sampai penuh. Kalau pagi ke siang agak sepi. Responsnya bagus, ratarata penumpang senang,” ujarnya.

Saat ini waktu tunggu Skytrain juga makin cepat, dari yang pertama 15 menit sekarang menjadi per 5 menit sekali. Perbaikan ini akan terus meningkat saat Skytrain resmi beroperasi 24 jam penuh. “Untuk pengoperasian tahap awal ini, masih banyak yang dilakukan manual. Petugas di dalam ada 1 orang dan masinis 2 orang. Masinis akan didampingi seorang announcer di dalam Skytrain,” ujarnya. Di masing-masing gerbong Skytrain juga terdapat penjaga keamanan. Sekali jalan keamanan yang masuk berjaga mencapai dua sampai tiga orang.

Mereka berdiri ada di tengah para penumpang. Saat penumpang penuh keberadaan para pegawai keamanan yang cukup banyak ini membuat kereta semakin sesak. Alhasil, jumlah penumpang yang ada dibatasi demi petugas keamanan kereta itu.

Hasan kurniawan