Edisi 23-09-2015
Pentingnya MP-ASI Untuk Bayi


Masa1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak anak berada dalam kandungan hingga dua tahun merupakan periode emas yang memengaruhi tumbuh kembang dan kesehatan anak. Pemenuhan gizi seimbang menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua.

Saat ini, Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi ganda, yakni kekurangan dan kelebihan gizi yang terjadi di semua kelompok umur dan jenis kelamin. Menurut Riskesdas 2013, pada balita prevalensi gizi kurang tahun 2013 adalah 19,6%, meningkat dari 2010 (17,9%) dan 2007 (18,4%). Sementara prevalensi anak balita pendek (stunting) pada 2013 adalah 37,2% yang berarti terjadi peningkatan dari 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%).

ASI merupakan makanan yang paling baik karena kandungan gizinya sudah lengkap untuk bayi di bawah enam bulan. Namun setelah usia enam bulan, kandungan energi, protein, dan mikronutrien seperti zat besi, seng, kalsium, fosfor, magnesium, dan vitamin A dalam ASI sudah menurun.

“Oleh sebab itu, bayi memerlukan makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk melengkapi zat gizi yang kurang tersebut. Jika kebutuhan gizinya terpenuhi, anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal,” kata Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM DR Dr Damayanti Sjarif SpA (K) dalam acara Pertemuan Ilmiah Tahunan CIPRIME Current Issue in Pediatric Nutrition & Metabolic Problem, di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dr Damayanti dalam menyiapkan MP-ASI seorang ibu perlu memperhatikan kandungan gizi dari bahan yang digunakan serta memahami cara pengolahan yang benar dan aman. Dia mengatakan, penelitian menunjukkan, saat awal pemberian makanan padat, jumlah zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh bayi per harinya sulit terpenuhi oleh MP-ASI rumahan karena jumlahnya terlalu banyak untuk dikonsumsi oleh bayi.

Damayanti mencontohkan, untuk memenuhi kebutuhan 11 mg zat besi seharinya, seorang bayi harus mengonsumsi sekitar 360 gram daging sapi cincang. Oleh sebab itu, diperlukan teknik pengolahan pangan yang memungkinkan daging sapi sejumlah tersebut dapat dikonsumsi oleh bayi dengan aman. “MP-ASI fortifikasi adalah salah satu solusi yang diajukan oleh para ahli nutrisi,” ujar dr Damayanti.

Dia menilai, penggunaan MP-ASI fortifikasi berdampingan dengan MP-ASI rumahan yang mengacu pada makanan keluarga akan sangat menguntungkan karena bayi diperkenalkan budayanya melalui MP-ASI rumahan sedangkan kecukupan zat gizinya terpenuhi oleh MP-ASI fortifikasi.

“Saya rasa yang paling penting adalah menyosialisasikan MP-ASI fortifikasi itu tidak berpengawet. Anak punya waktu berkembang sangat pendek yang ditentukan oleh makanan, mikronutrien, dan zat besi itu sangat penting sekali untuk pertumbuhan otak. MP-ASI fortifikasi bisa menunjang anak, bisa sambil menunggu anak untuk bisa makan makanan rumahan,” papar dr Damayanti.

Saat ini banyak ibu yang ragu menggunakan MP-ASI fortifikasi karena persepsi adanya bahan pengawet, penggunaan bahan-bahan artifiliasi, hingga kandungan nutrisinya. Studi dari Baby Food U&A oleh TNS menunjukkan 1 dari 2 ibu tidak menggunakan MP-ASI fortifikasi disebabkan oleh alasan tersebut. Kekhawatiran ini muncul karena masih banyak ibu yang belum mengetahui teknologi pengolahan pangan yang berkembang saat ini.

Menurut Ahli Teknologi Pangan Departemen Ilmu & Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB Prof Sugiyono, banyak cara untuk memproses pangan tanpa mengurangi kandungan gizinya, salah satunya teknik pengeringan.

“Pengeringan merupakan salah satu metode memperpanjang masa simpan makanan dengan mengeluarkan air dari makanan. Tujuan pengeringan untuk mengurangi kadar air bahan sampai batas perkembangan organisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau bakteri terhenti sama sekali. Dengan demikian, bahan yang dikeringkan mempunyai waktu simpan lebih lama, tanpa harus menambahkan bahan pengawet artifisial ke dalam makanan,” ujarnya.

Prof Sugiyono mengatakan, jika ada makanan bayi yang tidak habis, sebaiknya dimasukkan ke dalam kulkas karena pada suhu ruang mikroba itu berkembang.

“Makanan kita sebenarnya tidak ada yang steril. Kalau makanan bayi dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam itu berisiko. Kalau kita menyiapkan makanan dan akan dimakan lebih dari sekali, jaraknya lebih dari dua jam sebaiknya masukkan kulkas. Dengan suhu rendah, kerusakan kandungan gizi itu minimal,” paparnya.

iman firmansyah