Edisi 23-09-2015
Tepat Tangani Luka Bakar


Kemajuan teknologi memang memudahkan kehidupan, tapi juga dapat menimbulkan bahaya. Ada potensi cedera luka bakar yang mengintai di balik pemakaian alatalat teknologi.

Sementara cedera luka bakar dapat menyebabkan kerugian, yang bila tidak ditangani dengan benar, menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan. Langkah pertama yang perlu dilakukan, yaitu mendeteksi sumbersumber cedera luka bakar dan lokasilokasi rawan kecelakaan luka bakar.

Berdasarkan data yang ada, api dan aliran listrik terutama yang bertegangan tinggi merupakan dua penyebab utama kecelakaan luka bakar. Selain itu, luka bakar juga dapat disebabkan oleh air atau minyak panas, bahan kimia, atau bahkan suhu dingin yang ekstrem (frostbite).

Untuk itu, selalu perhatikan sekitar Anda, aliran listrik saat menggunakan gawai, keamanan gas LPG di dapur, kondisi kabel-kabel dan selang bensin di mobil, bahanbahan kimia yang ada di rumah, dan masih banyak lagi.

“Ingatlah bahwa luka bakar tidak memandang jenis kelamin dan usia, siapa pun dapat mengalami cedera luka bakar,” ujar Dr dr I Nyoman Putu Riasa SpBP-RE [K], Ketua Perhimpunan Luka Bakar dan Penyembuhan Luka Indonesia (Indonesian Burn and Wound Healing Society/Ina-BWS), Past President Asia Pacific Burn Association (APBA), dan President The 10th Asia Pacific Burn Congress 2015 dalam rilis yang KORAN SINDO terima.

Luka bakar sebaiknya tidak ditangani sendiri untuk mendapatkan penyembuhan yang optimal. Lakukan pertolongan pertama di tempat kejadian dengan mengaliri luka bakar dengan air keran selama 10 menit sejak kejadian, untuk mengurangi kedalaman luka. Jangan oleskan bahan apa pun kepada luka bakar.

“Berikan minuman yang ditambahkan lima gram tablet garam atau cairan oralit untuk mencegah dehidrasi, lalu segera larikan korban ke rumah sakit atau burn unit untuk dilakukan penilaian kedalaman dan luas luka bakar,” kata Dr dr I Nyoman Riasa.

Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI) berupaya untuk terus melakukan edukasi kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait perawatan luka bakar di Indonesia. Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik sangat dekat kaitannya dengan luka bakar karena mereka yang melakukan tata laksana pengobatan luka bakar agar kualitas hidup pasien dapat terjaga.

Selain pencegahan dan pengobatan luka bakar, masyarakat juga kerap tidak menyadari bahwa bekas luka bakar juga perlu mendapatkan perawatan. Tidak jarang seseorang yang menderita luka bakar menjadi kehilangan kepercayaan diri karena memiliki bekas luka bakar yang terlihat jelas di tubuhnya.

Turunnya kepercayaan diri karena bekas luka bakar tentu dapat mengganggu pasien dalam karier, kehidupan sosial, bahkan kehidupan pribadi pasien. Padahal, semakin cepat bekas luka bakar ditangani dengan terapi yang tepat, semakin besar pula kemungkinan bekas luka bakar dapat disamarkan secara sempurna.

“Pada zaman modern ini, bukan hanya gawai yang terus dikembangkan. Perawatan luka bakar juga semakin holistik, para ahli memikirkan mulai dari pencegahan, pengobatan, hingga perawatan bekas luka bakar. Semua dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat luas,” ungkap Irvani Risyda, Brand Manager PT Transfarma Medica Indah.

Saat ini, perawatan bekas luka bakar yang dianggap paling efektif oleh para ahli kesehatan adalah dengan menggunakan silikon gel. Terapi tersebut dianggap relatif aman, tepat sasaran, mudah diperoleh dan digunakan, serta lebih ekonomis dibandingkan terapi lainnya, seperti laser, operasi, atau injeksi.

novi/iman