Edisi 23-09-2015
Minimnya Kecerdasan Emosional Anak


KASUS tewasnya pelajar SD beberapa waktu lalu, makin menegaskan minimnya kecerdasan emosional (EQ) yang dimiliki anak-anak. Pihak pendidik dan orang tua hanya berfokus pada kecerdasan kognitif semata. Padahal, EQ turut berperan dalam kesuksesan anak di masa depan.

Dunia pendidikan tercoreng menyusul kasus tewasnya pelajar kelas dua SDN 07 Pagi Kebayoran Lama Utara oleh teman sekelasnya sendiri, belum lama ini. Sebelumnya diketahui R, sang pelaku, saling ejek dengan korban A yang akhirnya berujung pada perkelahian. A terluka parah di bagian kepala dan tak sadarkan diri. Sempat dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RS Fatmawati, tapi nyawa A tetap tidak tertolong.

Menanggapi hal ini, psikolog Dr Rose Mini M Psi mengatakan, kejadian tersebut bisa terjadi lantaran anak tidak memiliki kecerdasan emosional yang matang. “Sehingga ketika anak di-bully (diejek), dia langsung bersikap frontal tidak bisa mengontrol emosinya. Sebab, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan emosinya. Pikiran pendeknya cara terbaik adalah dengan cara memukul. Walau sebenarnya dia tidak tahu cara agresif semacam itu bisa menyakiti orang lain,” kata psikolog yang akrab disapa Bunda Romi ketika dihubungi KORAN SINDO lewat ponselnya.

Pemilik ESSA Coonsulting yang bergerak di bidang pelayanan psikologi organisasi dan pendidikan itu mengatakan, masalahnya orang tua hingga saat ini masih berpatokan pada nilai akademis sebagai satu-satunya penentu kesuksesan sang anak di masa mendatang. Jadi, nilai-nilai emosional tidak diasah dan hanya dipandang sebelah mata.

“Akibatnya apa? Anak jika menemui kesulitan mudah menyerah. Barangbarangnya dibanting dan sebagainya. Jika putus asa dikitdikit ingin bunuh diri. Dia tidak tahu bagaimana mengontrol emosinya,” kata pendiri sekolah Taman Kreativitas Anak Indonesia ini. Padahal, kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (emotional quotient ) tak kalah pentingnya dengan kecerdasan kognitif.

Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan, kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Sejatinya kecerdasan bentuk ini adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Howard Gardner menjabarkan lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri. Kemampuan mengenali emosi diri misalnya, anak kenal perasaannya sendiri sewaktu emosi itu muncul.

Seseorang yang mampu mengenali emosinya akan memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan yang muncul, seperti senang, bahagia, sedih, marah, benci, dan sebagainya. Sementara kemampuan mengelola emosi, yaitu ketika anak mampu mengendalikan perasaannya sehingga emosinya tidak meledak-ledak yang akibatnya memengaruhi perilakunya secara salah.

Meski sedang marah, orang yang mampu mengelola emosinya akan mengendalikan kemarahannya dengan baik, tidak teriakteriak atau bicara kasar, misalnya. Adapun kemampuan memotivasi diri, yaitu saat anak dapat memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Sri noviarni