Edisi 05-10-2015
PKS Abstain di Lima Pilkada Jawa Timur


SURABAYA – DPW PKS Jawa Timur (Jatim) memastikan abstain di Pilkada Surabaya. Keputusan politik ini diambil karena menilai Pilkada Surabaya harusnya ditunda pada 2017.

Sikap abstain ini juga diambil PKS di empat pilkada lain, yakni di Kabupaten Blitar, Gresik, Kediri, dan Pacitan. Sikap abstain tersebut adalah tidak mengarahkan kader maupun konstituen memilih calon tertentu.

Kendati demikian, PKS tidak melarang kader memilih. Mereka yang ingin menggunakan haknya ke tempat pemungutan suara (TPS) tetap dipersilakan. Ketua DPW PKS Jatim, Hamy Wahjunianto, mengatakan, pilihan politik ini diambil karena PKS tidak ikut ber-peran serta mendukung atau mengusung calon di lima daerah tersebut.

Alasan lain adalah karena ada yang kurang tepat pada penyelenggaraan tersebut, seperti di Surabaya. ”Ini berbeda dengan 13 daerah lainnya. Di sana kami terlibat mengusung atau mendukung. Sejak proses pengusungan calon hingga survei dan upaya pemenangan. Kami bahkan telah menunjuk manajer dapil atau ketua daerah dakwah di tiap-tiap cabang untuk memenangkan pasangan yang didukung partai,” ungkap Hamy.

Hamy menegaskan, pilihan politik PKS ini sudah bulat. Bahkan, dia juga memastikan pada Musyawarah Wilayah (Muswil) PKS Jatim pada 13- 14 Oktober di WTC Surabaya nanti, sikap politik tersebut tidak akan berubah. ”Besar kemungkinan tetap abstain di tiga daerah yang seharusnya pilkadanya ditunda pada 2017, yakni Surabaya, Kabupaten Blitar, dan Pacitan. Untuk Kabupaten Kediri dan Gresik, bisa saja berubah saat injury time ,” ucapnya.

Untuk Pilkada Surabaya, Hamy memiliki alasan khusus. Menurutnya Pilkada Surabaya sudah menabrak konstitusi. ”Seharusnya ditunda pada 2017. Tetapi diperpanjang sampai tiga kali dengan rekomendasi Bawaslu. Jadi, ada pasangan calon yang terkesan dipaksakan untuk maju. Karena itu kami tidak memilih incumbent Risma maupun penantangnya, Rasiyo,” ucapnya.

Sementara itu, DPD Partai Demokrat Jatim menginstruksikan kepada seluruh kadernya kompak memilih pasangan Rasiyo-Lucy Kurniasari. Mereka juga diingatkan tidak silau dengan tingginya tingkat popularitas dan elektabilitas incumbent. Sebab, bagi Partai Demokrat, popularitas maupun elektabilitas bukan jaminan seorang incumbent untuk memenangkan pertarungan.

”Tingkat popularitas calon incumbent di Pilkada surabaya memang tidak diragukan lagi. Tetapi, tidak sedikit masyarakat yang ingin perubahan. Karena itu, kami yakin peluang Rasio dan Lucy tetap besar,” ucap Bendahara DPD Partai Demokrat Jatim, Akhmad Iskandar. Keyakinan tersebut juga didasarkan atas banyaknya masyarakat yang paham atas sisi negative incumbent . Di antaranya disharmoni dengan wakil wali kota pasangannya. Saat berpasangan dengan Bambang DH misalnya, Risma bahkan ditinggal mundur. Situasi tersebut dipicu hubungan yang tidak harmonis.

”Nah , situasi ini berlanjut saat Wisnu Sakti Buana menggantikan Bambang DH. Mereka tetap tidak akur, bahkan sangat jarang berjalan bersama selama memimpin. Kalaupun sekarang mereka maju dalam Pilkada Surabaya, itu pasti karena tuntutan partai,” tuturnya.

Sisi negative incumbent itulah kata Iskadar yang bisa menjadi celah bagi Rasiyo-Lucy memenangkan pertarungan kali ini. Karena itu, pihaknya bersama seluruh elemen partai akan bekerja keras untuk mendukungnya.

Ihya’ ulumuddin



Berita Lainnya...