Edisi 05-10-2015
Kejahatan Jalanan Kian Menakutkan


MEDAN – Kota Medan dinilai kian rawan aksi kejahatan jalanan. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit saat ini dan pengaruh narkoba, tingkat kejahatan jalanan bakal terus meningkat.

Karena itu, berbagai kalangan mendesak kepolisian proaktif mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan. Korban pelaku kejahatan jalanan bukan hanya masyarakat lokal, tapi juga wisatawan. Kasus terbaru terjadi Selasa (29/9) malam lalu yang menimpa dua pelancong asal Korea Selatan, yakni Yun Hee Jo, 30; dan Min Ki Cha, 28.

Kedua turis perempuan ini dirampok di Jalan Putri Hijau, persisnya di depan sebuah hotel di kawasan itu. Tas mereka berisi ponsel, uang tunai, dan dokumen penting berhasil digasak pelaku. Beragam modus digunakan pelaku kejahatan untuk memperdayai korbannya. Mulai dari berpura-pura meminjam harta benda korban, pura-pura minta bantuan, hingga mengaku menjadi keluarga si korban.

Kriminolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Nursariani Simatupang menilai, Kota Medan memang sudah termasuk salah satu kota di Indonesia yang rawan aksi kejahatan jalanan. Hal ini tercermin dari masih maraknya pemberitaan media massa terkait aksi kejahatan. “Jika dua sampai lima surat kabar memberitakan hal yang sama setiap hari, inilah indikator Kota Medan bisa dikatakan rawan aksi kejahatan. Belum lagi berapa banyak laporan yang masuk ke kantor polisi setempat,” ujar dosen Fakultas Hukum UMSU ini, kemarin.

Memang, kata dia, aksi kejahatan jalanan pasti terjadi di negara atau kota di manapun di belahan dunia, khususnya di kota-kota besar seperti Medan. Karena itu, dia meminta kepolisian aktif berpatroli 24 jam dan razia-razia pada malam hari. Dengan demikian, ruang gerak para pelaku kejahatan semakin sempit. “Jangan beri ruang atau kesempatan pelaku untuk beraksi,” katanya.

Dia juga menyarankan masyarakat Kota Medan lebih cerdas menjaga diri. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap tindak kejahatan di mana pun berada. “Karena jangankan di jalanan, di dekat kita sendiri saja sering terjadi aksi kejahatan. Meski demikian, masyarakat tidak perlu takut berpergian pada malam hari. Waspada kejahatan perlu, tapi jangan berlebihan hingga takut keluar malam,” katanya.

Khusus kasus yang menyangkut wisatawan asing, Nursariani berpendapat perlu mendapat perhatian khusus karena hal itu juga menyangkut wajah Kota Medan. Untuk mencari solusinya, dia menyarankan kepolisian menggandeng dinas terkait atau pelaku wisata. “Bila sepanjang 2015 sudah enam kasus perampokan yang dialami oleh wisatawan asing, itu memang sangat mengkhawatirkan,” katanya. Berdasarkan catatan KORAN SINDO MEDAN , sepanjang 2015 terdapat 13 kasus curat, curas, dan curanmor yang telah diungkap Kepolisian Resor Kota (Polresta Medan). Namun, aksi kejahatan jalanan yang belum terungkap masih lebih banyak, yakni mencapai 21 kasus .

Masih tingginya aksi kriminal jalanan ini bukan hanya bisa berdampak pada kunjungan wisatawan, tapi juga merusak mental masyarakat Kota Medan, terlebih yang sudah pernah menjadi korban. Warga menjadi khawatir untuk keluar rumah, terutama pada malam hari. Warga takut menjadi sasaran empuk pelaku tindak kejahatan jalanan. Apalagi sasaran keberingasan bandit jalanan ini bukan hanya masyarakat sipil, tapi aparat keamanan juga tak luput dari incaran.

Salah satu korban aksi kejahatan jalanan di Kota Medan, Dona Ester Hutagalung, 36, mengaku masih trauma dengan kasus yang menimpanya. Meski polisi sudah meringkus pelakunya, wartawati salah satu surat kabar terbitan Medan ini masih selalu waswas jika keluar rumah. “Memang pelakunya dua orang sudah ditangkap polisi, tapi begitu pun saya saat itu merasa trauma. Saat itu saya nyaris kehilangan nyawa karena terpelanting dari atas sepeda motor. Ke depan saya minta polisi terus melakukan raziarazia dan efektifkan lagi patroli 24 jam,” kata Dona, kemarin.

Dona dirampok saat melintas di Jalan Kapten Pattimura pada 8 September lalu. Akibat perampokanitu, Donasempat dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memulihkan luka yang ia alami. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumut Solahuddin Nasution mengatakan, kejahatan jalanan yang dialami wisatawan asing sangat berdampak buruk bagi Kota Medan merupakan salah satu tujuan wisata.

Terlebih pada Septemberlalusudahada42 negara yang terbebas dari visa. Lalupada Oktoberiniterdapat 92 negara yang terbebas dari visa. “Ini artinya wisatawan asing akan terus bertambah berkunjung ke Medan. Tapi jika wisatawan asing ini terus menjadi sasaran pelaku kejahatan tentu berdampak buruk,” ucapnya.

Biasanya, kata dia, wisatawan asing yang menjadi sasaran pelaku kejahatan adalah yang berpergian seorang diri tanpa rekomendasi dari biro perjalanan. Karena itu, dia menyarankan agar wisatawan asing sebaiknya mendapatkan rekomendasi dari biro perjalanan terkait lokasilokasi yang dituju dan mana tempat harus dihindari.

“Kami memang menyarankan agar wisatawan asing ini berkeliling Medan dengan biro perjalanan biar lebih aman. Biro perjalanan akan merekomendasikan di mana-mana saja lokasi yang harus dihindari dan lokasi mana yang didatangi,” katanya. Terpisah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut Prof Asmuni menyebutkan, aksi kejahatan jalanan yang kerap terjadi di Medan mencerminkan beberapa hal di antaranya, ketidakstabilan ekonomi, pengaruh narkoba, atau aparat kepolisian kurang maksimal berpatroli.

“Faktor ekonomi adalah satu faktor mengharuskan seseorang untuk merampok. Berapa banyak orang di PHK dari pekerjaannya? Jadi, menjambret atau merampok menjadi jalan pintas bagi mereka mendapatkan uang,” kata Asmuni. Menurut dia, hal perlu mendapat perhatian adalah pelaku kejahatan jalanan ini juga melibatkan usia produktif. Artinya, pelaku masih duduk di bangku sekolah. Karena itu, perlu penanganan bersama untuk mengatasi aksi kriminal jalanan ini.

“Jika remaja ikut terlibat, ini pastinya akibat pengaruh narkoba. Ketergantungan narkoba tentu bisa berbuat apa saja, meskipun membahayakan dirinya sendiri dan akhirnya merampok demi narkoba,” ucapnya. Sementara Polresta Medan mengklaim selama ini sudah aktif menggelar patroli 24 jam di tempat-tempat yang dianggap rawan. Akan tetapi, pelaku kejahatan sepertinya lebih lihai melihat peluang.

“Patroli 24 jam sudah kami terapkan. Patroli dilakukan secara mobile menyisir lokasi-lokasi yang kami anggap rawan. Tapi yang terjadi adalah para pelaku kejahatan jalanan ini beraksi di tempat relatif aman,” kata Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto. Mantan Kapolres Mandailing Natal ini mengakui patroli anggota berseragam dinas masih kurang efektif karena pelaku cenderung menghindar.

Untuk mengantisipasi dan meminimalisasi aksi kejahatan jalanan, Mardiaz menyebutkan, Polresta Medan sudah membentuk tim anti begal dengan seragam sipil. Salah satunya agar bisa memancing pelaku atua residivis. “Cara ini mungkin bisa memancing pelaku untuk beraksi dan mengidentifikasi residivis dari persembunyiannya,” kata mantan Wakil Direktur Kriminal Umum Polda Sumut ini. Berbagai cara juga sudah dilakukan kepolisian untuk menangkal aksi kejahatan.

Salah satunya memperbolehkan warga sipil membawa senjata untuk melindungi diri. Tapi, senjata itu buka senjata tajam atau senjata api, melainkan benda tumpul seperti tongkat dan pentungan. “Kalau ada yang mepet (begal) celakai saja. Pelaku juga kebanyakan residivis sabu-sabu itu maka nekatnekat,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Helfi Assegaf

Dody ferdiansyah

Berita Lainnya...