Edisi 05-10-2015
Monumen Nienhuijs dan Urgensi Titik Nol


SAKING berpengaruhnya Jacob Nienhuijs dalam perkembangan Kota Medan, pada 1915, Gemeentebestuur Medan atau Pemerintah Kota Medan saat ini, mendirikan monumen berupa air mancur yang disebut Nienhuijs Monumen (Nienhuijs Fountain).

Monumen ini terletak di segitiga Kantor Pos, Hotel De Boer (Dharma Deli) dan de Javasche bank (Bank Indonesia) yang menjadi Titik Nol (ground zero) Kota Medan. Sebelumnya, pada waktu pembentukan Gemeente Medan 1 April 1909, nama Nienhuijs diabadikan menjadi salah satu nama jalan utama (weg ) di Medan, yaitu Nienhuijsweg yang sekarang ini diganti dengan nama Jalan Pulau Pinang.

Ini diyakini sebagai bentuk dari berpengaruhnya Nienhuijs sebagai penggerak perekonomian Kota Medan kala itu. Sayangnya, pada 2002 lalu, monumen ini berganti dengan tugu air mancur Bank Sumut. “Saya baru tahu juga nama Monumen Nienhuijs itu. Seharusnya hal seperti ini tak diabaikan sebagai bagian dari sejarah berkembangnya Kota Medan. Apalagi posisinya ada di titik nol Kota Medan,” kata anggota Komisi D DPRD Kota Medan, Ilhamsyah.

Dikutip dari Wikipedia , tugu penanda jarak di titik nol sudah digunakan sejak Kerajaan Romawi. Di Eropa pascapertengahan, jarak diukur dari titik tertentu di dalam kota karena sudah ada banyak jalan yang bernama di kota-kota. Misalnya di London, sebuah plakat dekat Eleanor Cross di Charing Cross adalah titik acu pengukuran jarak dari London ke kota-kota lain. Di sekitar titik nol Kota Medan yang juga terdapat Lapangan Merdeka, ternyata ada monumen lain yang pernah berdiri di sana, yakni Monumen Tamiang.

Sejak terjadinya Perang Tamiang, 27 Januari 1874 hingga 27 September 1896, dan memakan banyak korban dari pihak Belanda dan pejuang Tamiang, di Lapangan Merdeka didirikanlah Tamiang Monument, dimana tercantum daftar nama-nama tentara Belanda yang tewas. Tapi pada1950, Tamiang Monument di Lapangan Merdeka Medan dihancurkan.

Sejarawan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Suprayitno, membenarkan jika di Lapangan Merdeka Medan sebelum 1950-an ada Monumen Tamiang yang didirikan orang Belanda. Monumen tersebut dijadikan Belanda sebagai simbol perjuangan mereka dalam Perang Tamiang. Sebab, pada saat itu banyak tentara Belanda yang meninggal dunia. “Tugu itu didirikan Belanda sebagai penghargaan kepada tentara Belanda yang gugur pada saat Perang Tamiang.

Namun, sudah dihancurkan pada tahun 1950-an oleh Pemerintah Indonesia, dan saya sudah tidak ingat lagi di mana letak pastinya monumen tersebut,” katanya.

Fakhrur rozi/ irwan siregar

Berita Lainnya...