Edisi 05-10-2015
Menjaga Warisan Leluhur dari Klaim Negara Lain


SEMARANG - Seorang laki-laki dengan wajah bercat merah putih terlibat perkelahian dengan segerombolan orang dalam gelaran Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan Kota Semarang, kemarin.

Dengan sekuat tenaga, laki-laki itu berusaha menyelamatkan kain batik dibawanya dari rebutan orang-orang yang wajahnya bercat bendera negara lain. Aksi tarik menarik terjadi begitu hebatnya. Laki-laki yang memiliki batik tersebut terus berteriak dan tetap mempertahankan batiknya seolah tak rela direbut oleh orang lain. Dengan bantuan teman-temannya, akhirnya laki-laki tersebut berhasil mempertahankan kain batiknya dari rebutantanganasing.

Aksi tersebut merupakan gambaran dari teaterikal yang dipertunjukkan mahasiswa UKM Metafisis UIN Walisongo Semarang. Teaterikal memperingati Hari Batik Nasional itu sanggup menarik perhatian ribuan warga Kota Semarang yang sedang menikmati CFD. “Kami sengaja menggelar aksi ini di gelaran CFD untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa batik merupakan budaya asli negara kita yang harus terus kita jaga dari pengakuan bangsa lain,” kata Yazid, koordinator aksi kepada wartawan, kemarin.

Menurut Yazid, teaterikal yang disuguhkan itu menceritakan bagaimana batik Indonesia menjadi rebutan negara lain. Bahkan beberapa tahun lalu, batik sudah diklaim negara lain sebagai warisan kebudayaan mereka. “Untuk itu, masyarakat harus terus menjaga batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia dan mempertahankannya dari klaim bangsa asing itu,” ujarnya. Peserta aksi teaterikal lain, Bachtiar menambahkan, kondisi batik Indonesia saat ini terus mengalami kemajuan.

Karena sudah banyak batik Indonesia yang menjelajah ke dunia internasional. “Ini harus terus dipertahankan dengan cara pemerintah mempromosikan dan memberikan suntikan modal bagi usaha batik dalam negeri,” katanya. Selain itu, kata Bachtiar, masyarakat juga harus ikut andil mempertahankan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Sebab saat ini banyak generasi muda yang sudah tidak mengenal batik secara menyeluruh.

“Banyak generasi muda tidak lagi kenal dengan bagaimana cara membatik, jenis-jenis batik, dan sebagainya. Pemerintah juga harus menyikapi ini dengan bijak agar batik tidak hilang tertelan jaman karena generasi penerus tidak lagi bisa membatik,” katanya.

Sementara salah satu warga, Tony, mengaku sangat mengapresiasi aksi mahasiswa itu. Kegiatan yang dilakukan bagus untuk mengingatkan masyarakat terus menjaga dan melestarikan batik. “Dengan kegiatan ini kami menjadi sadar bahwa batik sebagai budaya Indonesia harus terus dijaga dan dilestarikan,” ucapnya.

Andika prabowo/mg5


Berita Lainnya...